Surabaya – Kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu keterampilan dasar yang wajib dimiliki mahasiswa dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun kepemimpinan. Melalui Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga pada Minggu (7/6/2026), peserta mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya komunikasi organisasi melalui materi bertajuk “Komunikasi dalam Organisasi” yang disampaikan oleh Daruti Dinda Nindarwi, S.Pi., M.P.
Materi ini diberikan sebagai upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai peran komunikasi dalam mendukung efektivitas organisasi. Dalam pemaparannya, Daruti menjelaskan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses pertunjukan dan penafsiran pesan yang berlangsung di antara unit-unit komunikasi dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Proses tersebut tidak hanya mencakup penyampaian informasi, tetapi juga penciptaan pesan, interpretasi pesan, serta interaksi yang berlangsung secara berkelanjutan.
Menurut Daruti, organisasi pada dasarnya terdiri atas berbagai individu yang saling terhubung dalam struktur tertentu. Oleh karena itu, keberhasilan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang terjalin di dalamnya. Ia menjelaskan bahwa komunikasi organisasi secara umum terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal.
Komunikasi vertikal terjadi antara pimpinan dan anggota maupun sebaliknya melalui mekanisme komunikasi dua arah (two-way traffic communication). Bentuk komunikasi ini berperan penting dalam proses penyampaian instruksi, pelaporan, evaluasi, hingga pemberian umpan balik dalam organisasi. Sementara itu, komunikasi horizontal berlangsung di antara individu yang memiliki kedudukan setara dalam organisasi, seperti antaranggota staf atau antardepartemen, yang bertujuan memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam pelaksanaan program kerja.
Selain komunikasi internal, mahasiswa juga diperkenalkan pada konsep komunikasi eksternal yang berperan penting dalam membangun citra organisasi di mata publik. Bentuk komunikasi eksternal dapat diwujudkan melalui berbagai media seperti siaran pers, artikel, pidato, brosur, poster, hingga konferensi pers yang bertujuan menyampaikan informasi kepada masyarakat secara efektif dan profesional.
Memahami Hambatan Komunikasi dalam Organisasi
Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, peserta juga diajak memahami berbagai hambatan yang sering muncul dalam proses komunikasi organisasi. Hambatan tersebut meliputi hambatan teknis, hambatan semantik, serta hambatan manusiawi.
Hambatan teknis dapat berupa keterbatasan fasilitas komunikasi, kurangnya informasi yang tersedia, hingga pemilihan media komunikasi yang kurang tepat. Sementara itu, hambatan semantik muncul akibat perbedaan pemahaman terhadap makna suatu pesan. Adapun hambatan manusiawi sering kali dipengaruhi oleh emosi, persepsi, prasangka pribadi, maupun keterbatasan kemampuan individu dalam menerima informasi.
“Komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi memastikan pesan tersebut dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang terlibat. Organisasi yang mampu membangun komunikasi yang efektif akan lebih siap menghadapi tantangan dan mencapai tujuan bersama,” ujar Daruti.
Bekal Penting untuk Kepemimpinan dan Dunia Profesional
Melalui materi ini, peserta LKMM-TD tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai komunikasi organisasi, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas, mendengarkan secara aktif, serta memahami alur komunikasi dalam organisasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas koordinasi antaranggota organisasi maupun kepanitiaan.
Pemahaman mengenai komunikasi vertikal, horizontal, dan eksternal menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menjalankan peran kepemimpinan. Dengan komunikasi yang efektif, potensi terjadinya miskomunikasi, tumpang tindih pekerjaan, hingga konflik internal organisasi dapat diminimalkan. Sebaliknya, proses koordinasi program kerja dapat berjalan lebih efisien, transparan, dan terarah sesuai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Lebih jauh, kemampuan komunikasi yang baik juga merupakan salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan dalam dunia profesional. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu berkomunikasi dengan sesama anggota organisasi, tetapi juga dengan dosen, mitra eksternal, instansi pemerintah, industri, maupun masyarakat. Oleh karena itu, materi ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi peserta untuk membangun profesionalisme, kepemimpinan, dan kemampuan kolaborasi yang akan bermanfaat selama masa studi maupun ketika memasuki dunia kerja.
Melalui pembekalan ini, LKMM-TD FPK UNAIR berupaya mencetak mahasiswa yang tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga mampu menjadi komunikator yang efektif, adaptif, dan berintegritas dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kompetensi tersebut menjadi modal penting dalam menciptakan organisasi mahasiswa yang sehat, produktif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
Materi ini juga mendukung implementasi SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa di bidang komunikasi dan kepemimpinan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui peningkatan kemampuan kolaborasi, koordinasi, dan kemitraan antaranggota organisasi.
Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting : TPA



