FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

Dr. Thanongsak Chaiyaso : Dari Limbah Agroindustri Menjadi Produk Bernilai 

2 minutes read
149 Views count

Surabaya – Limbah agroindustri tidak selalu berakhir sebagai masalah lingkungan. Melalui inovasi bioteknologi, material yang murah dan melimpah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi. Gagasan tersebut menjadi sorotan dalam International Conference of Biotechnology and Food Science (INCOBIFS) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Kamis (3/9/2026).

Dalam konferensi tersebut, Assoc. Prof. Dr. Thanongsak Chaiyaso dari Chiang Mai University, Thailand, hadir sebagai keynote speaker dengan materi bertajuk “Transformation of Agro-Industrial Waste into Functional Ingredients: Biotechnology Strategies for Sustainable Health and Well-Being.” Ia memperkenalkan berbagai strategi bioteknologi untuk mengubah limbah agroindustri menjadi bahan fungsional sekaligus mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai

Thanongsak menjelaskan bahwa limbah tidak seharusnya selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Melalui pendekatan bioteknologi, berbagai material sisa dari aktivitas agroindustri dapat dimanfaatkan kembali dan menghasilkan produk dengan nilai ekonomi maupun manfaat baru.

“Limbah itu tidak selalu harus menjadi sesuatu yang tidak ada nilainya. Dengan bioteknologi, limbah dapat kita ubah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.”

Dalam pemaparannya, ia menunjukkan lima skema pemanfaatan material agroindustri, mulai dari limbah kopi, tongkol jagung, limbah sutra, bulu ayam, hingga ragi merah. Berbagai material tersebut dapat diproses melalui fermentasi mikroba, teknologi enzim, dan biokonversi untuk menghasilkan beragam produk.

Mendukung Ekonomi Sirkular Berbasis Biologi

Hasil pengolahan dapat berupa pangan fungsional, senyawa bioaktif, biomaterial, biofuels, hingga pakan ternak dengan kandungan nutrisi tinggi. Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan nilai guna material yang sebelumnya dianggap limbah, tetapi juga membuka peluang penerapan circular bioeconomy berbasis biologi.

“Pemanfaatan limbah melalui bioteknologi dapat menjadi strategi untuk menghasilkan produk bernilai tinggi sekaligus mendukung kesehatan dan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.”

Gagasan tersebut relevan dengan upaya pencapaian SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan pangan dan pakan bernilai tambah, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan kembali sumber daya. Inovasi berbasis bioteknologi juga mendukung SDG 13 (Climate Action) dengan mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.

Melalui INCOBIFS 2026, FPK UNAIR memperkuat ruang pertukaran gagasan dan inovasi lintas negara dalam pengembangan bioteknologi dan ilmu pangan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Penulis: Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting: TPA

Rated 5 out of 5