Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

FPK UNAIR Bahas Makrofauna Mangrove Bersama Pakar Malaysia

Bagikan

Surabaya – Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan kuliah tamu daring pada 11 Juni 2026. Kegiatan yang menghadirkan Dr. Shuaida Shuib dari School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia ini mengangkat tema “Macrofauna in Penang Mangroves” dan membahas peran penting makrofauna sebagai indikator kesehatan ekosistem mangrove serta relevansinya dalam mendukung pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan.

Kuliah tamu ini diikuti oleh 52 mahasiswa akuakultur peminatan Ilmu dan Teknologi Kelautan dan Nina Nurmalia Dewi, S.Pi., M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Ekologi Laut Tropis sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan global di bidang ekologi pesisir dan konservasi sumber daya perairan. Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada berbagai hasil penelitian terkini mengenai komunitas makrofauna mangrove di kawasan Penang, Malaysia, sekaligus memperoleh pemahaman mengenai pentingnya organisme bentik dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir.

Dalam pemaparannya, Dr. Shuaida menjelaskan bahwa organisme bentik merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan dan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Kelompok makrofauna seperti kepiting, moluska, dan cacing laut berkontribusi dalam proses dekomposisi bahan organik, siklus nutrien, hingga transfer energi dalam rantai makanan. Selain berperan secara ekologis, berbagai organisme tersebut juga memiliki nilai sosial ekonomi karena menjadi sumber pangan masyarakat serta mendukung sektor perikanan yang berkelanjutan.

“Makrofauna tidak hanya menjadi penghuni ekosistem mangrove, tetapi juga berperan sebagai indikator biologis yang mampu memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan pesisir secara menyeluruh,” jelas Dr. Shuaida dalam sesi pemaparannya.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami bahwa distribusi makrofauna sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang beragam. Karakteristik habitat seperti jenis sedimen, kedalaman perairan, kompleksitas habitat, serta keberadaan vegetasi mangrove menjadi faktor utama yang menentukan keberadaan dan kelimpahan organisme bentik. Selain itu, perubahan musim, pasang surut, aktivitas manusia, hingga perubahan iklim turut memengaruhi dinamika komunitas makrofauna dari waktu ke waktu.

Salah satu fokus utama dalam kuliah tamu ini adalah pembahasan mengenai kepiting mangrove sebagai ecosystem engineers. Kepiting mangrove diketahui memiliki peran penting melalui aktivitas bioturbasi, yaitu proses mengaduk sedimen yang membantu meningkatkan sirkulasi oksigen dan mempercepat daur ulang nutrien di lingkungan mangrove. Oleh karena itu, keberadaan dan keragaman spesies kepiting sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem mangrove.

Selain membahas fungsi ekologis makrofauna, Dr. Shuaida juga memperkenalkan berbagai metode penelitian yang digunakan dalam studi makrofauna mangrove. Metode konvensional seperti penangkapan langsung kini mulai dilengkapi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan melalui teknologi perekaman video. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan, metode perekaman video mampu mengurangi gangguan terhadap habitat sekaligus menghasilkan data yang lebih efisien dalam mengamati aktivitas dan keberadaan kepiting mangrove.

“Konservasi mangrove yang efektif memerlukan pemahaman yang baik terhadap organisme yang hidup di dalamnya. Dengan memahami makrofauna, kita dapat memantau perubahan lingkungan dan mengambil langkah pengelolaan yang lebih tepat,” tambahnya.

Kuliah tamu ini juga mengulas berbagai ancaman yang saat ini dihadapi ekosistem mangrove, mulai dari reklamasi pesisir, deforestasi, aktivitas akuakultur yang tidak berkelanjutan, hingga pencemaran lingkungan. Berbagai tekanan tersebut dapat memengaruhi kelimpahan, perilaku, serta komposisi spesies makrofauna yang hidup di kawasan mangrove. Oleh karena itu, pemanfaatan makrofauna sebagai indikator biologis menjadi pendekatan yang penting dalam mendukung upaya konservasi dan pengelolaan lingkungan pesisir berbasis ilmu pengetahuan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan baru mengenai hubungan erat antara biodiversitas pesisir, ketahanan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat. Pemahaman tersebut relevan dengan upaya mendukung pembahasan mengenai dampak perubahan lingkungan terhadap ekosistem mangrove sejalan dengan SDG 13 (Climate Action), sedangkan konservasi mangrove dan biodiversitas pesisir mendukung SDG 14 (Life Below Water). Kolaborasi akademik antara Universitas Airlangga dan Universiti Sains Malaysia juga menjadi implementasi nyata SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan minat penelitian di bidang ekologi pesisir, konservasi mangrove, dan pengelolaan sumber daya perairan berkelanjutan. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan akademik internasional dapat diakses melalui laman resmi FPK UNAIR, Program Studi Akuakultur, serta berbagai berita kolaborasi internasional yang telah dilaksanakan fakultas.

Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika

Penyunting : TPA

Rated 5 out of 5