Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

CIRI SEKSUAL PADA IKAN

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

CIRI SEKSUAL PADA IKAN

Bagikan

Pengetahuan mengenai perbedaan jenis kelamin dalam budidaya ikan sangat penting dalam penentuan induk jantan dan betina yang akan digunakan dalam proses pemijahan pada kegiatan pembenihan ikan. Pada umumnya suatu spesies ikan terdiri dari dua jenis kelamin, betina dan jantan. Penentuan jenis kelamin ikan dapat dilakukan dengan mengetahui perbedaan ciri kelamin (seksual) pada ikan jantan dan ikan betina. Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual sekunder dan ciri seksual primer.

 Ciri seksual primer

Ciri seksual primer merupakan ciri seksual yang berhubungan secara langsung dengan proses reproduksi, dalam hal ini adalah organ-organ reproduksi dan hormon-hormon yang mempengaruhinya. Organ reproduksi yang menghasilkan sel kelamin disebut gonad. Gonad ikan meliputi ovarium dan pembuluhnya (oviduk) pada betina; serta testis dan pembuluhnya (spermduk) pada jantan. Gambar 1. merupakan ilustrasi bentuk umum dari gonad dan saluran (pembuluh) kelamin pada ikan. Ovarium dan testis, biasanya berjumlah sepasang terletak membujur didalam rongga perut terhubung dengan saluran gonad (spermduk atau oviduk) yang selanjutnya ke arah luar melalui lubang genital (genital pore). Dalam hubungan antara gonad dan salurannya serta ginjal dan salurannya, sebagian kecil spesies ikan tidak memiliki oviduk yang sempurna contohnya pada ikan-ikan salmonid sehingga telur mengumpul bebas di dalam rongga perut sebelum dikeluarkan melalui lubang genital. Sebagian besar spesies ikan memiliki oviduk yang sempurna dapat langsung mengeluarkan telur melalui lubang genital.

Gambar 1. Susunan yang umum pada gonad ikan jantan dan betina (Purdom, 1993)

Pada umumnya kelamin ikan jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat saluran kelaminnya. Pada ikan betina, telur dikeluarkan melalui oviduk (saluran telur) yang terpisah dari saluran kencing (uretra); sedangkan pada ikan jantan, sperma dikeluarkan melalui saluran sperma yang menyatu dengan saluran kencing (uretra) yang umumnya berbentuk menonjol seperti penis pada mamalia dan disebut dengan papila genital (Gambar 2.).

Gambar 2. Saluran kelamin pada ikan nila (Oreochromis niloticus) betina dan jantan (Bard et al. 1974)

Selama tahap awal perkembangan embrio, sel germinal (sel kelamin) tidak mengalami perkembangan sampai unsur somatik dari gonad (membran eksternal dan jaringan interstitial) berkembang pada saat tahap akhir organogenesis. Pada ikan, tahap ini berlangsung saat larva ikan telah menetas dan mulai makan. Selama proses organogenesis sel germinal diduga bermigrasi ke posisinya untuk membentuk bagian dari gonad dan mulai berkembang menjadi oogonium atau spermatogonium ketika telah terjadi diferensiasi seksual jantan atau betina. Seiring dengan perubahan ini, sel-sel interstitial dari gonad (jaringan non germinal) mulai memproduksi hormon seks yang menentukan karakteristik seksual sekunder berikutnya mulai dari dimorfisme hingga perilaku seksual.

Secara umum, jaringan interstitial dari gonad menghasilkan hormon seks steroid dalam merespon pesan hormonal dari kelenjar hipofisis di pangkal otak. Sumbu hipofisis-gonad ini mengontrol ekspresi seksualitas yang meliputi pengembangan, pematangan dan pelepasan gamet (sperma dan ovum) sebagai respon terhadap iklim atau isyarat musiman. Melalui cara ini, siklus seksual ikan erat kaitannya dengan keadaan lingkungan. Sehingga dalam situasi praktis, masalah-masalah reproduksi yang muncul karena faktor alam dapat diatasi dengan manipulasi lingkungan (cahaya atau suhu) atau dengan pemberian hormon seks secara langsung.

Sebelum memasuki fase remaja (juvenil), umumnya ikan tidak bisa dikenali jenis kelaminnya. Hal ini terjadi karena kelamin ikan belum terdiferensiasi secara sempurna. Meskipun secara genetis ikan terdiri dari jantan dan betina (XX dan XY, WW dan WZ), namun faktor lingkungan lebih mempengaruhi diferensiasi kelaminnya. Sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan kelamin ikan secara fungsional dan genetis. Maka dari itu, penentuan jenis kelamin ikan dapat dianggap plastis. Jenis kelamin ikan tidak dapat diketahui saat ikan tersebut baru menetas. Kelamin ikan dapat diketahui setelah sel kelamin telah terdiferensiasi sempurna, tidak seperti pada mamalia yang jenis kelaminnya dapat diketahui sejak lahir. Hal ini dikarenakan adanya interaksi lingkungan yang menentukan jenis kelamin pada ikan. Bahkan beberapa spesies ikan memiliki sifat hermaproditisme (kelamin ganda).

