FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

Dr. Abdul Manan : Tak Terlihat Secara Fisik, Sel Tetap Melawan Paparan Glifosat

2 minutes read
104 Views count

Surabaya – Perubahan pada sel tidak selalu terlihat dari bentuk fisiknya. Hal tersebut ditunjukkan melalui penelitian Abdul Manan yang dipaparkan dalam International Conference of Fisheries and Marine Sciences (INCOFIMS) 2026 di Surabaya. Penelitian tersebut mengungkap respons molekuler Tetrahymena thermophila, ciliata air tawar, terhadap paparan herbisida glifosat (Roundup®) melalui pendekatan shotgun proteomics.

Respons Sel terhadap Paparan Glifosat

Penelitian ini menguji kemampuan T. thermophila dalam menghadapi paparan glifosat. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan nilai IC50 sebesar 171 mg/L setelah 96 jam. Meskipun paparan glifosat menghambat pertumbuhan sel, tingkat penghambatan cenderung menurun seiring bertambahnya waktu.

Menariknya, pengamatan menggunakan mikroskop tidak menunjukkan perubahan bentuk fisik sel yang terlihat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap tekanan kimia tidak selalu muncul melalui perubahan morfologi, tetapi dapat berlangsung melalui mekanisme molekuler di dalam sel.

“Respons sel terhadap paparan bahan kimia tidak selalu terlihat secara fisik. Perubahan pada tingkat molekuler dapat menjadi bagian penting dari kemampuan sel untuk bertahan menghadapi stres,” jelas Abdul Manan.

Mengungkap Mekanisme Adaptasi Molekuler

Pendekatan shotgun proteomics berhasil mengidentifikasi sebanyak 3.191 protein, dengan 400 protein unik yang berkaitan langsung dengan paparan glifosat. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian mengusulkan model detoksifikasi yang berlangsung melalui empat fase, yaitu modifikasi oleh enzim CYP, konjugasi melalui GST, transpor menggunakan ABC transporter, serta degradasi oleh karboksipeptidase.

Rangkaian mekanisme tersebut menunjukkan kemampuan T. thermophila dalam merespons tekanan kimia melalui sistem detoksifikasi yang kompleks.

“Temuan ini memperlihatkan bahwa Tetrahymena thermophila memiliki kemampuan adaptasi molekuler yang kuat terhadap stres kimia, meskipun perubahan fisiknya tidak tampak secara langsung,” tambahnya.

Memperkuat Riset Lingkungan Perairan

Temuan dalam penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai respons organisme mikroskopis terhadap kontaminan kimia di lingkungan perairan. Pemahaman terhadap mekanisme adaptasi tersebut dapat mendukung pengembangan penelitian toksikologi lingkungan dan pemantauan kesehatan ekosistem perairan.

Kajian ini juga relevan dengan SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengetahuan mengenai dampak pencemar terhadap organisme perairan. Secara tidak langsung, pemahaman terhadap tekanan lingkungan turut mendukung SDG 13 (Climate Action), SDG 2 (Zero Hunger), dan SDG 1 (No Poverty) melalui pentingnya menjaga ekosistem perairan yang menopang sumber daya pangan dan kehidupan masyarakat. Sementara itu, forum INCOFIMS 2026 memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pertukaran pengetahuan dan kolaborasi riset.

Penulis: Farrel Bhanu M
Penyunting: TPA

Rated 5 out of 5