Sumenep (25/10)
Dalam rangkaian kegiatan Program Pemanfaatan Sumberdaya Pulau Gili Iyang Sumenep dalam Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan, perhatian peserta tertuju pada materi pengenalan mamalia laut dan penanganan paus terdampar yang disampaikan oleh Dr. Eng. Sapto Andriyono, dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Menurutnya, perairan sekitar Gili Iyang memiliki potensi sebagai jalur migrasi beberapa spesies paus dan lumba-lumba, sehingga masyarakat perlu memiliki pemahaman dasar mengenai keberadaan satwa dilindungi tersebut.
Dr. Sapto memperkenalkan berbagai jenis paus yang kerap ditemukan di wilayah perairan Madura, seperti paus pilot dan paus sperma. Ia menjelaskan mengenai karakteristik, kebiasaan, serta ancaman yang dihadapi mamalia laut ini akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan. Edukasi ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata edukatif yang mengangkat keunikan ekologi laut setempat.
Selain itu, Dr. Eng Sapto memberikan pelatihan singkat tentang langkah penanganan paus terdampar yang benar. Ia menekankan bahwa penanganan yang salah justru dapat memperparah kondisi satwa dan berisiko bagi keselamatan warga. Warga diajarkan untuk segera menghubungi pihak berwenang, menjaga tubuh paus tetap lembap, serta menghindari menarik sirip atau bagian tubuh yang sensitif. “Kesadaran dan reaksi cepat masyarakat adalah kunci penyelamatan paus,” tegasnya.
Melalui pemahaman yang tepat, masyarakat Gili Iyang diharapkan mampu menjadi mitra penting dalam pelestarian mamalia laut. Kegiatan ini menjadi awal kolaborasi untuk menjadikan perlindungan paus bukan hanya kewajiban ilmiah, tetapi gerakan bersama demi menjaga keseimbangan ekosistem laut dan meningkatkan daya tarik wisata berkelanjutan di pulau tersebut.




