Dwi Mirnasari, Lulus Terbaik FPK UNAIR: Ingin Memajukan Tanah Kelahiran

Dwi Mirnasari, Lulus Terbaik FPK UNAIR: Ingin Memajukan Tanah Kelahiran

image
By abdillah On Senin, Maret 05 th, 2018 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Perempuan asal Samarinda ini selalu berusaha lebih giat dibanding orang lain, terutama soal belajar. Itu tak berlebihan. Predikat wisudawan terbaik S1 dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) terbukti mampu diraih Mirna, sapaannya, pada wisuda Maret 2018. Pembaca buku tersebut lulus dengan kriteria sangat memuaskan, ber-IPK 3,84.

”Kalau orang lain cukup buku ajar kampus atau materi dosen, saya belajar lebih banyak dari jurnal, buku perpustakaan, juga referensi yang lain,” tutur perempuan yang juga asisten dosen praktikum mata kuliah tersebut.

Kata Mirna, bahasa Jawa sempat membuatnya sulit beradaptasi. Padahal, sebagai orang baru, dia mesti membangun sosialisasi dan hubungan baik. Untung, itu mampu dihadapi karena lingkungan pendidikan dan sosial yang mendukung. ”Bagaimana bisa paham, di kampus, teman-teman berdiskusi dengan bahasa Jawa. Saya belum mengenalnya dan paham saat itu,” ungkap penerima beasiswa PT. Pupuk Kaltim (PKT) tersebut.

Munculnya tren kerapu hibrid di perikanan, terutama budidaya kelautan, memberikan ide soal tugas akhirnya. Khususnya kerapu cantang sebagai kerapu hibrid silangan antara kerapu macan (betina) dan kerapu kertang (jantan).

”Saya mengangkat skripsi berjudul Perkembangan Stadia Awal Larva Kerapu Cantang Epinephelus fuscoguttatus × Epinephelus lanceolatus  dengan Pemberian Brachionus plicatilis yang Diperkaya Kombinasi Minyak Ikan dan Minyak Cumi,” ujarnya.

Mirna ingin mengungkap perkembangan dan pertumbuhan panjang mutlak (L) larva kerapu cantang melalui uji T dengan 2 perlakuan. Yakni, pemberian B. plicatilis tanpa pengkayaan (P0) dan B. plicatilis dengan pengkayaan kombinasi minyak ikan dan minyak cumi (P1).

”Masing masing perlakuan, diulang tiga kali,” tuturnya. Hasilnya, B. plicatilis dengan pengkayaan bisa mempercepat L larva kerapu cantang 3,27 ± 0,17 mm. Khususnya spina dorsalis dan spina ventralis yang terbentuk lebih awal pada hari ke tujuh (D-7).

”Saya ingin melanjutkan S2 bidang sains agar bisa menjadi dosen di Samarinda dan memajukan pendidikan daerah kelahiran saya,” tekad Dwi Mirnasari. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor : Binti Q. Masruroh.

sumber : http://news.unair.ac.id/2018/03/04/dwi-mirnasari-lulus-terbaik-fpk-unair-ingin-memajukan-tanah-kelahiran/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *