Laporan Publik Dagri

Laporan Publik Dagri

  • PANKREAS

PANKREAS merupakan sarana bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreatifitasnya dalam bentuk puisi, gambar, sajak, maupun karya karya lain. Mading ini bebas tempel dan bertempat di area wifi zone. Kurangnya sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan karyanya dan kurangnya minat mahasiswa untuk berkarya menjadi alasan terbentuknya mading. Adanya mading diharapkan mahasiswa merasa terfasilitasi untuk berkarya dan menyampaikan opininya.

  • KAJIAN ISU

– ISU: Cacing Anisakis sp. pada Sarden Kaleng

Stadium siklus hidup :

  1. Hospes definitif, cacing dewasa bereproduksi secara seksual dan menghasilkan keturunan. Ex : mamalia laut.
  2. Hospes intermediet, berkembang satu atau beberapa kali menjadi bentuk yang lebih matang.
  3. Hospes paratenik, tidak lagi terjadi perkembangan larva.
  4. Hospes aksidental, seperti manusia, sebenarnya bukan merupakan bagian dari rantai infeksi alamiah Anisakis dan secara normal tidak akan menyebabkan infeksi pada hospes definitif. Hospes aksidental terinfeksi secara tidak sengaja dan menjadi jalan buntu (dead end) bagi siklus hidup cacing. Spesies yang paling sering dilaporkan menginfeksi manusia adalah simplex dan P. decipiens. Sebagai hospes insidental, manusia dapat terinfeksi jika memakan daging ikan atau produk laut yang mengandung larva Anisakis sp. dalam keadaan mentah atau kurang matang. Beberapa negara dengan konsumsi ikan laut tinggi seperti Jepang dan Spanyol juga melaporkan tingginya kasus anisakiasis pada manusia, lebih tinggi dibanding negara-negara lain yang konsumsi ikan lautnya kurang.

Alergi pada manusia :

Anisakiasis pada manusia sebenarnya tidak lazim karena parasit itu tidak akan mampu beradaptasi untuk hidup pada manusia dan infeksi yang terjadi sebenarnya bersifat transit semata. Respons alergi yang pertama adalah anisakiasis gastroalergi yang gejalanya merupakan gejala tambahan akibat parasitisme akut di lambung setelah memakan ikan atau produk laut lainnya yang mengandung larva hidup secara mentah atau dimasak kurang matang dan yang kedua berupa alergi terhadap A. simplex yang terjadi akibat kontaminasi produk perikanan yang mengandung alergen (larva yang ada pada produk perikanan tersebut tidak mesti hidup). Respon alergi lainnya bisa terjadi, meski lebih jarang ditemukan, berupa urtikaria kronik akibat sensitisasi A. simplex (mekanisme belum jelas diketahui), asma dan gastroenteritis eosinofia, gejala rheumatologi, dermatologi dan rhino-konjungtivitis.

Respons imun meliputi respons imun bawaan (sel epitel terinfeksi, nitric oxide, Toll like receptor) dan didapat (Th2, IL-4, IL-5) serta eosinofilia; eosinofilia merupakan gambaran peradangan lokal pada lesi akibat larva A. simplex (infiltrasi eosinofil disekitar parasit dalam jaringan). Konsentrasi eosinofil didaerah yang sakit tidak hanya akibat pelepasan faktor kemotaktik oleh limfosit T, sel mast dan basofil tetapi juga oleh sekresi substansi kemotaktik oleh parasit. Hal menarik, meski eosinofilia sering dikaitkan dengan infeksi cacing namun untuk anisakiasis hanya ditemukan pada kurang dari 30% anisakiasis. Meski demikian, infiltrasi eosinofil di jaringan di sekitar parasit merupakan gambaran paling khas mengenai lesi inflamasi lokal akibat anisakiasis.

Laporan mengenai alergi akibat anisakiasis banyak ditemukan pada beberapa daerah di Spanyol, yaitu pada daerah tersebut konsumsi ikan dalam keadaan mentah lebih tinggi. Di Asia, Jepang merupakan contoh negara dengan konsumsi ikan paling tinggi dan secara bersamaan juga paling sering melaporkan kejadian anisakiasis.

Danilowicz-Luebert et al mengklasifikasikan alergi akibat Anisakis sp. sebagai penyakit okupasi karena dapat juga terjadi akibat kontak tanpa harus mengkonsumsi daging ikan yang tercemar. Hal itu juga didukung oleh hasil penelitian Armentia et al seperti yang terdapat pada laporan EFSA Panel on Biological Hazards (BIOHAZ)1 pada pekerja pabrik pengolahan ikan terjadi alergi akibat kontak terhadap ikan tercemar larva Anisakis sp. atau bersifat okupasional.  Pakar standarisasi mutu produk perikanan dari Institut Pertanian Bogor Sunarya mengatakan, cacing Anisakis yang terdapat pada sejumlah merek makerel kalengan telah mati akibat proses pengalengan yaitu pembekuan dengan suhu hingga minus 40°C dan disimpan dalam suhu minus 20-30°C. Ikan lalu dicuci, dipotong, dan dibersihkan isi perutnya. Setelah itu, ikan dimasak dan dipanaskan dalam proses pengalengan hingga suhu 121°C selama minimal tiga menit, sehingga ikan tetap aman dikonsumsi. Pakar teknologi pangan Indonesia sekaligus anggota Komite Nasional Codex Indonesia, Purwiyatno Hariyadi, membenarkan pernyataan Sunarya tersebut. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut bahwa cacing tersebut tidak masalah karena pada akhirnya produk ikan makerel kalengan akan dikonsumsi dengan dimasak terlebih dahulu. Ia pun menyebut cacing mengandung protein sehingga tidak berbahaya.

