BENARKAH IKAN GUPPY DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BIOINDIKATOR?

By WAHJU TJAHJANINGSIH On Kamis, November 07 th, 2019 · no Comments · In

BENARKAH IKAN GUPPY DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BIOINDIKATOR?

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas didunia. Kekayaan biodiversitas fauna yang dimiliki oleh Indonesia salah satunya adalah ikan air tawar yang menempati urutan ketiga setelah Brazil dan Kolombia. Sayangnya, sebagian besar ikan air tawar Indonesia belum dicatatkan di bank gen (Genbank). Untuk hal tersebut, penting bagi peneliti menyelesaikan inventarisasi dan mencatatkan kekayaan fauna Indonesia di bank gen. Faktor penyebab tingginya biodiversitas air tawar adalah habitat sungai, danau dan lahan basah yang dapat membatasi persebaran ikan air tawar melalui isolasi jarak, kondisi geografis yang menyebabkan terhambatnya aliran gen (gen flow) antar populasi. Kelompok yang mengalami isolasi secara geografis akan mengakumulasi mutasi yang berbeda, dan akumulasi yang terjadi menyebabkan perbedaan gen pool.

Ikan Guppy (Poecilia reticulata) adalah salah satu ikan air tawar tropis yang merupakan ikan asli dari Amerika Utara: Venezuela, Barbados, Trinidad, Northern Brazil and the Guyanas. Ikan ini ditemukan di setiap benua kecuali Antartika dan terus menyebar, baik melalui perdagangan hewan peliharaan atau digunakan untuk mengendalikan nyamuk malaria. Guppy ditemukan di beberapa lokasi, seperti pembuangan limbah di Moskow dan Sungai Lee di Essex Inggris . Guppy bahkan dikirim ke ruang angkasa dengan USSR Biosatellite Cosmos pada tahun 1987. Penyebaran spektakuler ini, sebagian besar dibantu manusia. Kemampuan guppy untuk berkembang di komunitas ekologi yang berbeda dan kondisi lingkungan alami telah terbukti sangat bermanfaat dalam menguji teori evolusi.

Ikan guppy termasuk jenis ikan yang mudah beradaptasi dan memiliki toleransi tinggi terhadap rentang temperatur dan salinitas, bahkan terhadap perairan tercemar sekalipun, dan menjadi salah satu spesies terakhir yang dapat bertahan di daerah tercemar berat. Guppy dapat hidup di air tawar dan payau dengan pH 7.0-8.0, dH 9-19 dan pada temperatur 18°C -28°C. Toleransi ini, membuat ikan guppy menjadi pilihan dalam studi toksikologi. Selain itu ikan guppy juga ditemukan dibeberapa habitat seperti danau dan selokan pada ketinggian tendah hingga daerah pengunungan yang tinggi. Studi tentang distribusi ikan guppy berdasarkan ketinggian tempat yang dilakukan dan diketahui bahwa ikan guppy (P. reticulata) ditemukan sampai ketinggian 1.000 mdpl.

Ikan guppy tersebar luas di berbagai negara sebagai spesies introduksi. Di Indonesia sendiri jenis ikan ini tergolong mudah berkembang dan termasuk ke dalam kelompok ikan live bearer, yaitu jenis ikan yang bersifat ovovivipar yaitu telur berkembang dan menetas didalam tubuh sehingga langsung melahirkan anak-anak ikan yang memiliki tubuh sempurna dan sudah dapat berenang sendiri. Dimorfisme seksual guppy sangat jelas, hal tersebut ditunjukkan dengan ukuran dan warna tubuh serta gonopodium pada ikan guppy jantan yang merupakan modifikasi sirip anal yang berfungsi sebagai alat kopulasi. Warna tubuh guppy jantan lebih menarik dengan adanya perpaduan antara wama hitam, putih, merah, orange, kuning serta adanya spot warna wami pada permukaan tubuhnya, sedangkan ikan guppy betina memiliki warna yang seragam yaitu cokelat keabu-abuan.

