FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

INCOFIMS 2026 : Pemaparan Materi oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

INCOFIMS 2026: Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Pentahelix Ekonomi Biru

3 minutes read
92 Views count

Surabaya – Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. mendorong penguatan kolaborasi Pentahelix untuk membangun sektor kelautan yang berkelanjutan. Ia menyampaikan gagasan tersebut dalam International Conference on Fisheries and Marine Sciences (INCOFIMS) 2026.

Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar konferensi tersebut pada Rabu (2/9/2026). Prof. Rokhmin hadir sebagai salah satu keynote speaker dalam kegiatan tersebut.

Ia memaparkan materi bertajuk “A Pentahelix Collaboration in Sustainable Development of Aquaculture, Fisheries, and Marine Biotechnology Industry for Developed and Prosperous Indonesia, and For A Better and Sustainable World.”

Potensi Ekonomi Biru Indonesia

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin menyoroti berbagai tantangan global. Tantangan tersebut mencakup ketegangan geopolitik, krisis ekologis, pencemaran, kehilangan biodiversitas, dan perubahan iklim. 

INCOFIMS 2026 : Pemaparan Materi oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.
INCOFIMS 2026 : Pemaparan Materi oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

Menurutnya, dunia membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sektor kelautan memiliki posisi penting dalam menjawab berbagai tantangan tersebut.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi biru. Selain menghasilkan pangan, ekosistem laut dan perairan tawar juga menyediakan sumber produk farmasi, bioenergi, biomaterial, kosmetik, dan inovasi bioteknologi.

Namun, sektor perikanan dan akuakultur masih menghadapi berbagai tantangan. Persoalan tersebut meliputi penyakit, pencemaran, keterbatasan infrastruktur, perubahan iklim, dan IUU Fishing.

Inovasi untuk Kelautan Berkelanjutan

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Rokhmin mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT). Selain itu, pelaku sektor kelautan perlu mengadopsi teknologi digital dan Best Aquaculture Practices.

Teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas sektor akuakultur dan perikanan. Namun demikian, setiap pelaku usaha harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

Dengan demikian, intensitas produksi tidak boleh melampaui kapasitas ekosistem perairan. Prinsip tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Upaya tersebut sejalan dengan SDG 13 (Climate Action) dan SDG 14 (Life Below Water). Melalui pendekatan tersebut, sektor kelautan dapat mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Pentahelix sebagai Kunci Kolaborasi

Selain inovasi teknologi, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix. Model tersebut menghubungkan akademisi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media massa.

Akademisi dapat menghasilkan riset dan inovasi. Sementara itu, industri dapat mendorong hilirisasi hasil riset serta menyediakan investasi. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam membangun regulasi dan infrastruktur yang mendukung.

Di sisi lain, masyarakat berperan sebagai pelaku ekonomi sekaligus penjaga ekosistem. Media massa kemudian dapat memperluas pengetahuan dan kesadaran publik mengenai pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut selaras dengan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Oleh sebab itu, setiap pemangku kepentingan perlu membangun kemitraan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Menutup pemaparannya, Prof. Rokhmin mengajak seluruh pihak untuk mengubah cara pandang terhadap laut. Ia menegaskan bahwa manusia tidak boleh melihat laut hanya sebagai sumber daya ekonomi.

“The coasts and oceans are not just our heritage, they are our future. Let us not treat them as resources to be exploited, but as a partner in building a more resilient, just, and sustainable planet.”

Melalui INCOFIMS 2026, FPK UNAIR membuka ruang pertukaran gagasan dan kolaborasi global. Dengan semangat tersebut, berbagai pihak dapat bersama-sama mendorong pembangunan kelautan dan perikanan yang inovatif serta berkelanjutan.

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA

Rated 5 out of 5