Science Assimilation Antara Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Airlangga Dan School Of Fisheries & Aquaculture Sciences Universiti Malaysia Terengganu

Science Assimilation Antara Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Airlangga Dan School Of Fisheries & Aquaculture Sciences Universiti Malaysia Terengganu

image
By abdillah On Selasa, Desember 12 th, 2017 · no Comments · In

 

Berita FPK-Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Perkenalkan, saya Rafi Adi Syahputra, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga angkatan 2016. Saya adalah salah satu perwakilan mahasiswa yang berkesempatan mengikuti Program Student Outbond FPK UNAIR To UMT yang diadakan pada tanggal 25-28 November 2017 di Trengganu, Malaysia. Universiti Malaysia Trengganu atau yang biasa disebut UMT, adalah salah satu Universitas ternama di Trengganu, Malaysia. Yang berfokus pada bidang Kemaritiman. Universiti Malaysia Terengganu (UMT) didirikan melalui terbentuknya  sebuah Pusat Perikanan dan Sains Samudera pada tahun 1979, dan hingga saat ini UMT sudah memiliki 8 Fakultas yang semuanya berfokus pada Maritim dan memiliki berbagai macam program studi. Fakultas yang dimiliki oleh UMT antara lain ;

  1. School of Fundamental Sciences (PPSA)
  2. School of Informatics & Applied Mathematics (PPIMG)
  3. School of Marine & Environmental Sciences (PPSMS)
  4. School of Fisheries & Aquaculture Sciences (PPSPA)
  5. School of Food Science & Technology (PPSTM)
  6. School of Maritime Business & Management (PPPPM)
  7. School of Ocean Engineering (PPKK)
  8. School of Social & Economic Development (PPPSE)

Selama empat hari 20 orang mahasiswa mengikuti acara sebagai berikut:

Minggu, 26 November 2017

Seluruh peserta yakni mahasiswa dan dosen pendamping yang merupakan perwakilan dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya tiba di Kuala Lumpur pada pagi hari sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kuala Trengganu,tepatnya di UMT (Universiti Malaysia Trengganu)  dimana kegiatan “science assimilation” ini dilaksanakan. Setiba di Kuala Trengganu seluruh peserta dijemput dan dipersilahkan untuk beristirahat sejenak sebelum memasuki sesi acara yang telah diagendakan sebelumnya.

Acara pada hari ini terbagi menjadi tiga sesi, dimana pada sesi pertama ini dibuka dengan “ucapan dekan” (sambutan dekan) oleh pihak UMT, kemudian bergantian dengan sambutan serta sesi perkenalan dari pihak FPK Unair yang diwakilkan oleh ibu Dr. Rr. JuniTriastuti. Acara dilanjutkan oleh penjelasan dari pihak UMT mengenai “Sarjana Kerja Kursus” yang merupakan salah satu program yang dimiliki oleh kampus UMT. Acara pada sesi pertama ini ditutup dengan pemberian cenderamata oleh dekan UMT kepada perwakilan staf akademik FPK sebelum pada akhirnya memasuki waktu ishoma (istirahat, shalat, dan makan).

Waktu tepat menunjukan pukul 14.15,yang berarti bahwa sudah memasuki sesi kedua dari susunan agenda pada hari ini. Sesi ini dibuka dengan penjelasan oleh Dr. Emienour Muzalina Mustafa mengenai YPASM Polar Research Grants (Yayasan Penyelidikan Antartika Sultan Mizan) yang secara garis besar menjelaskan bahwa yayasan ini memberikan support terhadap peneliti lokal untuk melakukan penelitian di wilayah Antartika, Arktik, dan Laut Selatan serta penelitian analitis di Institusi Malaysia. Dengan dukungan berupa hibah sebagian biaya penelitian dalam ilmu pengetahuan dan kebijakan polar, pengembangan kapasitas untuk kerja lapangan  di wilayah kutub atau di laboratorium dengan fasilitas yang memadai.