Prof. Sri Subekti berpendapat bahwa Anisakis berbahaya karena mengandung alergen yang resiko terbesarnya adalah alergi jenis asthma hingga menyebabkan kematian pada manusia yang sensitif terhadap alergen. Meskipun sudah dalam keadaan mati, Anisakis tetap beresiko tergantung pada kepekaan tiap manusia. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Pencernaan Dr. Ari dalam keterangan pers menyatakan bahwa larva cacing ini jika tertelan oleh manusia dalam keadaan hidup dapat menempel di dalam lambung atau usus halus menimbulkan berbagai keluhan, antara nyeri perut, mual, muntah, kembug, diare ada darah dan demam yang tidak terlalu tinggi. Selain itu keberadaan larva cacing ini pada tubuh manusia juga bisa menyebabkan reaksi alergi pada tubuh manusia yang bisa berakibat fatal. Menurut dr Ari, larva cacing Anisakis ini tidak bisa berkembang biak di tubuh manusia tapi bisa bertambah besar. Pakar Fisheries Toxicology dari Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Etty Riani, menegaskan, cacing yang ditemukan pada ikan makarel dalam 27 merek ikan kaleng yang beredar luas di Indonesia, merupakan jenis cacing parasit yang dapat menimbulkan alergi bahkan mengakibatkan penyakit kanker. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan kasus ditemukannya cacing parasit Anisakis dalam beberapa produk ikan kaleng makerel adalah sebuah ‘kecelakaan’ yang tak diduga oleh para pelaku usaha. APIKI menyatakan bahwa pengusaha rugi miliaran. Selain itumenyayangkan keputusan BPOM yang menarik produk ikan kaleng dari jenis lain seperti tuna dan sarden karena menteri kesehatan dan pakar menyatakan tidak ada masalah.

Pendekatan komprehensif oleh orang perikanan, yaitu dengan melakukan tindakan, seperti : Riset dasar untuk meyakinkan kepada masyarakat jika cacing Anisakis sp. tidak ada di produk olahan ikan dengan meneliti di laboratorium terlebih dahulu. Sosial masyarakat dengan melakukan pendekatan secara langsung kepada masyarakat agar kegemaran makan ikan semakin meningkat. Sebagai mahasiswa bisa memproduksi tulisan-tulisan untuk meningkatkan keyakinan masyarakat mengenai keamanan produk perikanan.

– Hari Nelayan

  1. Kebijakan pemerintah harus berpihak pada nelayan, pemerintah kurang tepat jika mengeluarkan peraturan yang merugikan
  2. Pendataan NTN oleh pemerintah dirasa kurang valid karena juragan dan buruh disamakan, maka perlu pendataan ulang.
  3. Pemerintah dapat menjadi alat untuk berbohong karena memiliki data.
  4. Sudah banyak subsidi pemerintah namun kurang pemanfaatan. Contohnya beasiswa Pumara untuk pendidikan anak nelayan. Di beberapa kasus bantuan tunai dimanfaatkan untuk hal lain dan jika bantuan non tunai akan dijual oleh nelayan, sehingga tidak sesuai dengan target yang direncanakan pemerintah.
  5. Oknum daerah golongan muda sudah lebih paham mengenai aturan, namun yang golongan tua masih terbiasa dengan aturan lama.
  6. Belum ada batas kelayakan harga.
  7. Belum semua nelayan tahu tentang regulasi dan masih terikat adat, serta sadar saat terkena efek negatifnya.
  8. Pemerintah membuka badan mirip bulog untuk menentukan harga jual ikan di pasaran.
  9. Peraturan KKP kurang sampai ke teknis, kurang bersinergi dengan DKP, dan kurang terintegrasi sampai bawah.
  10. Nelayan Jepang makmur, namun nelayan Indonesia tidak, pendidikannya kurang karena hidupnya juga kekurangan. Di Jepang hasil melaut sudah ada pembeli yang menunggu dan sisanya disimpan di cold storage, namun di Indonesia tidak, mengingat minat masyarakat Indonesia terhadap ikan masih tergolong rendah.
  11. Harga jual ikan ditentukan tengkulak dengan harga semurah-murahnya dan cold storage di TPI belum terlengkapi.
  12. Sistem buruh nelayan dengan juragan membuka kredit berbunga yang dibayar dengan tenaga melaut nelayan dan tidak digaji tidak akan mengeluarkan nelayan beban piutang.
  13. Hasil melaut digunakan untuk hari itu juga.
  14. Aksi di jalan dianggap kurang relevan jika tidak memahami sisi nelayan itu sendiri, dan jika aksi salah maka tidak ada perubahan yang positif.
  15. Mahasiswa melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sudah merupakan aksi yang ideal. Namun sering dilupakan oleh mahasiswa dan ada yang menganggap jika itu terlalu memakan waktu lama.
  16. Mahasiswa sebagai media untuk menyampaikan pendapat masyarakat kepada pemerintah.
  17. Membuat aksi dalam bentuk pengabdian masyarakat dengan memberikan alat untuk melaut kepada nelayan.
  18. Meberikan edukasi kepada nelayan dan anak nelayan.
  19. Membuat badan advokasi di lingkup mahasiswa untuk berfokus pada nelayan.
  20. Pengabdian masyarakat dalam bentuk bersih lingkungan.
  21. Membuat badan advokasi di lingkup mahasiswa yang dibawahi oleh BEM FPK dan Departemen Dalam Negeri.

