Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

ANISAKIASIS PADA PRODUK IKAN KALENG: BERBAHAYA ATAU TIDAK ?

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

ANISAKIASIS PADA PRODUK IKAN KALENG: BERBAHAYA ATAU TIDAK ?

Bagikan

ANISAKIASIS PADA PRODUK IKAN KALENG: BERBAHAYA ATAU TIDAK ?

Awal tahun 2018, terdapat 27 merek produk olahan ikan kaleng terbukti positif mengandung parasit cacing Anisakis. Cacing ini termasuk dalam golongan endoparasit yang banyak menginfeksi ikan karnivora laut. Beberapa penelitian sudah banyak melaporkan dan menemukan parasit Anisakis yang menginfeksi beberapa spesies ikan laut seperti Horse Mackerel (Trachurus trachurus) di Maroko (Shawket et al. 2017); Alosa alosa dan Alosa fallax di Semenanjung Iberia (Bao et al. 2015) serta ikan European Hake (Merluccius merluccius lessepsianus) di Perairan Mesir (Abou-Rahma et al. 2016). Di Indonesia sendiri, cacing Anisakis sudah pernah dilaporkan keberadaannya menginfeksi ikan Tongkol dan ikan Layang di Perairan Sulawesi Barat (Hafid dan Anshary, 2016); ikan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus) (Muttaqin dan Abdulgani, 2013) dan ikan Kerapu Lumpur (Ephinephelus sexfaciatus) (Arifuddin dan Abdulgani, 2013) di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Brondong Lamongan; serta ikan hasil tangkapan di Perairan Muncar Banyuwangi (Ulkhaq dkk., 2019).

Secara morfologi, cacing Anisakis memiliki bentuk silinder memanjang, berukuran panjang 21,60±3,47 mm dan lebar 0,41±0,05 mm (Murata et al. 2011), berwarna putih atau putih krem dan ditemukan melingkar dalam tubuh ikan. Keberadaan cacing Anisakis dalam tubuh ikan terakumulasi dalam saluran pencernaan (lambung, usus, pyloric caeca) dan dapat menembus keluar organ pencernaan menuju hati, gonad, ginjal, daging dan otot ikan pada kondisi yang parah (Shweiki et al. 2014).

Masuknya cacing Anisakis dalam tubuh ikan dikarenakan ikan memakan udang kecil atau moluska yang didalam tubuhnya terkandung larva Anisakis. Dalam tubuh ikan, cacing Anisakis akan berkembang menjadi cacing dewasa dan akan menginfeksi inang utamanya yaitu manusia. Manusia akan terinfeksi cacing Anisakis karena memakan ikan mentah atau ikan yang tidak dimasak secara sempurna yang didalam tubuh ikan tersebut terkandung larva cacing Anisakis (Klimpel et al. 2010).

Infeksi cacing Anisakis pada ikan akan menyebabkan terjadinya inflamasi/peradangan, pendarahan, luka dan nekrosis sel terutama pada bagian saluran pencernaan sehingga berakibat pada gangguan pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan. Sedangkan pada manusia, infeksi cacing Anisakis menyebabkan penyakit Anisakiasis yang merupakan salah satu golongan penyakit zoonosis/penyakit yang diakibatkan infeksi hewan (Sangaran and Sundar, 2016). Gejala anisakiasis pada manusia ditandai dengan luka pada saluran pencernaan, mual, muntah, demam, serta diare berdarah yang muncul setelah 5-7 hari pasca mengkonsumsi ikan mentah. Selain itu, anisakiasis pada manusia juga menunjukkan gejala alergi seperti ruam merah pada kulit dan gatal (Ishikura and Namiki, 1989).

Kejadian Anisakiasis telah dilaporkan pada beberapa negara seperti Italia yang mengakibatkan gastroallergic pada manusia dikarenakan konsumsi ikan yang kurang matang. Tidak hanya di Italia, di beberapa negara lain juga telah dilaporkan kejadian Anisakiasis yaitu di Belanda, Spanyol, Hawai, Amerika Selatan, Australia, Amerika Serikat. Salah satu pasien Anisakiasis di China telah dilaporkan mengidap kanker usus besar karena infeksi cacing Anisakis (Baird et al. 2014).

