SURABAYA – Alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR), Vito Reyner Adriananda, berhasil mengembangkan bisnis budidaya rumput laut hingga pasar ekspor. Lulusan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) angkatan 2021 tersebut kini menjabat sebagai Direktur PT Rejeki Bintang Samudra (RBS).
Berawal dari Pendidikan di FPK UNAIR
Vito mendirikan PT RBS bersama rekannya pada 2022. Perusahaan tersebut bergerak pada bidang budidaya rumput laut di Jawa Timur. Saat ini, RBS mengembangkan komoditas Gracilaria verrucosa melalui sistem polikultur bersama ikan bandeng.
Selama kuliah di FPK UNAIR, Vito aktif dalam kegiatan akademik, organisasi, dan kepanitiaan. Ia juga terlibat dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Berbagai pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan dan komunikasi yang mendukung perjalanan bisnisnya.
Vito mengaku sebelumnya tidak banyak memahami sektor perikanan. Latar belakangnya sejak kecil justru lebih dekat dengan teknologi informasi. Namun, pembelajaran di FPK UNAIR memperkenalkannya pada berbagai peluang di sektor perikanan.
“Selama kuliah saya melihat bahwa sektor perikanan memiliki peluang yang sangat besar, mulai dari budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga pemanfaatan limbah yang dapat menghasilkan nilai tambah.”
Pengalaman tersebut menunjukkan peran pendidikan dalam membangun kompetensi generasi muda. Hal ini sejalan dengan SDGs 4 (Quality Education) melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam dunia kerja maupun kewirausahaan.
Kembangkan Budidaya hingga Pasar Ekspor
Sistem polikultur dipilih karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak. Sistem tersebut juga memungkinkan dua komoditas dikembangkan dalam satu siklus produksi.
Pada tahap awal, Vito menangani aspek manajerial dan administrasi. Rekannya bertanggung jawab terhadap operasional lapangan. Pengembangan usaha kemudian mendapat dukungan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada 2023.
Dukungan tersebut membantu pengembangan proyek budidaya RBS di Gresik. Proyek pertama perusahaan berada di kawasan Gunung Anyar, Surabaya. Bagi Vito, proyek tersebut menjadi pengalaman yang paling berkesan.
“Proyek pertama selalu memiliki tempat tersendiri karena menjadi fondasi dari seluruh perjalanan dan pencapaian berikutnya.”
Saat ini, RBS telah mengelola lebih dari 27 hektare lahan budidaya. Lokasinya tersebar di Gunung Anyar, Porong, dan Ujungpangkah, Gresik. RBS juga mempersiapkan ekspansi ke Kalanganyar, Sedati.
Produk rumput laut kering RBS telah menembus pasar Asia Timur. Negara tujuan ekspornya meliputi Tiongkok, Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Kolaborasi untuk Mengembangkan Potensi Perikanan
Perjalanan Vito memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan usaha perikanan. Kerja sama dengan rekan bisnis dan dukungan program kewirausahaan menjadi bagian dari proses pengembangan RBS.
Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan SDGs 17 (Partnerships for the Goals). Pendidikan, kewirausahaan, dan kemitraan dapat menjadi kekuatan dalam meningkatkan daya saing sektor perikanan Indonesia.
Vito berharap generasi muda dapat melihat sektor perikanan sebagai bidang yang memiliki peluang luas. Menurutnya, peluang tersebut tidak hanya berasal dari penjualan bahan mentah.
“Peluang di sektor perikanan tidak hanya berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi juga terbuka luas melalui hilirisasi dan diversifikasi produk yang bernilai tambah.”
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA





