DISKUSI ONLINE: KAKEMA FPK AJAK KENALI DAN CEGAH PENYAKIT UDANG AHPND/EMS

image
By Dwi Pujiastuti On Senin, Oktober 12 th, 2020 · no Comments · In

Berita FPK – Minggu (11/10/2020) telah berlangsung diskusi online yang diadakan oleh KAKEMA (Kajian Keilmiahan Mahasiswa) Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR). Perlu diketahui bahwa semenjak pandemi ini KAKEMA telah banyak membuat acara webinar dan kali ini KAKEMA mengusung tema “Kenali dan Cegah Penyakit Udang AHPND/EMS” melalui Zoom meeting dengan menghadirkan 3 Narasumber.

Narasumber pertama adalah Daruti Dinda Nindarwi S.Pi., M.P, selaku Dosen FPK Departemen Manajemen Kesehatan Ikan dan Budidaya Perairan UNAIR. Beliau memaparkan EMS (Early Mortality Syndrom) merupakan penyakit kematian udang pada usia awal (DOC 1-40). Penyakit tersebut menyerang organ hepatopankreas yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penyakit yang dikenal dengan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHNDP) karena menyebabkan kerusakan parah pada hepatopankreas.

“Tindakan antisipasi penyakit AHPND adalah dengan mengoptimalkan peranan laboratorium, edukasi lapangan dalam penggunaan alat laboratorium, dan keeping data laboratorium serta analisa secara disiplin dan konsisten,” Imbuhnya.

Narasumber kedua adalah Yanuar Toto Raharjo selaku Ketua Umum SCI Banyuwangi. Pada kesempatan kali ini beliau menyampaikan kunci dalam melakukan budidaya udang agar tidak mudah terserang penyakit.

“Kunci dalam budidaya udang adalah kestabilan, yaitu kestabilan dalam sistem plankton dan bakteri,” Jelasnya. Plankton dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, nutrisi dan kualitas air. Lalu sistem bakteri yaitu menggunakan probiotik untuk menekan blooming BGA. Penggunaan probiotik harus dalam batas normal. Kemudian manfaat menggunakan auto feeder ialah dapat mempersingkat DOC budidaya sehingga bisa menambah siklus produksi.

Narasumber terakhir adalah Bambang Dwi Murjoko selaku Manager TS Matahari Sakti. Beliau menyampaikan bahwa penyebab udang terserang AHPND yaitu konstruksi dan lay out tambak tidak bagus, sumber air tidak mendukung, salinitas tinggi, tidak ada tandon, persiapan tidak maksimal, pemilihan benur tidak tepat, sarana dan prasarana tidak memadai, DO rendah, program pakan buruk, blooming dan crash plankton, bahan organik tinggi, dan Vibrio tinggi >103. Ciri-ciri udang yang terserang AHPND adalah tubuh pucat dan kulit tipis, nafsu makan turun, lemas, berenang tidak stabil atau berenang dekat dasar kolam, lambung dan usus kosong, hepatopancreas mengecil atau kenyal, terdapat udang yang mati di anco, udang yang mati kondisi badannya tetap utuh dan eksoskeleton rapuh, kematian terjadi dibawah umur 45 hari dan ditemukan di dasar kolam serta berlangsung cepat dan banyak.

“Pembersihan dan sterilisasi kolam yang optimal, persiapan air sebelum tebar yang matang dan menjalankan budidaya yang baik dan benar,” paparnya mengenai tips pencegahan AHPND pada udang.

Meskipun diadakan saat pandemi COVID-19, diskusi online ini berjalan dengan lancar dan banyak diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah yang antusias. Hal tersebut terlihat dari banyaknya jumlah partisipan yang mengikuti kegiatan ini.(*)

Penulis
Zulfan Ibrahimi
Mahasiswa FPK

Editor  
Fida Fransisca

 50 total views,  2 views today

Please follow and like us:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Instagram