Pola warna yang mencolok pada guppy dapat mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah keberadaan ikan berbahaya sebagai perdator, lingkungan yang baru, dan perbedaan geografi. Studi tentang perbedaan variasi warna guppy pada geografi yang berbeda menunjukan bahwa allometri guppy di tempat yang tinggi lebih bervariasi dari allometri di bagian lereng. Dari hasil studi di atas, maka dapat diduga bahwa jarak dan perbedaan geografi dapat menjadi faktor isolasi dan perubahan warna pada P reticulata, karena terjadinya keterpisahan populasi dalam kurun waktu yang lama sehingga akan memiliki perbedaan fenotip dan genetik atau kemungkinan besar dua populasi yang berbeda secara genetik (Mendelian population). Variasi genetik ikan guppy pada full-length (658 bp) dari sitokrom c oksidase subunit I (COI) menunjukan sedikit variasi antara individu dalam satu lokasi sampling di Panama, semakin jauh jarak habitat antar dua populasi semakin kecil terjadinya pertukaran informasi genetik, dan semakin besar pula variasi genetiknya.

Variasi genetik adalah tingkat perbedaan gen antar spesies atau antar populasi yang menunjukkan hubungan genetik. Hubungan genetik antar populasi yang telah dikaji pada berbagai spesies ikan yang berbeda memiliki makna evolusi yang besar berkaitan dengan adaptasi lokal, perubahan mikroevolusi dan pengaturan keanekaragaman genetik. Perubahan warna pada guppy merupakan upaya melindungi diri terutama dari ancaman predator, begitu juga dengan keanekaragaman genetik dapat mempengaruhi kemampuan spesies untuk merespon perubahan lingkungan agar dapat bertahan hidup. Populasi dengan keanekaragaman genetik yang tinggi memiliki peluang hidup yang lebih tinggi, karena banyak alternatif gen atau kombinasi gen yang tersedia untuk merespon perubahan kondisi lingkungan yang dihadapi. Gencytochrome oxidase 1 (COI) yang merupakan gen yang banyak digunakan sebagai penanda barcode dari gen pengkode protein seperti halnya cytochrome-b (cyt-b). Penggunaan gen pengkode protein dapat berada pada tingkat spesies maupun subspesies hingga yang memiliki kekerabatan sangat dekat sekalipun.

Penelitian tentang perbedaan variasi genotip ikan guppy antar populasi belum pernah dilakukan di Indonesia, beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang pemanfaatan guppy sebagai pengendali nyamuk dan sebagai bioindikator limbah cair batik. Oleh karena itu penelitian ini merupakan penelitian observasi untuk mengetahui variasi genotip guppy di ketingian yang berbeda di Jawa Timur sebagai penelitian dasar untuk dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya. Hasilnya setelah dibuat pohon filogeni, terdiri dari 2 kelompok ikan guppy P. reticulata. Kelompok pertama diisi dengan semua sampel spesies yang berasal dari Jawa Timur, Sukabumi, Jawa Barat (KU692776.1), Republik Dominika, Pandeglang, Banten; dan Myanmar yang terpisah dari kelompok kedua, yang dari Afrika selatan, Brazil, dan Sukabumi, Jawa Barat (KU692775.1). Pohon filogeni memberikan informasi tentang klasifikasi populasi berdasarkan hubungan evolusi.

Penulis
Sucipto Hariyanto

Link terkait artikel ilmiah populer di atas, Jurnal Biosaintifika: DNA Barcoding: A Study of Guppy Fish (Poecilia reticulata) in East Java, Indonesia.

https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/biosaintifika/article/view/20222/9554

Sumber
http://news.unair.ac.id/2019/10/30/benarkah-ikan-guppy-dapat-digunakan-sebagai-bioindikator/

88 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *