Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) menjadi salah satu komoditas ekspor non-migas yang signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap devisa negara. Sejak pemerintah menggalakkan program intensifikasi tambak, budidaya udang windu di Indonesia berkembang pesat. Namun, keberhasilan budidaya ini dihadapkan pada kendala keterbatasan produksi benur.
Untuk mengatasi kendala tersebut, upaya pembenihan udang windu dilakukan, baik dalam skala kecil maupun mini hatchery serta oleh instansi pemerintah. Salah satu contoh kegiatan pembenihan ini dilakukan di Pusat Pembenihan Udang (PPU) di Desa Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di PPU ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam teknik pemeliharaan larva udang windu serta memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi. Metode kerja yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data melalui partisipasi aktif, observasi, wawancara, dan studi pustaka.
Dalam proses pembenihan, bak dan peralatan dicuci dengan kaporit dan dikeringkan. Induk udang didatangkan dari Situbondo dalam keadaan matang telur. Naupli ditebar dengan kepadatan 100-150 ekor per liter, dan air dalam bak diberi antibiotik. Penyiponan dan sirkulasi air dilakukan secara rutin untuk menjaga kualitas air.
Pemeliharaan larva dilakukan dalam bak semen dengan media air laut berkadar garam 28-32 ppt dan suhu air antara 28-32°C. Pakan yang diberikan adalah pakan alami dan buatan untuk setiap stadia perkembangan larva. Untuk mencegah bakteri dan jamur, digunakan erythromycin dan treflan.
Benur dipanen ketika mencapai ukuran PL 12 atau sesuai permintaan konsumen, kemudian dikemas dalam kantong plastik berisi oksigen. Dengan teknik dan pengelolaan yang baik, budidaya udang windu memiliki potensi besar untuk terus meningkatkan kontribusinya terhadap devisa negara.



