Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga terus berkomitmen meningkatkan kapasitas mahasiswa melalui penyelenggaraan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026. Salah satu materi yang menjadi fondasi penting dalam perencanaan program organisasi adalah Analisis Kondisi Lingkungan yang disampaikan oleh Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si. pada hari pertama kegiatan yang berlangsung pada 6 Juni 2026 di Gedung C FPK UNAIR.
Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya menganalisis kondisi lingkungan sebelum menyusun suatu program kerja. Dalam organisasi kemahasiswaan, perencanaan kegiatan yang baik tidak hanya berangkat dari ide, tetapi juga harus didasarkan pada kondisi dan kebutuhan nyata yang ada di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan suatu program sejak tahap perencanaan.
Luthfiana menjelaskan bahwa analisis kondisi lingkungan merupakan proses mengamati dan menyelidiki keadaan secara terperinci, terarah, dan sistematis sebelum suatu kegiatan dilaksanakan. Melalui proses tersebut, organisasi dapat mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang berpotensi memengaruhi keberhasilan program. Faktor internal mencakup kekuatan dan kelemahan organisasi, sedangkan faktor eksternal meliputi peluang dan ancaman yang berasal dari luar organisasi.
Lebih lanjut, materi ini menekankan bahwa analisis kondisi lingkungan memiliki berbagai manfaat strategis dalam proses pengambilan keputusan. Analisis tersebut dapat membantu organisasi mengetahui potensi dan keterbatasan yang dimiliki, menyesuaikan program kerja dengan kebutuhan yang ada, memprediksi hambatan yang mungkin muncul selama pelaksanaan kegiatan, hingga mencegah kegagalan program akibat perencanaan yang kurang matang. Dengan memahami kondisi lingkungan secara komprehensif, organisasi dapat menyusun program yang lebih relevan, adaptif, dan tepat sasaran.
Dalam pemaparannya, Luthfiana juga mengenalkan beberapa metode sederhana yang dapat digunakan mahasiswa untuk melakukan analisis kondisi lingkungan. Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Melalui metode ini, mahasiswa diajak untuk mengidentifikasi kekuatan yang dapat dimaksimalkan, kelemahan yang perlu diperbaiki, peluang yang dapat dimanfaatkan, serta ancaman yang harus diantisipasi dalam pelaksanaan suatu program.
Agar peserta lebih mudah memahami penerapan analisis SWOT, materi dilengkapi dengan studi kasus mengenai rencana penyelenggaraan “AquaPreneur Bootcamp”, sebuah program pelatihan kewirausahaan perikanan bagi mahasiswa. Dari studi kasus tersebut, peserta diajak mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberhasilan program, mulai dari pengalaman organisasi, dukungan alumni, potensi kemitraan, hingga tantangan berupa keterbatasan pengalaman panitia dan rendahnya minat peserta terhadap dunia kewirausahaan.
Selain itu, peserta juga diberikan latihan analisis terhadap skenario penyelenggaraan praktikum lapang mahasiswa perikanan. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa belajar bagaimana memetakan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mungkin muncul dalam suatu kegiatan. Pendekatan ini mendorong peserta untuk berpikir kritis dan strategis dalam merancang solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi organisasi.
Melalui materi Analisis Kondisi Lingkungan, peserta LKMM-TD 2026 tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai perencanaan program, tetapi juga keterampilan praktis dalam menganalisis situasi sebelum mengambil keputusan. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menyusun program kerja yang berbasis data dan kebutuhan nyata, sehingga setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi organisasi maupun masyarakat.
Materi ini sejalan dengan komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa dalam berpikir kritis, analitis, dan berbasis pemecahan masalah. Selain itu, pembelajaran mengenai analisis kondisi lingkungan juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) karena mendorong mahasiswa untuk memahami pentingnya kolaborasi dan pemetaan pemangku kepentingan dalam keberhasilan suatu program.
Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor: TPA



