LINTAH LAUT (ZEYLANICOBDELLA) ANCAM KERUGIAN BESAR PADA BUDIDAYA KERAPU DI TAMBAK MAUPUN KARAMBA JARING APUNG DI JAWA TIMUR

By Gunanti Mahasri On Kamis, November 28 th, 2019 · no Comments · In

LINTAH LAUT (ZEYLANICOBDELLA) ANCAM KERUGIAN BESAR PADA BUDIDAYA KERAPU DI TAMBAK MAUPUN KARAMBA JARING APUNG DI JAWA TIMUR

Ikan Kerapu merupakan salah satu jenis ikan air laut yang dikembangkan di Indonesia, karena ikan tersebut mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Berbagai jenis ikan kerapu yang dikembangkan di Indonesia melalui budidaya di tambak maupun di Karamba Jaring Apung (KJA), antara lain adalah Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis), Kerapu Kertang (Epinephelus lanceolatusdan Kerapu Cantang (E. fuscoguttatus x lanceolatus). Akan tetapi sampai dengan sekarang upaya Pemerintah dalam meningkatkan produksi ikan kerapu melalui budidaya masih belum dapat memenuhi target, kare masih lamanya pmasa pemeliharaan dan rendahnya tingkat kelulushidupan baik di tambak, KJA maupun di tempat pemebenihan.

Berbagai macam kendala dalam budidaya ikan kerapu yang perlu mendapatkan pemantauan yang serius, antara lain kualitas air dan adanya serangan penyakit. Penyakit ini dapat menginfeksi ikan kerapu baik yang dipelihara di Karamba Jaring Apung (KJA), di tambak pembesaran maupun tempat pembenihan (Hatchery).  Umumnya kendala yang sering muncul pada budidaya ikan kerapu  adalah anya serangan penyakit dan menurunnya kualitas air  (Mahasri, 2019). Hal ini disebabkan karena menurunnya kualitas air akan selalu diikuti oleh meningkatnya patogenitas patogen, sehingga dapat meninfeksi ikan yang dipelira. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan kualitas air yang kurang baik pada pemeliharaan ikan di tambak, akan menyebabkan adanya  penumpukan bahan organik di dasar tambak. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air dan mendukung pertubuhan bakteri penyebab penyakit pada ikan. Disamping itu juga akan menyebabkan menurunnya  kandungan oksigen terlarut dan menyebabkan terjadinya pembusukan (Mahasri, 2018). Kondisi yang demikian akan menyebabkan ikan menjadi stress, yang akan rentan terhadap penyakit. Salah satu kendala utama dalam budidaya yang prevalensinya masih tinggi adalah adanya serangan penyakit parasiter yang disebabkan oleh  cacing lintah Zeylanicobdella arugamensis. Cacing lintah ini termasuk dalam Phylum: Annelida, Class: Clitellata, Subclass: Hirudinea, Ordo: Rhynchobdellida, Famili: Pisciolidae, Genus: Zeylanicobdella, Spesies: Zeylanicobdella arugamensis (de Silva, 1963)

Hasil penelitian yang dilakukan  tahun 2018 sampai dengan tahun 2019 menunjukkan bahwa ditemukan lintah laut (cacing lintah) Zeylanicobdella arugamensis.  Cacing lintah (Marine Leces) merupakan jenis lintah laut yang termasuk dalam Filum Annelida. Cacing lintah ini  memiliki dua cakram penghisap (sucker) pada bagian anterior dan posterior. Bagian tubuh Zeylanicobdella arugamensis muda berwarna coklat tua, sedangkan saat stadia dewasa pada dorsal berwarna coklat tua dan ventral berwarna hitam pekat.Terdapat garis yang berwarna lebih terang pada dorsal tubuh Zeylanicobdella arugamensis. Telur Zeylanicobdella arugamensis berbentuk bulat dengan ukuran diameter 0.51 mm dan berwarna coklat tua. Cacing lintah ini berukuran panjang berkisar antara 9.0-25 mm, ukuran diameter oral sucker mencapai 1.0 mm dan berbentuk oval, serta terdapat sepasang mata yang tampak pada dorsal di oral sucker. Diameter caudal sucker spesies ini lebih lebar dibanding oral sucker yaitu berkisar 1.8 mm.

Cacing ini menyerang pada permukaan tubuh, mata, mulut, rongga pernafasan dan sirip paling banyak ditemukan  pada sirip dorsal, ventral dan pectoral. Ikan kerapu yang terserang akan berwarna pucat, terdapat luka dan pendarahan pada daerah yang terserang. Apabila menyerang pada sirip dan ekor maka sirip dan ekor tersebut dan geripis atau robek.

Hasil observasi yang dilakukan di pertambakan juga menunjukkan tedapat beberapa lokasi tambak dan karamba jarring apung yang diperiksa, ditemukan rata-rata nilai prevalensi sebanyak 6 kali pengambilan)  mencapai 11 – 90% dari total sampel yang diperiksa (50 – 225 ekor) , dengan intensitas (rata-rata jumlah Zeylanicobdella arugamensis yang ditemukan pada tiap ekor ikan kerapu) sebesar 4 – 17 individu / ekor ikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan para pembudidaya (pemilik tambak) bahwa apabila ikan kerapu terserang oleh cacing lintah tersebut, maka petambak mengalami kerugian hingga 50% . Hal disebabkan karena ikan yang terserang cacing lintah tersebut mengalami penurunan harga turun sebesar 50% yaitu dari Rp. 95.000,- / Kg turun menjadi Rp. 45.000,- / Kg. berat badan.

Berbagai upaya penanggulangan sudah dilakukan, baik dengan menggunakan bahan kimia maupun direndam di dalam air tawar, akan tetapi hasil yang dicapai belum memenuhi target, dan prevalensi dan intensitas di beberapa lokasi masih menunjukkan angka  tinggi.

Ikan kerapu cantang terserang oleh cacing lintah Zeylanicobdella arugamensis pada ekor dan permukaan tubuh

Penulis
Gunanti Mahasri
Departemen MKI-BP
Email: mahasritot@gmail.com

50 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *