EDIBLE SPOON, SOLUSI PENGURANGAN BAHAN PLASTIK PADA PERALATAN MAKAN

By abdillah On Senin, Juli 01 st, 2019 · no Comments · In

(www.Npr.org, 2016)

Penggunaan plastik dan barang-barang berbahan dasar plastik semakin meningkat sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1907.Tidak hanya Sedotan, sendok plastik pun menjadi ancaman bagi lingkungan. Setiap kita membeli berbagai jenis makanan yang dipesan untuk dibungkus, dipastikan penjual akan memnyertakan sendok plastik. Sendok berbahan plastik dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga murah. bahkan nasi bungkus paling murah dengan harga Rp.10.000,- pasti memberikan sendok plastik sebagai salah satu pelengkap.

Coba kita bayangkan dan kalkulasi secara sederhana. Kita ambil contoh sumbangan sendok plastik di areal pendidikan. Surabaya terdiri dari 5 universitas negeri. Anggap saja dipukul rata, setiap universitas terdiri dari 10 fakultas, setiap fakultas terdiri dari 3000 mahasiswa maka jumlah mahasiswa berkisar 90.000 orang. Sebagai asumsi, jika mahasiswa makan sebanyak tiga kali, 1 kali saja mereka makan dengan membungkus makanan maka setiap harinya mereka menyumbang 90.000 batang sendok plastik. Itupun hanya dari universitas negeri, belum universitas swasta. Itu sektor pendidikan masih ada lagi sektor lainnya dimana surabaya merupakan pusat perekonomian Jawa Timur dengan penduduk produktif paling banyak di Jawa Timur.

Jika saat ini sedotan digantikan dengan sedotan stainless steel. Sedotan ini yang menjadi mode kampanye pengurangan bahan plastik yang praktis bisa dibawa kena saja. maka begitu pula dengan sendok perlu adanya terobosan yang bisa menjadi tren bagi semua kalangan. Bahaya penggunaan sendok plastik sebagai peralatan makanan ini mendasari sebuah perusahaan di India menciptakan produk yang diberi nama edible spoon (www.bakeys.com, 2016).

Edible spoon merupakan sendok yang dapat dimakan dan hanya bisa digunakan sekali. Di Indonesia telah dilakukan penelitian untuk menciptakan edible spoon yang diilhami dari edible spoon di India Penelitian telah dilakukan oleh abdillah dkk (2018) untuk pembuatan edible spoon alginat dengan formulasi terbaru yaitu dengan menggunakan tepung terigu, gula, garam, air, margarin, dan penambahan alginat dengan konsentrasi terbaik 2% sebagai pengganti telur. Edible spoon diproduksi dalam beberapa rasa diantaranya seperti manis, jahe-kayu manis, jahe-bawang, jahe-min, cumin, seledri, wortel-gula bit, dan lada hitam.

Edible spoon yang dihasilkan ini sudah diketahui dapat digunakan sebagai alat makan. Bahkan dapat digunakan untuk makan makanan berkuah dengan suhu 80oC. Edible spoon juga memiliki nutrisi yang lengkap termasuk serat pangan dengan penambahan Algiat sebagai polisakarida non pati. Edible spoon praktis bisa dibawa kemana saja, dan siap untuk digunakan apabila kita akan menyantap makanan. Kini peneliti sedang melakukan penelitian mengenai penambahan coating yang berfungsi sebagai penambah umur simpan dan berfungsi sebagai pelindung semacam plastik yang dapat langsung dimakan dan pastinya aman bagi pengkonsumsi.

Penulis:
Annur Ahadi Abdillah., M.Si
(Departemen Kelautan)
Email: annur.ahadi@fpk.unair.ac.id

 1,882 total views,  4 views today

Please follow and like us:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
YOUTUBE
Instagram