Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Dosen FPK UNAIR Jadi Narasumber Kuliah Tamu Internasional di UMT

Bagikan

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik internasional melalui kegiatan kuliah tamu bersama Universiti Malaysia Terengganu (UMT). Pada 8 Juli 2026, dosen Program Studi Teknologi Hasil Perikanan FPK UNAIR, Bapak Terry Previo Avianto, S.Pi., M.Si., berkesempatan menjadi narasumber dalam mata kuliah Introduction to Food Chemistry yang diikuti oleh mahasiswa Bachelor of Food Science UMT secara daring.

Dalam kegiatan tersebut, Bapak Terry membawakan materi berjudul “Common Toxins and Contaminants Found in Indonesian Fisheries Processing Industry”. Materi ini mengangkat berbagai isu terkait keamanan pangan hasil perikanan di Indonesia, khususnya mengenai keberadaan toksin dan kontaminan yang dapat memengaruhi mutu serta keamanan produk perikanan. Melalui pemaparan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi industri pengolahan hasil perikanan Indonesia sekaligus tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas produk dari hulu hingga hilir.

Pada awal sesi, Bapak Terry memperkenalkan Universitas Airlangga serta potensi sektor perikanan Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Ia menjelaskan bahwa produksi perikanan Indonesia memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Sebagian besar produksi ikan nasional berasal dari nelayan lokal yang menjadi pemasok utama kebutuhan ikan harian masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan aspek keamanan pangan sebagai salah satu faktor krusial yang harus diperhatikan untuk menjamin kualitas hasil perikanan yang dikonsumsi masyarakat.

Salah satu topik utama yang dibahas dalam kuliah tamu tersebut adalah kontaminasi logam berat pada produk perikanan. Bapak Terry menjelaskan bahwa logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), dan arsenik (As) berpotensi mencemari produk perikanan, terutama pada wilayah yang memiliki aktivitas industri dan urbanisasi yang tinggi. Kontaminasi logam berat tidak hanya berdampak pada kualitas produk, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan konsumen apabila terakumulasi dalam tubuh melalui konsumsi jangka panjang.

Selain logam berat, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai ancaman mikroplastik yang saat ini menjadi perhatian global. Mikroplastik dapat masuk ke lingkungan perairan dan terakumulasi dalam rantai makanan. Keberadaan mikroplastik pada organisme akuatik berpotensi menyebabkan kerusakan fisik, menjadi media pembawa patogen, serta memengaruhi kualitas produk perikanan yang dihasilkan. Topik ini menarik perhatian mahasiswa UMT karena memiliki keterkaitan erat dengan isu keberlanjutan dan keamanan pangan di berbagai negara.

Pembahasan berikutnya menyoroti histamin yang umum ditemukan pada ikan scombroid seperti tuna, tongkol, dan cakalang. Bapak Terry menjelaskan bahwa pembentukan histamin umumnya terjadi akibat penanganan ikan yang tidak tepat serta tidak terjaganya rantai dingin (cold chain) selama proses distribusi. Oleh karena itu, penerapan penanganan pascapanen yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga mutu dan keamanan produk perikanan sebelum sampai ke konsumen.

Tidak hanya membahas kontaminan kimia, Bapak Terry juga memaparkan berbagai kontaminan biologis yang kerap ditemukan pada produk perikanan, antara lain Escherichia coli, Vibrio parahaemolyticus, Salmonella sp., Staphylococcus aureus, hingga kapang Aspergillus flavus yang dapat menghasilkan aflatoksin pada produk ikan asin tradisional. Materi tersebut memberikan wawasan yang komprehensif mengenai berbagai potensi bahaya yang perlu dikendalikan dalam industri pengolahan hasil perikanan.

Sebagai penutup, Bapak Terry menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan, termasuk penguatan sistem traceability, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), peningkatan kapasitas laboratorium pengujian, serta pengetatan sertifikasi jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Melalui berbagai langkah tersebut, industri perikanan Indonesia terus berupaya meningkatkan daya saing produk sekaligus menjamin perlindungan konsumen.

Kegiatan kuliah tamu ini menjadi wujud nyata kolaborasi akademik antara FPK UNAIR dan Universiti Malaysia Terengganu dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang pangan dan perikanan. Selain memperluas wawasan mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarakademisi dari kedua institusi. Sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 17: Partnerships for the Goals, kegiatan ini menunjukkan pentingnya kemitraan global dalam mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi guna menjawab berbagai tantangan di sektor perikanan dan pangan pada masa depan.

Rated 5 out of 5