Surabaya – Mikroorganisme selama ini kerap menjadi perhatian utama dalam penanganan produk perikanan karena dapat menyebabkan pembusukan, menurunkan mutu, hingga meningkatkan risiko keamanan pangan. Namun, perkembangan bioteknologi membuka perspektif baru. Para peneliti kini tidak selalu memandang mikroorganisme sebagai ancaman, tetapi juga sebagai sumber inovasi.
Heru Pramono, S.Pi., M.Biotech., Ph.D. mengangkat perspektif tersebut dalam rangkaian International Conference on Biotechnology and Food Sciences (INCOBIFS) 2026 yang digelar Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (3/9/2026). Sebagai keynote speaker sekaligus Koordinator Program Studi S1 Teknologi Hasil Perikanan FPK UNAIR, Dr. Heru membawakan materi bertajuk Potential Application of Marine and Seafood-Associated Bacteria.
Seafood sebagai Ekosistem Mikroba

Dr. Heru mengajak peserta melihat produk hasil perikanan sebagai sebuah ekosistem mikroba yang kompleks, bukan sekadar bahan pangan. Berbagai mikroorganisme berinteraksi dengan organisme perairan sejak masih hidup, kemudian terus berkembang selama proses penanganan hingga penyimpanan produk.
Menurutnya, ilmuwan tidak dapat membagi mikroorganisme secara sederhana ke dalam kelompok “baik” dan “buruk”. Para peneliti perlu memahami struktur serta dinamika komunitas mikroba untuk mengetahui perkembangan ekosistem tersebut dan pengaruhnya terhadap kualitas produk perikanan.
“The future of microbial biotechnology is not about stopping every microorganism, but about understanding microbial ecosystems deeply enough to guide their functions toward better and safer outcomes.”
Mikroba sebagai Risiko sekaligus Sumber Inovasi
Industri perikanan menghadapi risiko pembusukan dan penurunan mutu akibat aktivitas mikroorganisme. Di sisi lain, sejumlah mikroba mampu menghasilkan metabolit, senyawa bioaktif, dan enzim yang menawarkan peluang bagi pengembangan bioproduk.
Dr. Heru turut membahas potensi enzim dari bakteri, termasuk Serratia sp. ATCC 39006. Eksplorasi terhadap mikroorganisme dan produk metaboliknya menunjukkan potensi bakteri sebagai sumber penting bagi pengembangan bioteknologi dan biokatalis.
Pendekatan tersebut mendukung SDGs 9 (Industry, Innovation and Infrastructure). Pengembangan bioteknologi mikroba dapat mendorong inovasi industri dengan memanfaatkan sumber daya biologis dan teknologi modern secara optimal.
Menuju Precision Microbial Biotechnology
Pada bagian akhir pemaparannya, Dr. Heru memperkenalkan arah masa depan precision microbial biotechnology. Para peneliti dapat memanfaatkan whole-genome sequencing, genomic surveillance, integrasi multi-omics, bakteriofag, postbiotics, komunitas mikroba sintetis, precision fermentation, hingga microbiome engineering.
Teknologi tersebut membantu ilmuwan memahami fungsi, karakteristik, dan interaksi mikroorganisme secara lebih mendalam. Dalam konteks perairan, eksplorasi biodiversitas mikroba laut juga mendukung SDGs 14 (Life Below Water) melalui pengembangan pengetahuan dan pemanfaatan potensi biologis laut secara berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Masa Depan Bioteknologi
FPK UNAIR melalui INCOBIFS 2026 membuka ruang bagi akademisi dan peneliti untuk bertukar pengetahuan serta membangun kolaborasi dalam bidang bioteknologi dan ilmu pangan. Semangat tersebut selaras dengan SDGs 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kemitraan dalam menjawab tantangan global.
Pada akhirnya, Dr. Heru menekankan bahwa masa depan mikrobiologi hasil perikanan tidak hanya berfokus pada upaya menghentikan aktivitas mikroorganisme. Para peneliti perlu memahami ekosistem mikroba secara lebih mendalam agar dapat mengarahkan potensinya menuju inovasi yang aman, aplikatif, dan berkelanjutan.
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA





