Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

KAWAL INDONESIA SEBAGAI POROS MARITIM DUNIA, SEBUAH KAJIAN KOLABORASI BEM UNAIR DENGAN BEM FPK

Bagikan

Berita FPK. Pencerdasan dan ruang diskusi intelektual merupakan sebuah kebutuhan bagi mahasiswa. Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi salah satunya adalah melalui kajian dan dsikusi publik. Senin (19/08) pukul 15.00 hingga 18.00 WIB telah berlangsung sebuah kajian yang mengangkat isu Poros Maritim Dunia oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR dengan Badan Eksekutf Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR.

Kajian yang merupakan sebuah bentuk kerjasama antara Kementrian Sosial Politik BEM Universitas Airlangga dengan Departemen Kajian Strategis BEM Fakultas Perikanan dan Kelautan tersebut dihadiri oleh 82 mahasiswa dari berbagai Fakultas di Universitas Airlangga seperti FIB, FPK, FISIP, FPSi, dan FH. Beberapa mahasiswa yang hadir juga datang dari luar UNAIR seperti mahasiswa Politeknik Elektronika Surabaya, Universitas Internasional Semen Indonesia, serta perwakilan mahasiswa dari HIMAPIKANI (Himpunan Mahasiswa Perikanan Indoensia).

Kajian yang bertajuk “Mengawal Janji Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia; antara Ekspetasi dan Realita” tersebut mengangkat isu Poros Maritim Dunia sebagai bahan kajian. Alasan topik tersebut diangkat adalah sebagai bentuk kecewa mahasiswa terhadap pemerintahan Jokowi yang dirasa tidak berkomitmen terhadap visi Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. “Poros Maritim Dunia adalah suatu konsep besar yang dicanangkan presiden Joko Widodo pada masa kampanyenya di tahun 2014. Hal tersebut memberi harapan kepada masyarakat Indonesia akan arah pembangunan multi sektoral yang terealisasikan. Namun di tahun 2019 konsep Poros Maritim Dunia tidak pernah dibicarakan pada masa kampanyenya. Realsisasi konsep tersebut dinilai tidak tercapai dan perlu adanya controlling mahasiswa demi mengawal program tersebut”. Terang Yoga, salah satu anggota Departemen Kajian Strategis BEM FPK.

Acara yang diselengarakan di RK B304 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga tersebut diawali dengan pemaparan materi dari dua narasumber, yaitu Dr. A. Shofy Mubarok, S.Pi., M,Si selaku Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dan Parid Ridwanuddin, MA., M.Ud selaku Deputi Pengelolaan Pengetahuan Koalisi Rakyat untuk Keadalian Perikanan (KIARA), serta dimoderatori oleh Akbar Maulana Al Ishaqi selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga.

“Kata kunci dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia  adalah menjadikan masyarakat pesisir sebagai aktor pembangunan, bukan sebagai objek pembangunan. Pembangunan juga harus memperhatikan faktor keberlanjutan” terang Parid Ridwanuddin ketika menjawab salah satu pertanyaan peserta tentang bagaimana keadaan pembangunan infrastruktur maritim. Parid berpendapat bahwa selama ini pembangunan infrstruktur yang dilakukan di era pemerintahan Jokowi belum menempatkan nelayan sebagai aktor pembangunan, melainkan menjadikan nelayan sebagai objek pembangunan. Parid juga berpendapat bahwasanya beberapa langkah pemerintah dalam membangun infrastruktur maritim dirasa tidak tepat antara akar permasalahan dengan solusi yang diterapkan. Beberapa diantaranya adalah semakin menjamurnya reklamasi yang mengurangi ruang hidup nelayan, padahal nelayan seharusnya menjadi orientasi pembangunan.

Salah satu kendala menuju Poros Maritim Dunia adalah kurangnya optimalisasi pemanfaatan sumber daya laut kita, serta perilaku perikanan menyimpang seperti penggunaan bom untuk menangkap ikan,  belum lagi ditambah maraknya illegal fishing yang sangat merugikan Negara. Dalam hal ini, Dr. A. Shofy Mubarok berpendapat bahwa perlu adanya efektifitas alat tangkap dan pelestarian ekosistem. “Penyelesaian yang ditempuh seharusnya tidak hanya melalui pendekatan lingkup nasional seperti undang-undang saja, melainkan juga pendekatan sektoral melalui adat istiadat” imbuh Dr. Shofy tentang penyelesaian perilaku perikanan menyimpang.

Harapan dari terealisasinya kajian ini adalah untuk pencerdasan dan membuka wawasan literasi mengenai potensi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dunia. “Harapannya rekan rekan mahasiswa dapat mengetahui potensi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, serta dapat mengawal janji presiden Joko Widodo akan konsep besar yang pernah beliau sampaikan”jelas Yoga.

Rencananya hasil kajian ini akan dijadikan bahan mediasi dengan pemerintah berupa tuntutan – tuntutan atas komitmen pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. “Kami mengusahakan adanya mediasi kepada pemerintah dengan memberi tuntutan – tuntutan terhadap pemerintah mengenai Poros Maritim Dunia, dan jika memungkinkan akan dilaksanakan aksi demi mengawal janji Presiden Jowo Widodo mengenai Poros Maritim Dunia” sambung Yoga.

Penulis
Akbar Maulana Al Ishaqi
Mahasiswa FPK
Email: akbar24maulana05@gmail.com

Rated 5 out of 5