 

Ciri Seksual Sekunder

Ciri seksual sekunder adalah ciri kelamin yang dapat ditandai dengan melihat ciri-ciri fisik untuk membedakan ikan jantan dan betina. Namun, tidak semua jenis ikan bisa dibedakan jenis kelaminnya hanya dengan melihat ciri-ciri fisiknya, contohnya ikan ringau (Datnioides micrrolepis) yang sangat sulit dibedakan jenis kelaminnya sehingga sering kali terjadi kesalahan dalam pemilihan induk (Sirikul et al., 1994). Jenis ikan yang memiliki morfologi (bentuk dan ukuran tubuh) yang jelas berbeda antara ikan jantan dan betina maka ikan tersebut memiliki ciri dimorfisme seksual. Sedangkan jenis ikan yang memiliki perbedaan warna yang jelas antara ikan jantan dan betina maka ikan tersebut memiliki ciri dikromatisme seksual. Suatu jenis ikan dapat memiliki kedua ciri tersebut atau hanya salah satunya saja, atau bahkan tidak kedua-duanya.

Ciri seksual sekunder pada ikan jantan dan betina berkembang seiring dengan diferensiasi seksual yang terjadi. Seiring dengan perkembangan stadia ikan (larva-benih-juvenil-dewasa), ciri kelamin sekunder akan berkembang menentukan status kelamin ikan tersebut. Ikan jantan biasanya mengembangkan karakteristrik seksual yang lebih ekstrim dari segi morfologi, warna, dan agresivitas. Hal ini dipengaruhi oleh hormon androgen yang diproduksi oleh testis. Secara umum, bentuk sirip ikan jantan lebih panjang, warna ikan jantan lebih cerah dan cemerlang, serta ikan jantan memiliki tingkat agresivitas yang lebih tinggi. Namun dari segi ukuran, pada beberapa spesies, ikan betina memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dari ikan jantan.

Berdasarkan kemunculannya ciri seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual sekunder sementara dan ciri seksual sekunder permanen.

Ciri seksual sekunder  sementara.

Ciri seksual sekunder sementara hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja. Ciri seksual sekunder muncul akibat adanya rangsangan lingkungan pada saat musim pemijahan. Secara umum, ikan yang siap memijah atau birahi menunjukkan beberapa perubahan perilaku dan penampakan tubuhnya yang muncul karena pengaruh hormonal saat ikan sedang birahi. Perubahan ini merupakan salah satu bentuk adaptasi reproduksi yang dikembangkan oleh spesies ikan tersebut untuk kelestarian jenisnya.

Ciri seksual sekunder sementara yang muncul pada beberapa spesies ikan di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ovipositor pada ikan Europan bitterling (Rhodeus sericeus), yaitu organ pada ikan betina yang digunakan untuk meletakkan telur pada insang kerang air tawar (Gambar 3.) (Smith et al., 2004);
  2. Adanya semacam jerawat dengan susunan yang khas di atas kepala ikan horny head (Nocomis biguttatus) jantan pada waktu musim pemijahan (Gunderson et al., 2010).
  3. Perubahan warna ikan jantan selama masa pemijahan pada beberapa spesies, misalnya: warna kebiruan pada ikan Pecos pupfish (Cyprinodon pecosensis); warna kehitaman pada ikan Mexican pupfish (Cyprinodon beltrani); warna merah pada kepala dan sirip ikan Duskystripe shiner (Luxilus pilsbryi) (Kodric-Brown, 1998).

Gambar 3. Pemijahan ikan bitterling betina pada insang kerang air tawar: (a) Kepala di bawah untuk memeriksa kerang; (b) Penetrasi organ conical; (c) penetrasi ovipositor pada insang kerang; (d) pencabutan ovipositor (dimodifikasi dari Smith et al., 2004)

Gambar 4. Ciri kelamin sekunder ikan Nocomis biguttatus jantan pada saat siap memijah (Gunderson et al., 2010)

Ciri seksual sekunder permanen

Ciri seksual sekunder yang berciri permanen atau tetap, yaitu tanda ini tetap ada sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan Photocornycus yang berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya. Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda bulatan hitam pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan oleh testis mempunyai peranan pada tanda seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

Gambar 5. Warna merah pada kepala dan sirip ikan Duskystripe shiner (Luxilus pilsbryi) (http://www.fishbase.se/summary/Luxilus-pilsbryi.html,18-08-2015)

Referensi

Gunderson, Jeff; Richards, Carl; and Tucker, Paul, “Aquaculture Potential for Hornyhead Chubs” (2010). NCRAC Technical Bulletins. Paper 5.

Smith, C., Reichard, M., Jurajda, P., & Przybylski, M. (2004). The reproductive ecology of the European bitterling (Rhodeus sericeus). Journal of Zoology,262(02), 107-124.

Sirikul, C., Boonyaratpalin, V., & Kitpemkeart, A. (1994). Breeding and nursing of Siamese tiger fish, Datnioides microlepis Bleeker. In Proceeding of the Seminar on Fisheries 1993 Department of Fisheries, Bangkok (Thailand), 15-17 Sep 1993.

Bard, J., J. Lemasson and J. Lessent, 1974 Manual de piscicultura para a America e a Africa Tropicais. Paris, Centre Technique Forestier Tropical, 183 p.

Purdom, C. E. (1993). Genetics and fish breeding (Vol. 8). Springer Science & Business Media.

Kodric-Brown, A. (1998). Sexual dichromatism and temporary color changes in the reproduction of fishes. American Zoologist38(1), 70-81.

Penulis:

Darmawan Setia Budi
(Prodi Akuakultur – PSDKU Banyuwangi)

Email: darmawansetiabudi@fpk.unair.ac.id

5/5