Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Belida Jawa: Penelusuran Ikan Lokal Sungai Brantas dan Ancaman Terbaru

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Belida Jawa: Penelusuran Ikan Lokal Sungai Brantas dan Ancaman Terbaru

Bagikan

Sungai Brantas adalah salah satu sungai terpanjang di Jawa dan terpanjang di Jawa Timur. Hulu sungai berada di lereng Gunung Arjuno, melalui beberapa Kota dan Kabupaten di Jawa Timur kemudian bermuara di Selat Madura. Sejak dahulu sungai Brantas dikenal menyimpan potensi perikanan darat yang mempuni. Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga Ecoton, belakangan ini populasi ikan kian menurun akibat aktivitas penangkapan berlebih dan pencemaran sungai. Salah satu ikan lokal yang keberadaan semakin mengkhawatirkan adalah belida jawa (Notopterus notopterus) atau dalam bahasa lokal disebut ikan papar. Belida jawa memiliki ciri-ciri fisik warna perak gelap, bentuk pipih seperti pisau, tidak memiliki punuk seperti kerabatnya, belida sumatra (Chitala lopis), dan mampu tumbuh mencapai ukuran 50-60 cm.

 

Pemanfaatan belida jawa bervariasi setiap wilayah. Misalnya di Sumatra, belida jawa merupakan bahan baku empek-empek kualitas premium, sehingga harga dan permintaan daging belida jawa cukup tinggi sedangkan stok di alam semakin menipis. Di sepanjang aliran sungai Brantas, belida jawa hanya berupa ikan tangkapan sampingan dan memiliki nilai ekonomi rendah. Meski bukan ikan tangkapan utama, keberadaan belida jawa saat ini juga sudah jauh berkurang sehingga perlu upaya perlindungan.

 

Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No.716/Kpts/UM/10/1980 dan PP. Nomor 7 tahun 1999, pemerintah Indonesia telah memberikan status belida jawa sebagai satwa dilindungi. Akan tetapi status tersebut tidak banyak memberikan perubahan siginifkan: Belida jawa terus ditangkap dan minim upaya penangkaran. Meskipun memiliki nama yang identik dengan “Jawa”, namun ikan tersebut sebenarnya tersebar luas mulai dari Asia Selatan sampai Indonesia bagian barat. Hanya saja kondisinya tidak lebih baik daripada kondisi di Sungai Brantas, Jawa Timur.

 

Belida jawa termasuk salah satu ikan air tawar yang sulit ditangkarkan. Diantaranya ikan tersebut memiliki pertumbuhan yang relatif lambat, siklus reproduksi yang tidak terjadi sepanjang tahun dan makanannya yang ekslusif beruapa crustacea kecil. Karakteristik itulah yang membuat belida jawa sulit untuk bertahan di alam dengan kondisi seperti sekarang. Oleh karena itu dibutuhkan tidak hanya sekedar peraturan pemerintah yang menetapkan belida jawa sebagai hewan langka, namun semua pihak yang terkait dengan upaya perlindungan spesies dan terjaga kondisi habitat asalnya harus turut serta. Terutama mahasiswa dalam hal ini tidak hanya aktif dalam mengkampanyekan perlindungan belida jawa, namun juga ditantang untuk menemukan formulasi yang tepat dalam upaya penangkaran. Misalnya dari segi percepatan pematangan gonad, kualitas air, nutrisi dan hama penyakit pada belida jawa.

 

Penulis:
Wahyu Isroni
(Departemen MKI-BP)
Email: wahyu.isroni@fpk.unair.ac.id

5/5