KEBERADAAN FITOPLANKTON PENGARUHI KESEHATAN DAN NAFSU MAKAN UDANG

By Daruti Dinda Nindarwi On Sabtu, Agustus 24 th, 2019 · no Comments · In

KEBERADAAN FITOPLANKTON PENGARUHI KESEHATAN DAN NAFSU MAKAN UDANG

Plankton merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun hewan yang hidup melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan pergerakan serta penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah. Plankton terbagi atas dua kelompok, fitoplankton dan zooplankton. Plankton merupakan komponen utama dalam rantai makanan ekosistem perairan. Fitoplankton berperan sebagai produsen primer dan zooplankton sebagai konsumen pertama yang menghubungkan dengan biota pada tingkat trofik yang lebih tinggi.

Fitoplankton adalah tumbuhan air dengan ukuran yang mirko serta hidup melayang air. Fitoplankton berperan dalam ekosistem perairan yang mana memiliki peran yang sama pentingnya dengan peranan tumbuhan hijau yang tingkatannya lebih tinggi di ekosistem daratan. Fitoplankton memiliki kemampuan untuk dapat berfotosintesis serta dapat menghasilkan senyawa organik  membuat  fitoplankton  disebut  sebagai  produsen  primer.

Fitoplankton sebagai produser primer di perairan merupakan sumber kehidupan bagi seluruh organisme hewani lainnya. Di samping sebagai penghasil oksigen, baik langsung maupun tidak langsung, ia merupakan makanan bagi konsumer primer yaitu zooplankton. Dalam hal ini perkembangannya sangat dipengaruhi oleh zooplankton.

Keberadaan fitoplankton akan berkembang dengan cepat ketika populasi zooplankton mengalami penurunan. Fitoplankton tergolong sebagai organisme autotrof, yang membangun tubuhnya dengan mengubah unsur-unsur anorganik menjadi zat organik dengan memanfaatkan energi karbon dari CO2 dan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis.

Distribusi plankton dapat dijadikan sebagai penentu kesuburan perairan, karena plankton (fitoplankton dan zooplankton) merupakan sumber pakan bagi organisme perairan. Banyaknya plankton pada suatu perairan menunjukkan bahwa daerah tersebut sebagai tempat pemijahan dan tempat asuhan berbagai organisme air. Selain itu, plankton juga dapat mengindikasikan terjadinya pergerakan masa air. Keberadaan plankton sangat berkaitan dengan sumberdaya perikanan di perairan tersebut.

Kelimpahan merupakan tinggi rendahnya jumlah individu populasi suatu spesies, hal ini menunjukkan besar kecilnya ukuran populasi atau tingkat kelimpahan populasi (Kramadibrata 1996). Kelimpahan plankton sangat dipengaruhi adanya migrasi. Migrasi dapat terjadi akibat dari kepadatan populasi, tetapi dapat pula disebabkan oleh kondisi fisik lingkungan, misalnya perubahan suhu dan arus.

Kelimpahan populasi plankton diseluruh area yang ditempati oleh individu-individu sulit untuk ditentukan, hal ini berlaku bagi populasi alami yang memiliki ukuran tubuh sangat kecil (mikroskopis) seperti plankton. Maka digunakan pengukuran tingkat kelimpahan populasi per satuan ruang dari yang ditempati yaitu kerapatannya.

Keragaman menggambarkan jumlah total proporsi suatu spesies relatif terhadap jumlah total individu yang ada. Semakin banyak jumlah spesies dengan proporsi yang seimbang menunjukkan keragaman yang semakin tinggi. Keragaman merupakan parameter yang sangat berguna terutama untuk mempelajari gangguan faktor-faktor lingkungan atau abiotik terhadap suatu komunitas atau untuk mengetahui stabilitas komunitas. Perairan yang berkualitas baik biasanya memiliki keragaman jenis yang tinggi dan sebaliknya pada perairan buruk atau tercemar biasanya memiliki keragaman jenis yang rendah.

Indeks keragaman spesies adalah ukuran kekayaan komunitas dilihat dari jumlah spesies dalam suatu kawasan. Keanekaragaman juga ditunjang oleh komunitas plankton itu sendiri dimana plankton akan berkumpul di suatu tempat yang disukai.

Kegiatan paling penting dalam budidaya udang vaname adalah pemberian pakan. Pakan yang diberikan harus didukung oleh kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan bagi pertumbuhan dan perkembang biakan udang yang dibudidayakan serta harus disesuaikan dengan kebiasaan makan dan tingkah laku udang itu sendiri. Nutrisi pakan terdiri atas protein, lemak, dan  karbohidrat.

Udang dalam hal ini jenis vaname memerlukan formulasi pakan yang memiliki protein berkisar antara 28%-30%. Kadar protein dalam pakan merupakan zat makanan yang sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan tubuh, pembentukan jaringan tubuh yang rusak serta penambahan protein tubuh dalam proses pertumbuhan.

Blind feeding merupakan suatu metode pemberian pakan terhadap secara maksimal tanpa menghitung kebutuhan pakan. Pemberian pakan secara blind feeding dilakukan pada bulan pertama yaitu mulai DOC (Day Of Culture) awal tebar hingga DOC 30. Selanjutnya pemberian pakan pada bulan berikutnya yang didasarkan dengan nasfu makan udang. Hal yang perlu diperhatikan dalam program pemberian pakan dengan skoring anco yaitu FR, FCR dan nafsu makan udang.

FR (feeding rate) merupakan presentasi untuk mencapai pertumbuhan optimal serta pemberian pakan yang tepat. FCR merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah biomassa udang yang dihasilkan.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah keberadaan fitoplankton dalam perairan dapat menjadi sebagai salah satu indikator suatu perairan. Ketidakstabilan kelimpahan dan komposisi fitoplankton dapat mempengaruhi kesehatan dan nafsu makan udang yang dapat menurunkan konsumsi pakan udang tersebut. (*)

Referensi
D D Nindarwi, E D Masithah, D Zulian, A L A Suyoso. 2019. The dynamic relationship of phytoplankton abundance and diversity in relation to white shrimp (Litopenaeus vannamei) feed consumption in intensive ponds. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 236 (2019) 012072. IOP Publishing. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/236/1/012072

Penulis
Daruti Dinda Nindarwi
Departemen Kelautan
Email: daruti-dinda-n@fpk.unair.ac.id

Sumber
http://news.unair.ac.id/2019/08/19/keberadaan-fitoplankton-pengaruhi-kesehatan-dan-nafsu-makan-udang/

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *