Alat Tangkap Bubu Apung

By humas FPK On Selasa, Agustus 03 rd, 2021 · no Comments · In

Bubu Apung merupakan salah satu alternatif untuk menangkap ikan pelagis yang memberi peluang terhadap hasil tangkapan dalam jumlah yang banyak serta tentunya tidak merusak ekosistem perairan. Keunggulannya tidak bersentuhan langsung dengan dasar perairan dan tidak merusak karang, bisa dioperasikan 1 atau 2 orang dan lebih mudah dikontrol. Pasalnya dalam pengoperasiannya, Bubu Apung hanya digantungkan di bawah rakit pada kedalaman tertentu. Adapun sisi konstruksi Bubu Apung memiliki 4 macam pintu, yaitu pintu depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan. Uniknya bahan pembuatannya pun cukup sederhana, yakni besi, jaring dan daun kelapa.

Bubu apung alternatif alat tangkap ikan yang ramah lingkungan (Sumber: mongabay.co.id)

Ada pula pengaruh keberhasilan tangkapan dengan Bubu Apung, antara lain:  Musim, Pintu masuk (entrance) bubu dan tingkah laku ikan pelagis (Gunarso, 1985). Pada Beberapa contoh ikan tangkapannya ialah ikan layang (Decapterus sp.), ikan Sersan Indo-Pasifik (Abudefduf vaigiensis), dan ikan selar (Selaroides sp.).

Dalam prosesnya, saat ada ikan besar menyerang, ikan kecil masuk dalam bubu dan didapatilah hasil tangkapan. Hal itu berlangsung dalam kurun waktu  maksimal 3 hari. Menurut Rompis (2019), dalam waktu 72 jam ikan sudah bisa mengenali lingkungan bubu yang nantinya keluar dengan sendirinya.

Desain alat tangkap bubu apung (depan/belakang) ukuran 2×1 m (Sumber: Rompis, 2019)

Referensi

Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Diktat kuliah. Institut Pertanian Bogor.

https://www.mongabay.co.id/2018/10/11/inilah-bubu-apung-perangkap-ikan-tanpa-merusak-karang/. Diakses pada 02/08/2021

Rompis, J., Paransa, I. J., & Pamikiran, R. D. C. 2019. Pengaruh posisi pintu masuk (entrance) bubu apung terhadap hasil tangkapan pada rumpon laut dangkal. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap, 4(1) :1-5.

 

Penulis : Viradyah Lulut Santosa (Akuakultur, 2019)

Editor    :  Putri Arisandi (Akuakultur, 2019)

 480 total views,  8 views today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *