ISOLAT PROTEIN IKAN: ALTERNATIF SOLUSI “LIMBAH” HASIL PENGOLAHAN PERIKANAN
Sejumlah besar “limbah” hasil pengolahan perikanan dihasilkan dari pabrik pengolah ikan masih mengandung unsur nutrisi seperti protein, lemak, dan mineral sehingga lebih sering disebut sebagai “hasil samping” industri perikanan. Total produksi perikanan yang meningkat dari 120 metrik ton pada tahun 1996 menjadi 128,8 metrik ton pada tahun 2001 dan terus mengalami peningkatan hingga 2018, menunjukkan betapa besar pentingnya penanganan hasil samping indsutri perikanan tersebut. Hal ini disebabkan hasil samping tersebut mencapai 50% dari total berat awal atau sekitar 64,4 metrik ton pada tahun 2001. Jumlah yang sangat besar tersebut dapat menimbulkan dampak lingkungan yang berat apabila tidak ditangani dengan tepat.
Selama ini, hasil samping industri perikanan tersebut diolah menjadi tepung ikan untuk pakan ternak atau pakan ikan. Namun, nilai jual serta dampak lingkungan dari pakan tersebut masih menjadi pertanyaan. Padahal, hasil samping industri perikanan tersebut masih mengandung unsur protein, lemak, dan mineral yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Sebagai contoh adalah bagian kepala ikan. Bagi industri, kepala ikan kakap adalah “limbah” sedangkan bagi rumah makan padang, ini adalah “bahan mentah”. Dengan pola pandang tersebut, maka sebenarnya potensi lebih lanjut dari hasil samping industri perikanan masih sangat terbuka.
Peneliti hasil perikanan dari Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Bapak Heru Pramono beserta mahasiswa bimbingan Noer Tomy Irawan dan M.Rizal Arief Firdaus melakukan upaya recovery (pengambilan) protein ikan dengan menggunakan teknologi yang disebut sebagai “isolat protein ikan dengan pH shift”. Prinsip dasar dari teknologi ini adalah dengan melarutkan protein dengan asam atau basa kemudian memisahkan protein dengan komponen lain dengan daya sentrifugal. Menariknya, protein ikan memiliki kemampuan untuk terpisah dari komponen lain pada pH 5.5.
Hasil termuan tersebut menunjukkan bahwa isolat protein ikan yang memiliki kualitas mirip dengan surimi bahan baku baso ikan dapat direcovery darilimbah pengalengan sarden. Sebesar 39% b/b isolat protein ikan berhasil diperoleh dari bahan baku limbah, atau dengan perhitungan kasar sebesar 390 gram protein diekstrak dari 3 kg hasil samping. Potensi pengembangan teknologi ini perlu dilakukan lebih lanjut untuk meningkatkan sifat fisikokimia dari protein yang dihasilkan serta aplikasi dari produk protein tersebut.
Referensi
https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/236/1/012112/meta
Penulis
Heru Pramono
Departemen Kelautan
Email: heru.pramono@fpk.unair.ac.id
Sumber
http://news.unair.ac.id/2019/08/08/isolat-protein-ikan-alternatif-solusi-limbah-hasil-pengolahan-perikanan/


