Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Indonesia Disinyalir Terdampak Jepang Buang Limbah Nuklir ke Laut, Ini Kata Pakar Universitas Airlangga

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Indonesia Disinyalir Terdampak Jepang Buang Limbah Nuklir ke Laut, Ini Kata Pakar Universitas Airlangga

Bagikan

Surabaya (beritajatim.com) Jepang dikabarkan mulai membuang air nuklir Fukushima ke laut hari ini, Kamis (24/8/2023). Indonesia menjadi negara di sekitar Samudera Pasifik yang akan kena dampaknya.

Menanggapi itu, Pakar Marine Biologi dan Aquakultur Universitas Airlangga (Unair) Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si.,Ph.D menjelaskan, bahwa limbah nuklir akan bereaksi secara bertahap pada ekosistem perairan tertentu dengan durasi waktu berbeda.

“Bila limbah nuklir dibuang dalam ekosistem laut, akan berjalan gradual dengan durasi waktu berbeda pada ekosistem perairan tertentu. Juga tergantung kadar zat pollutant yang mencemari lautan,” jelas Prof Amin kepada beritajatim, Kamis (24/8/2023).

Menurutnya, organisme hidup di dasar perairan (demersal) akan menerima dampak pencemaran terberat dibandingkan organisme perairan lainnya yang hidup dan berkembang di atas dasar perairan, atau masuk kategori organisme pelagis.

“Kemampuan beradaptasi dari organisme demersal dalam menerima bahan pencemar menyebabkan beberapa organisme tersebut, bahkan sampai tahap melakukan perubahan evolusi untuk menjamin kelangsungan hidup maupun berkembang biak,” katanya.

Namun, kata Prof Amin, jika tidak mampu beradaptasi maka organisme itu akan mengalami gangguan pertumbuhan bahkan kematian. Gangguan pertumbuhan itu bisa dilihat dari median inhibitory concentration/IC50. Sedangkan kematian bisa terukur dari median lethal concentration/LC50.

Ia menambahkan, bahwa mekanisme perubahan kualitas perairan juga menyebabkan perubahan pada beberapa species ikan yang terpaksa mengalami migrasi ke perairan lebih dalam atau mendorong mobilitas ke wilayah perairan lainnya. Itu memungkinkan dapat menjamin kelulushidupan organisme perairan tersebut.

“Selain itu juga akan teridentifikasi adanya kompetisi unsur hara dan keterbatasan ruang membuat proses adaptasi species semakin kompleks,” beber Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair tersebut.

Prof Amin menambahkan, dampak yang terlihat dilanjutkan dengan kelangkaan species, diawali adanya seleksi alam, over exploited, penurunan kelimpahan dan kualitas sumber daya ikan.

Adapun indikator perubahannya antara lain semakin kecil ukuran sumber daya ikan yang tertangkap, hasil tangkap per satuan upaya dalam produksi secara keseluruhan menurun, terjadinya dominasi species tertentu, gangguan lingkungan perairan, dan tingginya mobilitas manusia mengeksploitasi sumber daya ikan dan lingkungan perairan.

Pria lulusan School of Science and Technology Nagasaki University Japan itu menerangkan bahwa pada kasus terjadinya kelangkaan biota perairan, menjadi perhatian serius untuk mengkatagorikan dalam kelompok punah (extinct) dengan skala penilaian derajat erosi 5 atau musnah.

Selanjutnya, kelompok genting (endangered) dengan skala penilaian derajat erosi 4 atau terancam punah dan tidak dapat bertahan tanpa perlindungan ketat. Kelompok rawan (vulnerable/depleted) dengan skala derajat erosi 3 atau penurunan populasi sangat pesat, sehingga jumlah biota semakin sedikit dan dalam kondisi eksploitasi yang dilakukan meningkat.

Kemudian kelompok jarang (rare/restricted) dengan skala penilaian derajat erosi 2 atau ditemukannya populasi terbatas dan mengalami resiko kepunahan karena tekanan yang berat, serta kelompok terkikis (undeterminate) untuk menilai derajat erosi 1 atau kondisi yang mulai mengalami proses kelangkaan tapi belum diidentifikasi.

“Monitoring terkait dampak kelangkaan species maupun derajat erosi yang terjadi menjadi hal sangat penting dipertimbangkan sehingga dapat melakukan tindakan yang tepat dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem perairan,” bebernya.

Untuk diketahui, Jepang mulai membuang air dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke Samudra Pasifik. Dampak dari pembuangan limbah itu disinyalir bisa dirasakan banyak negara di dekat Samudra Pasifik, termasuk Indonesia.

Sumber : https://beritajatim.com/

 

5/5