Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR Temukan FormulasiBahan Alami untuk Atasi Motile Aeromonas Septicemia pada Ikan Gurami

Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR Temukan FormulasiBahan Alami untuk Atasi Motile Aeromonas Septicemia pada Ikan Gurami

image
By abdillah On Jumat, Juli 13 th, 2018 · no Comments · In

Berita FPK– Ikan gurami merupakan ikan dengan nilai ekonomis tinggi yang banyak dibudidayakan. Namun saat ini budidaya ikan gurami sering kali terkendala oleh penyakit. Penyakit ikan gurami dapat disebabkan karena lingkungan yang tercemar maupun disebabkan oleh serangan bakteri. Bakteri yang sering menyerang ikan gurami yaitu Aeromonas hydrophila, salah satu jenis bakteri patogen yang menyebabkan adanya penyakit bercak merah pada ikan gurami. Penyakit bercak merah disebut Motile Aeromonas Septicemia (MAS) menyebabkan ikan gurami menjadi cacat bahkan dapat menyebabkan kematian hingga 90 %.

Berdasarkan masalah tersebut, salah satu tim PKM Penelitian Eksakta Universitas Airlangga dari Fakultas Perikanan dan Kelautan yang terdiri dari Rizky Yanuar Rahmadan, Putra Surya Lesmana dan Iklil Saly Akbar dibawah bimbingan Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP. mencoba membuat terobosan baru untuk mengatasi masalah yang meresahkan peternak ikan gurami melalui penelitian mereka yang berjudul “CICI-KIT (Chitosan-Citrus paradisi KIT) : Inovasi Antibiotik Alami untuk Treatment Ikan Gurami (Ospronemus gouramy) yang Terinfeksi Aeromonas hydrophila

CICI-KIT terbuat dari formulasi kitosan dan jeruk limau gedang (Citrus paradisi). Rizky menjelaskan bahwa kitosan mampu menghambat pertumbuhan bakteri karena memiliki aktivitas antibakteri berspektrum luas sementara jeruk limau gedang memiliki kemampuan sebagai antibakteri, antioksidan dan anti-inflamasi.

Potensi CICI-KIT dapat dilihat dengan melakukan serangkaian uji in vitro yaitu uji Minimum Inhibitory Concentration (MIC) untuk mengetahui konsentrasi minimal yang dapat menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophila dan uji Minimum Bactericidal Concentration (MBC) untuk mengetahui konsentrasi minimal yang dapat membunuh bakteri tersebut. Formulasi terbaik dari uji in vitro kemudian dilanjutkan dengan uji in vivo pada gurami menggunakan uji tantang untuk melihat profil darah berupa pengaruh terhadap eritrosit dan leukosit.

Kontributor :  Rizky Yanuar

Editor          : Annur Ahadi Abdillah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *