Surabaya – Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) menjadi tuan rumah Workshop Asian Fish Welfare Network (AFWN) Project pada 21–22 April 2026 di Surabaya. Kegiatan ini menandai peluncuran resmi AFWN di Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam mendorong peningkatan kesejahteraan ikan budidaya sebagai fondasi akuakultur berkelanjutan.
Workshop ini diselenggarakan oleh University of Stirling melalui Institute of Aquaculture sebagai bagian dari proyek AFWN periode 2025–2028 yang berfokus pada Thailand, Vietnam, dan Indonesia.
Peluncuran Resmi AFWN di Indonesia
Kegiatan hari pertama dilaksanakan pada Selasa, 21 April 2026, di FPK UNAIR, Surabaya. Peluncuran AFWN di Indonesia menjadi momentum penting dalam memperluas jejaring kerja sama internasional di bidang kesejahteraan ikan budidaya.
Acara dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III FPK UNAIR, Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D., yang menyampaikan apresiasi atas terpilihnya FPK UNAIR sebagai tuan rumah pendamping dalam lokakarya internasional ini. Ia menegaskan bahwa keterlibatan FPK dalam AFWN merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas akademik, riset, dan kolaborasi global di bidang akuakultur.
Sambutan turut disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suyasa, M.S. dari Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Ia menyambut secara khusus tim proyek dari University of Stirling yang hadir, yakni Prof. Dave Little, Dr. Simão Zacarias, serta Tanya Kay. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan tinggi, lembaga vokasi, pemerintah, dan mitra internasional dalam membangun sistem produksi akuakultur nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Paparan Konsep dan Prinsip Kesejahteraan Ikan
Pada sesi utama, Dr. Simão Zacarias memaparkan latar belakang dan tujuan AFWN, termasuk peluang pendanaan riset serta kolaborasi internasional yang terbuka bagi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kesejahteraan ikan mencakup kondisi fisik dan mental yang dapat diukur melalui indikator ilmiah seperti respons stres, kualitas air, kepadatan tebar, manajemen pakan, serta metode penanganan, panen, dan penyembelihan.
Sebagai contoh, penerapan metode stunning sebelum penyembelihan untuk meminimalkan stres, serta pengelolaan kualitas air berbasis monitoring berkala, terbukti mampu menekan mortalitas dan meningkatkan mutu hasil produksi. Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada etika produksi, tetapi juga pada efisiensi usaha.
Di Indonesia, praktik seperti penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), pengaturan kepadatan tebar pada budidaya nila dan lele, serta peningkatan sistem aerasi pada tambak intensif telah menunjukkan arah perbaikan kesejahteraan ikan. Namun, pendekatan tersebut masih memerlukan penguatan melalui indikator terstandar dan sistem evaluasi berbasis data ilmiah.
Ke depan, AFWN mendorong pengembangan protokol nasional kesejahteraan ikan yang dapat diintegrasikan dalam standar sertifikasi, kurikulum pendidikan, dan kebijakan industri. Upaya ini berpotensi meningkatkan daya saing produk akuakultur Indonesia di pasar global sekaligus memperkuat citra produksi yang bertanggung jawab dan berbasis sains.
Diskusi Interdisipliner dan Identifikasi Tantangan Nasional
Diskusi interaktif yang dipandu Prof. Dave Little dan Dr. Zacarias menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner. Kesejahteraan ikan tidak hanya menjadi isu kesehatan ikan, tetapi juga berkaitan dengan nutrisi, teknologi budidaya, manajemen lingkungan, sosial-ekonomi pembudidaya, hingga kebijakan publik dan rantai pasok.
Beberapa topik yang menjadi fokus diskusi antara lain tantangan implementasi welfare pada pembudidaya skala kecil, keterbatasan data ilmiah terkait stres dan mortalitas ikan di Indonesia, praktik penanganan saat panen dan transportasi, serta integrasi prinsip kesejahteraan dalam regulasi dan standar sertifikasi nasional.
Main concern AFWN adalah membangun pendekatan berbasis bukti (evidence-based) yang aplikatif dan realistis di lapangan. Peningkatan kesejahteraan ikan diharapkan tidak menjadi beban tambahan bagi pembudidaya, melainkan menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas hasil.
Dalam sesi kerja kelompok bertajuk “Jalur Pengembangan untuk Mendukung Kesejahteraan Ikan dalam Rantai Produksi Akuakultur di Indonesia”, peserta mengidentifikasi kesenjangan praktik, merumuskan prioritas riset, serta menyusun peta jalan kolaborasi nasional yang dapat ditindaklanjuti bersama.
Peserta dan Manfaat Kegiatan
Workshop ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta yang terdiri atas dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana, serta perwakilan industri dan pemerintah.
Bagi FPK UNAIR, kegiatan ini memberikan manfaat strategis berupa peluang kolaborasi riset internasional dengan University of Stirling, akses informasi pendanaan penelitian dan Peluang beasiswa magister, serta potensi pengembangan joint research, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga publikasi jurnal ilmiah bereputasi.
Dari sisi penelitian, AFWN membuka ruang pengembangan topik baru seperti indikator stres ikan lokal, evaluasi metode penyembelihan yang lebih humanis, serta kajian sosial-ekonomi implementasi kesejahteraan pada pembudidaya kecil. Dari sisi pendidikan, materi kesejahteraan ikan berpotensi diintegrasikan dalam kurikulum budidaya, kesehatan ikan, dan manajemen produksi berbasis One Welfare.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, FPK UNAIR mempertegas komitmennya dalam mendukung SDGs 14 (Life Below Water) dan SDGs 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan internasional dan pengembangan riset akuakultur berkelanjutan yang berdampak nyata bagi sektor perikanan Indonesia.
Penulis : AAZ
Editor : TPA



