Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Diadema setosum, Si Hitam Berduri sebagai Pengendali Populasi Algae di Alam

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Diadema setosum, Si Hitam Berduri sebagai Pengendali Populasi Algae di Alam

Bagikan

Bulu babi atau landak laut merupakan organisme avertebrata yang tergolong dalam kelas Echinoidea. Bulu babi yang terkenal di perairan Indonesia pada umunya adalah dari spesies Diadema setosum. Spesies tersebut berasal dari kingdom Animalia, phylum Echinodermata, kelas Echinoidea, ordo Diadematoida, famili Diadematoidae, dan genus Diadema (Jalaluddin dan Ardeslan, 2017). Diadema setosum menurut Alwi et al. (2020) memiliki morfologi diantaranya yaitu, memiliki tubuh bulat bewarna hitam, terdapat duri dan kaki tabung yang dimanfaatkan untuk bergerak dan melindungi diri tubuhnya dari mangsa. Bulu babi yang juga dikenal dengan sebutan sea urchin ini menyebar hampir di seluruh perairan. Populasi bulu babi yang ada di perairan berkisar mencapai 950 jenis, dan diantaranya tersebar di Indonesia sebanyak 84 jenis yang berasal dari 48 ordo, dan 21 famili (Rukmana, 2020).

Bulu babi kaya akan kandungan protein, lipid, glikogen, fosfat, fosfor, vitamin A, B2, B12, asam nikotinik, asam pantotenik, asam folik, dan karotin pada gonadnya. Sehingga bulu babi banyak diburu untuk dijadikan sebagai sumber pangan (Toha, 2006). Tidak hanya itu bulu juga dapat menghasilkan toksin yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan dan juga antibiotik karena terdapat senyawa antibiotik di dalamnya.  Selain itu, bulu babi dapat dimanfaatkan sebagai hiasan dan juga untuk pengobatan penyakit (Akerina et al., 2015).

Di balik penampilannya yang gelap dan durinya yang panjang, bulu babi utamanya spesies Diadema setosum memiliki peran penting bagi manusia dan ekosistem di alam. Bulu babi berperan sebagai pengendali populasi mikroalga tidak lepas dari faktor fisika kimia pada lingkungan tersebut. Menurut Vindia et al. (2019) habitat Diadema setosum adalah padang lamun dimana terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberadaannya. Faktor tersebut diantaranya adalah salinitas, suhu, dan kedalaman. Beberapa spesies bulu babi hidup secara berkelompok diantaranya adalah Diadema setosum, Tripneustes gratilla, D. antillarum, Lytechinus variegatus, Temnopleurus toreumaicus, T. ventricosus. Selain itu, bulu babi juga banyak ditemukan di daerah terumbu karang.

Diadema setosum memiliki peran ekologis karena dapat mengatasi blooming algae di alam sehingga berkurangnya spesies ini dapat menyebabkan dampak negatif. Hal tersebut dikarenakan Diadema setosum dapat memakan algae sehingga dapat mencegah terjadinya blooming algae. Namun, jika Diadema setosum berkurang maka, akan meningkatkan nutrient yang mengakibatkan kelimpahan mikroalga (blooming) dan tentunya akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan karang. Diadema setosum juga sering dijumpai pada daerah terumbu karang. Dalam ekosistem terumbu karang, Diadema setosum berperan sebagai pengendali karena memakan algae yang ada di sekitar terumbu karang.  Mikroalga merupakan pesaing hewan karang yang memperebutkan sumberdaya ruang (sinar matahari), dan jika tidak terdapat bulu babi (Diadema setosum) akan terjadi peningkaan mikrolaga. Hal tersebut dapat  mengakibatkan tertutpnya ruang tempat hidup terumbu karang yang menyebabkan perairan tersebut menjadi eutrofik (Noviana et al., 2019).

Diadema setosum (Sumber: eol.org)

Daftar Pustaka :

Alwi, D., Muhammad, S.H. and Tae, I., 2020. Karakteristik Morfologi dan Indeks Ekologi Bulu Babi (Echinoidea) di Perairan Desa Wawama Kabupaten Pulau Morotai. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 4(1):23-32.

Arkerina, F. O., Nurhayati, T. dan Suwandy, R. 2015. Isolasi dan Karakteristik Senyawaa Antibakteri Dari Bulu Babi. JPHPI, 18(1): 61-73.

Jalaluddin dan Ardeslan. 2017. Identifikasi dan Klasifikasi Phylum Echinodermata di Perairan Laut Desa Sembilan Kecamatan Simeulue Barat Kabupaten Simelulue. Jurnal Biology Education, 6(1): 81-97.

Noviana, N.P.E., Julyantoro, P.G.S. and Pebriani, D.A.A., 2019. Distribusi dan Kelimpahan Bulu Babi (Echinoidea) di Perairan Pulau Pasir Putih, Desa Sumberkima, Buleleng, Bali. Current Trends in Aquatic Science, 2(1): 21-28.

Rukmana, P., 2020. Manfaat dan Kandungan Gizi Bulu Babi (Echinoidea) di Indonesia.

Toha, A. H. A. 2006. Manfaat Bulu Babi (Echinoidea), Dari Sumber Pangan Sampai Organisme Hias. Jurnal Ilmu – ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 13(1): 77-82.

Vindia, W.I., Julyantoro, P.G.S. and Wulandari, E., 2019. Asosiasi Echinodermata pada Ekosistem Padang Lamun di Pantai Samuh, Nusa Dua, Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences, 5(1): 100-108.

#SeaUrchin #Ecosystem #Sustainable #Marine #BloomingAlgal

Penulis             : Desi Rahmadhani (Akuakultur, 2020)

Editor              : Mat Hari (THP, 2020)

5/5