FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

INCOFIMS 2026 - Dr. Romi Novriadi, M.Sc.

Dr. Romi Novriadi: Inovasi Pakan Akuakultur untuk Mengurangi Ketergantungan Fish Meal

3 minutes read
155 Views count

Surabaya – Inovasi pakan memegang peran penting dalam membangun sistem akuakultur yang berkelanjutan. Dr. Romi Novriadi, M.Sc. membahas isu tersebut dalam International Conference on Fisheries and Marine Sciences (INCOFIMS) yang diselenggarakan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Rabu (2/9/2026).

Sebagai invited speaker sekaligus Wakil Ketua III Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Dr. Romi membawakan materi bertajuk “Innovation in Aquafeed Formulation: Reducing Fish Meal Dependency While Enhancing Performance.” Ia menjelaskan berbagai strategi untuk mengurangi penggunaan tepung ikan atau fish meal tanpa mengorbankan pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas organisme budidaya.

Menurutnya, inovasi pakan tidak sekadar mengganti fish meal dengan bahan lain. Formulator harus menyusun kembali keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan spesifik setiap komoditas.

“Sustainable aquafeed innovation is not simply about removing fish meal, but about redesigning nutrition to maintain performance, health, and productivity with more responsible ingredients.”

Menjawab Tantangan Ketergantungan Fish Meal

INCOFIMS 2026 - Dr. Romi Novriadi, M.Sc.
INCOFIMS 2026 – Dr. Romi Novriadi, M.Sc.

Industri akuakultur masih mengandalkan fish meal sebagai salah satu sumber protein utama. Namun, ketergantungan tersebut menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan sumber daya perikanan.

Dr. Romi memperkenalkan beberapa pendekatan alternatif. Strategi tersebut mencakup penggunaan palatability enhancer, nucleotide, dan corn protein concentrate (CPC).

Formulasi yang kurang tepat dapat menurunkan konsumsi pakan dan memperlambat pertumbuhan organisme. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan feed conversion ratio (FCR) serta menambah limbah organik di lingkungan budidaya.

Palatability Enhancer dan Bahan Fungsional

Salah satu penelitian yang dibahas menggunakan palatability enhancer pada pakan udang rendah fish meal. Peneliti menurunkan kandungan fish meal dari 15 persen menjadi 7,5 persen dan menambahkan bahan tersebut dalam beberapa konsentrasi.

Penelitian selama 81 hari itu mengevaluasi pertumbuhan, biomassa, kelangsungan hidup, FCR, dan indikator kesehatan udang. Dr. Romi juga menjelaskan potensi nucleotide sebagai bahan tambahan fungsional untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan udang vaname.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pakan alternatif tidak hanya bergantung pada sumber protein. Formulasi juga harus mendukung respons fisiologis dan kebutuhan organisme.

Corn Protein Concentrate sebagai Alternatif

Dr. Romi turut memaparkan penggunaan CPC pada pakan Asian seabass atau barramundi (Lates calcarifer). Penggunaan CPC hingga 12,5 persen mampu menurunkan kandungan fish meal dari 36 persen menjadi 20,67 persen.

Pada beberapa perlakuan, CPC menghasilkan performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang kompetitif. Penggunaan bahan tersebut juga berpotensi menekan biaya formulasi pakan.

Mendukung Akuakultur Berkelanjutan

Inovasi pakan mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan akuakultur sebagai sumber pangan berkelanjutan. Pengurangan ketergantungan terhadap fish meal juga selaras dengan SDG 14 (Life Below Water) karena dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya perikanan laut.

Sementara itu, INCOFIMS mempertemukan akademisi, peneliti, dan organisasi profesi untuk berbagi pengetahuan. Kolaborasi tersebut mencerminkan semangat SDG 17 (Partnerships for The Goals) dalam mendorong inovasi akuakultur berkelanjutan.

 

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA

Rated 5 out of 5