FPK NEWS – Senin pagi (9/8/2021), Badan Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok bersama Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR menggagas webinar dengan bertajuk ‘Arwana Talk’. Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian dari ‘Merah Putih Ikan Hias webinar series’ yang dilaksanakan sebanyak lima kali hingga tanggal 18 Agustus 2021.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kepala Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Yayan Hikmayani, S.Pi, M.Si, mengungkap bahwa perkembangan ekonomi global sedang mengalami penurunan akibat pandemi. Tetapi ia juga menyampaikan kabar gembira bahwa sektor perikanan Indonesia masih dapat bertahan di tengah kondisi yang seperti sekarang. Ia menambahkan bahwa angka ekspor komoditas perikanan Indonesia seperti rumput laut, udang, dan tuna mengalami kenaikan.
Ibu Yayan, sapaan akrab beliau, mengungkap nilai ikan hias Indonesia pada tahun 2019 berada pada angka 10,5 persen di pasar ikan hias dunia. Beberapa tujuan ekspornya yakni Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Tiongkok, dan Singapura.
“Berdasarkan angka sementara Badan Pusat Statistik nilai ekspor ikan hias Indonesia pada periode Januari sampai Maret 2021 (puncak pandemi) mencapai 9,2 juta USD,” terangnya.
Ikan hias menjadi komoditas unggulan ekspor di masa pandemi sekarang. Hal tersebut disebabkan karena fungsinya yang dapat dijadikan objek hiburan saat orang di rumah dan saat lockdown. Pengaruh besar dari tumbuhnya perekonomian Indonesia menjadi nomor satu ikan hias di dunia yakni adanya kolaborasi dan sinergitas. Ibu Yayan menjelaskan terkait pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) 2020-2024 dengan penetapan strategi pembangunan ikan hias yang meliputi kualitas produksi, promosi, konservasi spesies, habitat ikan hias endemik, dan edukasi publik. “Peta jalan percepatan pengembangan industri ikan hias secara nasional harus dibangun sinergi dari hulu hingga hilir,” tegas beliau.
Dekan FPK UNAIR, Prof. Dr. Mohammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. mengajak audiens untuk berfokus pada penyelesaian masalah di sebelas sektor perekonomian bidang kelautan. Sektor-sektor yang dimaksud meliputi perikanan tangkap, budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi perikanan dan kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, hutan bakau, perhubungan laut, sumber daya wilayah, pulau-pulau kecil, industri jasa maritim, dan sumber daya alam non konvensional.
Antusiasme Peserta Webinar 09/08/2021 (Sumber: Istimewa)
Prof. Amin, sapaa akrab beliau, memaparkan bahwa menurut hasil kajian dari para peneliti, sebanyak 1,33 triliun USD masih menjadi potensi dari kekayaan yang dimiliki sumber daya laut Indonesia. Di lain sisi, seperti lapangan pekerjaan diperkirakan akan memberikan kesempatan 45 juta orang. Hal tersebut memiliki arti bahwa potensi pengembangan perikanan dan kelautan sangatlah luas.
“Tingkat pemanfaatan ekonomi kelautan perikanan Indonesia saat ini hanya seperempat dari total potensinya,” jelas beliau. Di lain sisi juga, dengan adanya revolusi industri 4.0 terdapat hal baru yang harus disiapkan dengan baik. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan yakni kesiapan industri, tenaga kerja yang handal, mengatur proses yang membantu penataan sosial budaya di kehidupan masyarakat, serta meningkatkan diversifikasi dan penciptaan lapangan kerja.
“Dengan rasa bangga dan syukur, koordinasi antara Badan Riset Budidaya Ikan Hias KKP dan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, kami harap bisa mendorong beberapa inovasi yang memungkinkan kita meningkatkan potensi perekonomian sekaligus menimbulkan rasa cinta terhadap produk Indonesia. Mungkin juga kerjasama ini bisa kita lanjutkan dalam beberapa aspek yang lain, baik dalam riset maupun pengabdian masyarakat,” tandasnya.
Prof. Amin saat memberikan sambutan pada Webinar Series 08/09/2021 (Sumber: Istimewa)
Penulis: Muhammad Ichwan Firmansyah (THP 2020)
Editor: Ayu Lana Nafisyah