– Terorisme

Solusi dan Tindak Preventif Menanggapi Ideologi Khaurij

            Kajian mengenai ideologi khaurij yang dilaksanakan pada hari Kamis (31/05/2018) di Musholla Al-Qolam Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga disampaikan oleh Ust. Afri Ardianto dan Rosdiansyah, S. H., M. A. sebagai pemateri. Garis besar dari kajian ini adalah untuk memberikan pemahaman lebih tentang radikalis, dan terorisme yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan.

            Umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat pertengahan yang berkarakter shalih, fleksibel, dan dapat menyesuaikan diri di tempat dan waktu, serta pertengahan dalam hukum yang berlaku. Khawarij lahir dari interpretasi sudut pandang yang berbeda, seperti berlebihan dalam menjalankan agama. Khawarij sudah ada sejak zaman Nabi, kemudian langsung diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah perang Hunain, ada segolongan orang yang meragukan keadilan Nabi Muhammad SAW, golongan ini juga memerangi Sayyidina Ali. Dalam hadist golongan inilah kaum khawarij, ciri – cirinya adalah kulit hitam, salah satu lengannya gempal, dan pembaca Al-Qur’an yang baik tetapi tidak sampai pada kerongkongannya.

            Setelah meninggalnya Sayyidina Ali, ada 3 kubu besar yang berselisih. Setelah perundingan, khawarij menampakkan diri dengan menganggap 2 kelompok lainnya tidak menerapkan ajaran Rasulullah SAW, bahkan mengkafirkan dan menganggap dirinya sendiri yang paling benar. Kaum ini terkenal dengan jargonnya yaitu, “tidak ada hukum selain hukum Allah”. Mereka menganggap selain dari golongannya adalah menyimpang dari Islam. Golongan ini menyebut golongan lain khawarij dan menyebut golongannya sendiri syiah. Golongan khawarij ini telah binasa pada zaman kaum Umayah, namun ideologinya masih ada sampai sekarang. Ada yang disebut dengan jamaah takfri yang menafsirkan Islam menurut pribadi dan menganggap iman orang yang tidak sependapat “kurang bersih”. Mereka mengukur keimanan orang lain dengan ibadah yang mereka lakukan. Pendapat mereka sangat literalis, tidak lagi memperhatikan situasi dan kondisi saat ayat Allah diturunkan dan asbabun nuzul. Selanjutnya adalah mengenai terorisme. Terorisme bunuh diri telah ada pada tahun 1940 oleh sosialis Islam Turki. Keluarga Hazazin melatih diri dengan sedemikian rupa pada kaum Bani Umayah untuk membunuh kaum elit lalu menghilangkan diri, cara ini di Inggris diadaptasi menjadi Assasin.

            Konsep Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan. Prinsip kebhinnekaan/ common grown sendiri sudah dicontohkan pada zaman Nabi, yaitu adanya Piagam Madinah yang mengakui adanya pluralitas atau kemajemukan. Maka dari itu pemahaman tentang Islam harus selalu diasah karena zaman sekarang sebagai kaum moderat yang hidup dalam kebhinnekaan, dan problem dari kemajemukan itu sendiri bisa menjadikan seseorang radikal atau ekstrimis. Tidakan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam menghadapi ideologi khaurij ini adalah banyak mempelajari ilmu untuk meningkatkan pemahaman. Belajar ilmu agama harus pada ahlinya, tidak boleh berdasarkan pada pendapat pribadi karena kemurnian agama akan terdistorsi dan rusak. Selain itu diperlukan rasionalitas dalam menghadapi perbedaan agar tidak mudah menganggap ekstrimisme. Umumnya saat terjadi perbedaan, emosi yang dikedepankan, padahal Islam mengedepankan rasionalitas.