Melihat akibat yang sangat merugikan bagi manusia, beberapa cara dilakukan untuk mencegah penyakit Anisakiasis, diantaranya: (Topuz and Gokoglu, 2017)

  1. Memasak seafood dengan benar pada suhu minimal 60 °C selama minimal 10 menit atau
  2. Membekukan seafood sebelum dimasak pada suhu -20 °C selama 7 hari atau -35°C selama 15 jam atau
  3. Menggarami ikan dengan NaCl atau garam kasar

Referensi:

Shawket, N., El Aasri, A., Elmadhi, Y., Bareack, IM., Kharrim, KE., Belghyti, D. 2017. Anisakis simplex (Nematoda: Anisakidae) from horse mackarel (Trachurus trachurus) in Atlantic coast of Morocco. Asian Pasific Journal of Tropical Disease 7(8): 463-466.

Bao, M., Mota, M., Nachou, DJ., Antunes, C., Cobo, E., Garci, ME., Pierce, GJ., Pascual, S. 2015. Anisakis infection in allis shad, Alosa alosa (Linnaeus, 1758), and twaite shad, Alosa fallax (Lacepede, 1803), from Western Iberian Peninsula Rivers: zoonotic and ecological implications. Parasitology Research 114: 2143-2154.

Abou-Rahma, Y., Abdel-Gaber, R., Ahmed, AK. 2016. First Record of Anisakis simplex Thrid-Stage Larvae (Nematoda, Anisakidae) in European Hake Merluccius merluccius lessepsianus in Egyptian Water. Journal of Parasitology Research 2016:1-8.

Hafid, MD., Anshary, H. 2016. Keberadaan Anisakis typica (Anisakidae) dari Ikan Tongkol dan Ikan Layang dari Perairan Sulawesi Barat. Jurnal Sain Veteriner 34(1): 102-111.

Muttaqin, MZ., Abdulgani, N. 2013. Prevalensi dan Derajat Infeksi Anisakis sp. pada Saluran Pencernaan Ikan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus) di Tempat Pelelangan Ikan Brondong Lamongan. Jurnal Sains dan Seni Pomits 2(1): 30-33.

Ariffudin, S., Abdulgani, N. 2013. Prevalensi dan Derajat Infeksi Anisakis sp. pada Saluran Pencernaan Ikan Kerapu Lumpur (Epinephelus sexfaciatus) di TPI Brondong Lamongan. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. 4 hal.

Ulkhaq, MF., Budi, DS., Kenconojati, H., Azhar, MH. 2019. Insidensi dan Derajat Infeksi Anisakiasis pada Ikan Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Veteriner 20(1): 101-108.

Murata R, Suzuki J, Sadamasu K, Kai A. 2011. Morphological and molecular characterization of Anisakis larvae (Nematoda: Anisakidae) in Beryx splendens from Japanese waters. Par Int 60: 183-198.

Shweiki E, Ritenhouse DW, Ochoa JE, Punja VP, Zubair MH, Bellit JP. 2014. Acute Small-Bowel Obstruction from Intestinal Anisakiasis After the Ingestion of Raw Clams; Documanting a New Method of Marine- to-Human Parasitic Transmission. Brief Report. OFID. 1-5.

Klimpel S, Busch MW, Kuhn T, Rohde A, Palm HW. 2010. The Anisakis simplex complex off the South Shetland Islands (Antarctica): Endemic Populations Verses Introductory Through Migratory Hosts. Marine Ecology Progress Series 403: 1-11.

Sangaran, A., Sundar, STB. 2016. Fish and Shellfish Borne Parasitic Infections- A Review. International Journal of Science, Environtment and Technology 5(5): 2954-2958.

Ishikura, H. Masayoshi, N. 1989. Gastric Anisakiasis in Japan Epidemiology, Diagnosis, Treatment. Springer-Verlag Tokyo. 145p.

Baird, FJ., Gasser, RB., Jabbar, ALAL. 2014. Foodborne anisakiasis and allergy. Molecular and Cellular Probes. Inpress.

Topuz, OK., Gokoglu, N. 2017. Anisakiasis: Parasitic Hazard in Raw or Uncooked Seafood Products and Prevention Ways. Journal of Food and Health Science 3(1): 21-28.

Penulis:

Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si.
(PSDKU – Banyuwangi)
Email: m-faizalulkhaq@fpk.unair.ac.id

5/5