Selanjutnya diteruskan oleh penjelasan dari Prof. Emer. Dr. Faizah Mohd Sharoum mengenai “The Challenge of Parasitic Diseases In Aquaculture : An Malaysian Perspective(Tantangan penyakit yang disebabkan oleh parasit dalam akuakultur, berdasarkan perspektif orang Malaysia). Pada penjelasan kali ini, didapati bahwa terdapat masalah-masalah yang sedang menjadi “tantangan” tersendiri bagi beberapa negara Asia,seperti China, Thailand,Vietnam dan salah satunya yakni Malaysia itu sendiri di sektor Udang. Terdapat penyakit Nekrosis Hepatopenat Akut (AHPND) yang dapat terjadi dalam 30 hari pertama setelah menebar benih ke kolam pertumbuhan yang dapat menyebabkan kematian dini. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang menjajah saluran gastrointestinal udang dan menghasilkan racun yang menyebabkan kerusakan jaringan dan disfungsi hepatopurbana (organ pencernaan udang). Pelakunya adalah bakteri Vibrio parahaemolyticus (Vp), bakteri yang cukup umum di air asinn payau, yang jika tertelan, dapat menyebabkan penyakit gastrointestinal pada manusia. Sejauh ini,pihak peneliti masih terus melalukan research and development pada kasus ini, untuk memecahkan masalah dan menemukan solusinya.

Sesi berikutnya dilanjutkan penjelasan oleh Dr. Kismiyati selaku perwakilan staf akademik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya mengenai “The Challenge of Parasitic Diseases In Aquaculture : An Indonesian Perspective (Tantangan penyakit yang disebabkan oleh parasit dalam akuakultur, berdasarkan perspektif orang Indonesia). Disebutkan bahwa di Indonesia juga terdapat tantangan tersendiri untuk menghadapi penyakit parasit pada bidang budidaya. Penyampaian presentasi oleh Dr. Kismiyati merupakan penutup acara pada sesi ini sebelum “jamuan” makanan khas Malaysia lalu tour campus and hatchery milik UMT dan kembali ke penginapan masing-masing.

“Sesi foto sesaat setelah penyampaian materi”

Pukul 19.45 kami dipersilahkan untuk menghadiri makan malam di BB SEAFOOD GONG BADAK yang terletak tidak begitu jauh dari lokasi penginapan. Serta hadir pula bp. Naib dan Profesor Dato’ Dr. Nor Aleni Haji Mokhtar selaku konselor UMT(beserta staff). Disana kami dapat menikmati aneka olahan seafood yang sudah disediakan.

 

Senin, 27 November 2017

Pukul 08.15 tepat, kami melakukan kunjungan ke Tasik Kenyir. Tasik Kenyir (Danau Kenyir) adalah Danau Buatan terbesar yang terdapat di Asia Tenggara, yang terletak di Timur Laut Malaysia dan dibuat pada tahun 1985. Danau ini memiliki luas sekitar 2.600km²,  dan terdapat pula 340 kecil didalamnya. Danau ini merupakan suatu Objek Wisata yang sangat diminati oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Di perjalanan, kami mendapat kesempatan untuk melihat KJA (Keramba Jaring Apung) yang merupakan milik pihak swasta . KJA adalah media pembudidayaan komoditas ikan air tawar seperti  ikan patin (Pangasius pangasius) ,ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan ikan Lele (Clarias bathracus) yang sesaat setelah panen ,hasilnya akan langsung di distribusikan ke Kuala Lumpur.

“Pak Kustiawan, Dosen FPK UNAIR sedang memberikan pakan di KJA Tasik Kenyir”

Setelah meninjau KJA, kami mengunjungi  Taman Herba yang terletak di Pulau Sah kecil di Tasik Kenyir. Kami diberikan kesempatan untuk mencoba ramuan herbal seperti Kacip Fatimah,Mas Contek, Kayu Manis, Sekentut hingga Tongkat Ali  yang memiliki berbagai khasiat nya masing-masing. Setelah itu kami makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Pasar Payang yang merupakan tempat untuk membeli oleh-oleh sebelum kembali ke penginapan dan persiapan karena esok hari,tepatnya tanggal 28 November 2017 kami harus kembali ke Tanah Air,Indonesia.

 

Selasa, 29 November 2017

                Pagi hari kami sudah siap menuju bandara untuk terbang ke Kuala Lumpur sebelum terbang ke Jakarta (untuk transit) dan kembali ke Surabaya,Indonesia.

 

Penulis : Rafi Adi Syahputra dan Alvita Salsabila Asti

Editor   : Annur Ahadi Abdillah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *