Mojokerto – Tim ECOFISH 1.0 Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga melaksanakan rangkaian kegiatan pembuatan bakteri starter, pakan alternatif, dan tebar benih ikan nila di Desa Wisata Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada 12–14 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai SDGs Universitas Airlangga 2026 untuk mendukung penerapan budidaya ikan nila berbasis sistem bioflok yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara bertahap bersama mitra Desa Wisata Sumber Gempong, mulai dari persiapan kultur bakteri, pembuatan pakan alternatif berbahan lokal, hingga penebaran benih ikan nila. Melalui kegiatan ini, Tim ECOFISH 1.0 berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan teknologi budidaya perikanan yang ramah lingkungan dan mudah diterapkan.
Mempersiapkan Sistem Bioflok melalui Pembuatan Bakteri Starter
Kegiatan diawali pada 12 Juli 2026 dengan pembuatan bakteri starter sebagai salah satu tahapan persiapan sistem bioflok. Bakteri starter dibuat menggunakan 1 kg gula jawa yang dicairkan dan dicampurkan dengan 260 mL minuman yang mengandung bakteri Lactobacillus casei. Seluruh bahan kemudian diaduk hingga homogen dan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi.
Pembuatan bakteri starter bertujuan mendukung proses pembentukan flok serta membantu pengelolaan limbah organik di dalam kolam. Dengan pengelolaan kualitas air yang baik, sistem bioflok diharapkan dapat menciptakan lingkungan budidaya yang lebih stabil bagi pertumbuhan ikan nila.
Memanfaatkan Bahan Lokal sebagai Pakan Alternatif
Pada 13 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan pakan alternatif berbahan baku lokal. Bahan yang digunakan terdiri atas 10 kg limbah telur ayam tanpa cangkang, 5 kg ampas tahu, 9 kg dedak halus, 1 kg Azolla sp., dan 0,5 kg tepung tapioka sebagai perekat.
Seluruh bahan dicampurkan hingga homogen sebelum diolah menjadi pakan yang siap digunakan dalam kegiatan budidaya. Pemanfaatan bahan lokal tersebut tidak hanya berpotensi menekan biaya produksi, tetapi juga menjadi upaya memanfaatkan limbah organik agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Langkah ini mendukung penerapan konsep budidaya perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Tebar Benih Menjadi Awal Operasional Kolam Bioflok
Tahapan berikutnya dilaksanakan pada 14 Juli 2026 melalui penebaran 400 ekor benih ikan nila ke dalam kolam bioflok yang telah dipersiapkan. Sebelum ditebar, benih melalui proses pengecekan kualitas air dan aklimatisasi untuk mengurangi tingkat stres akibat perubahan lingkungan.
Penebaran benih menjadi awal proses pemeliharaan ikan nila dalam sistem bioflok. Pengelolaan kualitas air, ketersediaan pakan, dan pemantauan kondisi ikan secara berkala menjadi bagian penting untuk mendukung keberhasilan kegiatan budidaya.
Mendorong Akuakultur Berkelanjutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Rangkaian kegiatan ECOFISH 1.0 menunjukkan penerapan sistem budidaya terintegrasi yang mencakup pengelolaan kualitas air, penyediaan pakan, dan pemeliharaan ikan. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai pembuatan bakteri starter, formulasi pakan alternatif, serta prosedur penebaran benih ikan nila.
Salah satu perwakilan pengelola Desa Wisata Sumber Gempong menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program yang dinilai memberikan pengetahuan baru mengenai budidaya ikan nila berbasis bioflok. “Kegiatan ECOFISH 1.0 memberikan pengetahuan baru bagi kami mengenai sistem budidaya bioflok. Kami berharap program seperti ini dapat terus berlanjut sehingga masyarakat mampu mengembangkan budidaya ikan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produksi pangan berbasis perikanan, SDG 13 (Climate Action) melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.
Melalui penerapan teknologi yang mudah diadopsi, ECOFISH 1.0 diharapkan dapat menjadi fondasi pengembangan budidaya ikan nila berbasis pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis : Nila Najwa
Penyunting : Farrel Bhanu Mahardhika







