Kabar membanggakan datang dari Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia. Dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Adela Febry Widiana dan Ghais Rizieq Azriel, berhasil meraih Golden Award dalam ajang bergengsi World Young Inventor Exhibition (WYIE) – ITEX 2025, yang diikuti oleh lebih dari 900 inovasi dari 15 negara. Ajang ini mendapat dukungan dari tiga kementerian Malaysia, yakni Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Perindustrian, Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi, serta Kementerian Digital Malaysia, bersama investor dan organisasi internasional.
Prestasi tersebut diraih melalui inovasi MOOEW Hair Tonic Gel, produk kosmetik hewan berbasis hydroxyproline hasil ekstraksi limbah tulang ikan tenggiri yang dikombinasikan dengan ekstrak chamomile. Inovasi ini menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengatasi alopecia (kerontokan bulu) pada kucing, sekaligus membuktikan bahwa limbah perikanan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing global.
Lebih dari sekadar inovasi laboratorium, MOOEW dikembangkan sebagai model pembelajaran dan pelatihan dasar pengolahan limbah perikanan yang dapat direplikasi oleh masyarakat luas, khususnya komunitas pesisir dan pelaku UMKM. Melalui pendekatan sederhana dan aplikatif, teknologi ekstraksi bahan aktif dari limbah tulang ikan berpotensi menjadi produk komersial yang dapat diproduksi secara bertahap sesuai kapasitas masyarakat, sehingga membuka peluang sumber pendapatan tambahan dan mendukung pencapaian SDGs No. 1: Tanpa Kemiskinan.
Di bawah kepemimpinan Adela sebagai ketua tim, inovasi ini juga melibatkan kolaborasi lintas keilmuan bersama mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Farmasi (FF). Kolaborasi tersebut menghasilkan formulasi yang tidak hanya aman dan efektif, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai materi pendampingan dan pelatihan kewirausahaan berbasis hasil perikanan.
“Kami ingin inovasi ini tidak berhenti di ajang lomba. Harapannya, teknologi sederhana dari pengolahan limbah perikanan ini bisa ditransfer ke masyarakat melalui pelatihan dasar, sehingga limbah yang selama ini terbuang justru menjadi sumber penghasilan baru,” ujar Adela.
Ke depan, tim MOOEW berencana mengembangkan program lanjutan berupa pelatihan pengolahan limbah perikanan secara komersial, diversifikasi produk turunan, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri dan komunitas pesisir. Langkah ini diharapkan dapat memperluas dampak sosial inovasi, tidak hanya bagi sektor pet care, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat berbasis sumber daya perikanan.



