Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) resmi menandatangani Implementation Agreement bersama Institute of Aquaculture, University of Stirling, Inggris, pada 22 April 2026 dalam rangka penyelenggaraan Asian Fish Welfare Network (AFWN). Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi internasional bidang akuakultur, khususnya pengembangan dan implementasi prinsip kesejahteraan ikan budidaya di Indonesia dan kawasan Asia, sekaligus menegaskan komitmen FPK UNAIR terhadap praktik budidaya berkelanjutan berstandar global.
Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Inovasi, dan Pengembangan Komunitas FPK UNAIR, bersama Professor David Little selaku Principal Investigator Asian Fish Welfare Network dari University of Stirling, serta diketahui dan diketahuii oleh Dekan FPK UNAIR, Prof. Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP. Momentum ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring global dan memperkuat posisi FPK UNAIR sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam transformasi sektor akuakultur nasional.
Kolaborasi Strategis untuk Penguatan Kesejahteraan Ikan Budidaya
Implementation Agreement ini mengatur pembagian peran dan tanggung jawab kedua institusi dalam pelaksanaan AFWN 2026. FPK UNAIR bertindak sebagai tuan rumah dengan menyediakan venue, fasilitas, serta dukungan koordinasi dan logistik kegiatan. Sementara itu, University of Stirling memberikan dukungan pendanaan meliputi biaya transportasi dan akomodasi peserta, konsumsi selama kegiatan, serta kontribusi tenaga ahli dan sumber daya teknis dalam perancangan dan pelaksanaan program.
Skema kolaborasi ini mencerminkan kemitraan yang saling melengkapi dan berorientasi pada dampak nyata. Melalui workshop, penguatan kapasitas, pertukaran keahlian, serta pengembangan program berbasis akuakultur berkelanjutan, kedua institusi berupaya mendorong tata kelola budidaya ikan yang lebih bertanggung jawab dan berdaya saing internasional.
Program utama yang bertajuk “Improving the Welfare of Farmed Animals for the Benefit of Indonesian Aquaculture: Good Welfare is Better Business.” Program ini menegaskan bahwa penerapan prinsip kesejahteraan ikan bukan semata tanggung jawab etis, tetapi juga strategi bisnis yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas hasil budidaya, serta memperkuat daya saing industri akuakultur Indonesia di pasar global.
Mendukung SDGs dan Transformasi Akuakultur Nasional
Kerja sama ini relevan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peningkatan produktivitas dan efisiensi budidaya ikan berkontribusi pada SDGs 1 (No Poverty) melalui penguatan ekonomi pembudidaya, serta SDGs 2 (Zero Hunger) dengan mendukung ketahanan pangan berbasis protein akuatik. Pendekatan budidaya yang memperhatikan kesejahteraan ikan dan praktik ramah lingkungan juga selaras dengan SDGs 13 (Climate Action) dan SDGs 14 (Life Below Water), karena mendorong pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan. Lebih jauh, kemitraan lintas negara antara FPK UNAIR dan Institute of Aquaculture, University of Stirling mencerminkan implementasi nyata SDGs 17 (Partnerships for the Goals).
Perjanjian ini berlaku selama satu tahun sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang melalui kesepakatan bersama. Ke depan, implementasi AFWN diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik dan riset dosen serta mahasiswa, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi industri dan komunitas pembudidaya di Indonesia.
Sebagai bagian dari strategi internasionalisasi, FPK UNAIR terus membuka ruang kolaborasi global yang sejalan dengan visi fakultas dalam pengembangan ilmu perikanan dan kelautan berbasis inovasi dan keberlanjutan. Informasi lebih lanjut mengenai profil fakultas, program studi, serta kegiatan riset dan pengabdian masyarakat dapat diakses melalui laman resmi FPK UNAIR. Langkah ini sekaligus menegaskan peran FPK UNAIR sebagai mitra strategis dalam membangun masa depan akuakultur Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing internasional.



