“Merantaulah”: Sebuah Biografi Singkat Royan Alumnus FPK UNAIR Dalam Mengejar Impiannya Ke Negeri Skandinavia

image
By abdillah On Sabtu, April 14 th, 2018 · one Comment · In

Merantaulah, orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.” – Imam Syafi’i

Muhammad Rahmad Royan, atau lebih kerap disapa Royan oleh rekan sejawatnya, adalah alumnus Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2010. Pria berperawakan tinggi ini rela merantau dari kota kelahirannya di ujung utara pulau Sumatera (Medan) ke ujung timur pulau Jawa (Surabaya) untuk menempuh pendidikan tinggi demi meraih cita-citanya.

Selama menjalani pendidikan sarjana, Royan dikenal aktif tidak hanya dalam bidang kurikuler tapi juga ekstra-kurikuler. Beberapa kali ia menorehkan prestasi dalam berbagai kompetisi, seperti MITI Kemenristek, Program Kreatifitas Mahasiswa dan Program Mahasiswa Wirausaha. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislatif Mahasiswa FPK UNAIR, dan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan lainnya seperti Sie Kerohanian Islam (SKI), Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR dan Kelompok Kewirausahaan FPK UNAIR . Mengakhiri masa pendidikan sarjananya, Royan berhasil diwisuda dengan predikat cum laude dan dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi FPK UNAIR 2015.

Perjalanannya tidak berhenti sampai di situ, berbekal tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan, Royan berjuang keras untuk bisa mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan studinya. Di sela-sela waktu, ia berusaha meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya (TOEFL) dan juga keperluan penunjang lainnya. Saat itu, bulat tekadnya untuk melanjutkan pendidikan magister di negeri bangsa Viking, Norwegia, dengan beasiswa Quota Scheme (Beasiswa Pemerintah Norwegia). Bukan tanpa alasan, Norwegia memang dikenal sebagai negara yang salah satu penopang perekonomian terbesarnya berasal dari sektor perikanan dan kelautan.

Kerja kerasnya terbayar, sertifikat TOEFL dengan skor memuaskan ia peroleh sebagai tiket untuk mendaftar beasiswa Quota Scheme itu. Namun, nasib berkata lain, tak lama berselang setelah kabar bahagia itu, ternyata pemerintah Norwegia mengumumkan secara resmi penutupan Beasiswa Quota Scheme sebab pengetatan anggaran belanja negara. Saat itu sekitar bulan Agustus 2015, hilangnya kesempatan untuk meraih beasiswa Quota Scheme tak mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke negara produsen salmon terbesar di dunia itu.

Royan mencoba mendaftar program beasiswa bergengsi, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beruntung, ia berhasil lolos seleksi administrasi dan dilanjutkan dengan verifikasi dokumen, tes esai dan wawancara. Saat itu, keterbatasan waktu dan biaya membuatnya tidak bisa memenuhi salah satu persyaratan wawancara (Surat Keterangan Catatan Kepolisian – SKCK). SKCK memang persyaratan wajib yang harus dipenuhi agar boleh mengikuti seleksi wawancara. Namun, karena saat itu pengurusan SKCK harus dilakukan di daerah asal, Royan tetap nekat memenuhi panggilan verifikasi dokumen untuk persyaratan wawancara tanpa menyertakan dokumen tersebut.

Dengan proses negosiasi yang cukup panjang dan berbelit, setelah harus ke sana ke mari dengan menempuh jarak yang cukup jauh dalam waktu yang singkat, akhirnya Royan diijinkan untuk mengikuti seleksi wawancara walau tanpa SKCK. Kendatipun tenaganya sudah cukup terkuras, dengan mantap Royan menjalani tes wawancaranya di penghujung sore itu dan menjadi peserta terakhir seleksi wawancara. Dijejali pertanyaan bertubi-tubi dari akademisi, psikolog dan praktisi sama sekali tidak membuat nyalinya ciut. Beberapa bulan kemudian, di sore hari yang terik di akhir Desember 2015, kesungguhannya itu terbayar dengan jawaban surat elektronik dari LPDP; “LULUS”.

Satu dari sekian banyak tahap untuk menempuh pendidikan di Norwegia telah tercapai. Tapi kenyataan bahwa setiap kampus di Norwegia membuka pendaftaran setahun sekali dengan penutupan pendaftaran di awal bulan Desember membuatnya harus menunggu setahun penuh hanya untuk mendaftar. Oleh karena itu, Royan harus rela menanti hingga di penghujung tahun 2016 untuk perkuliahan Agustus 2017.

Tanpa menyia-nyiakan waktu yang cukup panjang ini, satu per satu keperluan lain pun digenapinya, seperti sertifikat bahasa Inggris, surat rekomendasi, surat motivasi, surat sponsor, guna memenuhi persyaratan pendaftaran kampus tujuannya di Universitetet i Bergen. Royan memutuskan untuk mengambil spesialisasi Aquaculture Biology mengingat kesinambungannya dengan disiplin ilmu yang ditekuninya di pendidikan sarjana. Di program ini, hanya 3 orang mahasiswa internasional yang berhak masuk setelah seleksi mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga departemen. Namun, kenyataan itu tak menyurutkan langkahnya untuk bisa belajar di negara bangsa Viking tersebut.

Singkat cerita, sekitar April 2017, Royan sudah tidak sabar menanti pengumuman yang akan disampaikan melalui surat elektronik di pertengahan bulan April oleh kampus idamannya itu. Akan tetapi, hingga akhir April, hasilnya nihil, tidak ada surat elektronik yang masuk dari pihak kampus. Royan hanya bisa pasrah dan berpikir bahwa memang belum rejekinya untuk menimba ilmu di sana. Saat itu, kata mutiara seorang Ulama Besar, Imam Syafi’i, kembali membangkitkan semangatnya. “Merantaulah, orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.” Hanya do’a dan usaha untuk kembali mencoba yang bisa dilakukannya.

Awal Mei 2017, sebuah surat elektronik dari Universitetet i Bergen mengumumkan, Preparing for Your Departure to Bergen. Mulanya, Royan mengira itu mungkin surat elektronik salah sasaran, dan ia tak mengindahkannya. Beberapa hari setelahnya, Royan mencoba membuka portal pendaftaran kampus hanya untuk melihat apakah akun pendaftarannya masih aktif atau tidak. Tak disangka, sebuah lampiran yang diunggah tanggal 16 April 2017 mengejutkannya. Sebuah dokumen bertuliskan “Letter of Acceptance” sontak membuat Royan tersungkur sujud. Kesabarannya menanti satu setengah tahun terbayar lunas. Royan akhirnya bisa mewujudkan salah satu impiannya, dan melanjutkan perantauan dari negeri ujung timur Asia Tenggara ke negeri ujung Barat Laut benua Eropa, Norwegia.

Penulis: Annur Ahadi Abdillah

One Comment on ““Merantaulah”: Sebuah Biografi Singkat Royan Alumnus FPK UNAIR Dalam Mengejar Impiannya Ke Negeri Skandinavia

  1. Boedi S Rahardja

    Allah SWT amat sangat menghargai DOA dan UPAYA (yg sungguh”)… Semuanya butuh proses,, apapun hasilnya itu yg terbaik dari Tuhan dan harus disyukuri..
    Royan,, inspirasi dan spirit bagi yg lainnya (utamanya orang” muda)..
    Jangan lupa, negerimu butuh kamu..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *