Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Memahami Konflik sebagai Dinamika Organisasi, Mahasiswa FPK UNAIR Pelajari Strategi Membangun Organisasi yang Produktif

Bagikan

SURABAYA – Konflik kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari dalam kehidupan organisasi. Namun, di balik berbagai perbedaan pendapat, kepentingan, maupun cara pandang yang muncul, konflik sesungguhnya merupakan bagian alami dari dinamika kelompok. Pemahaman tersebut menjadi fokus utama dalam materi Pengendalian Konflik yang disampaikan oleh Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D. pada rangkaian Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR).

Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami konsep dasar konflik, berbagai bentuk konflik yang dapat terjadi dalam organisasi, sumber penyebab konflik, hingga pentingnya pengambilan keputusan dalam proses penyelesaiannya. Materi ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang nantinya akan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan maupun lingkungan profesional.

Dalam pemaparannya, Bapak Annur Ahadi menjelaskan bahwa konflik dapat dimaknai sebagai perseteruan, perselisihan, atau pertentangan yang muncul akibat adanya perbedaan kepentingan dan tujuan antarindividu maupun kelompok. Ia juga memperkenalkan beberapa pandangan para ahli mengenai konflik. Daniel Webber mendefinisikan konflik sebagai kondisi ketika terdapat beberapa pilihan yang saling bersaing atau tidak selaras. Sementara itu, Stephen Robbins menjelaskan bahwa konflik merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mengimbangi pihak lain melalui berbagai bentuk penghalang yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan pihak tersebut.

Lebih lanjut, peserta dikenalkan pada tiga perspektif utama dalam memandang konflik. Perspektif tradisional meyakini bahwa seluruh bentuk konflik harus dihindari karena dianggap dapat mengganggu stabilitas organisasi. Berbeda dengan itu, perspektif human relation memandang konflik sebagai fenomena yang alamiah dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kelompok. Adapun perspektif interaksionis melihat konflik sebagai kekuatan positif yang dapat mendorong organisasi berkembang, meningkatkan kreativitas, serta menghasilkan berbagai inovasi baru.

Menurut Bapak Annur Ahadi, perubahan cara pandang terhadap konflik menjadi hal yang penting bagi mahasiswa. Konflik tidak selalu identik dengan perpecahan atau kegagalan organisasi. Dalam kondisi tertentu, konflik justru dapat menjadi sarana evaluasi yang membantu organisasi menemukan solusi yang lebih baik dalam mencapai tujuan bersama.

Selain membahas konsep dasar, peserta juga diajak memahami berbagai jenis konflik yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari maupun organisasi. Konflik diri merupakan gangguan emosional yang terjadi dalam diri seseorang ketika menghadapi pilihan atau situasi tertentu. Konflik antarindividu terjadi akibat perbedaan pandangan, karakter, maupun kepentingan antara satu orang dengan orang lainnya. Sementara itu, konflik dalam kelompok kerja muncul ketika perselisihan terjadi di dalam sebuah tim atau organisasi yang memiliki tujuan bersama.

Pada sesi berikutnya, Bapak Annur Ahadi menjelaskan pentingnya memahami konsep kelompok kerja efektif. Ia menyampaikan bahwa kelompok kerja merupakan sekumpulan individu yang dibentuk untuk menjalankan berbagai tugas organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kelompok kerja yang terdiri atas berbagai latar belakang dan karakter, potensi munculnya konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Konflik dalam kelompok kerja dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, konflik antaranggota dalam satu bagian organisasi, konflik antara anggota dan pimpinan dalam divisi yang sama, konflik antaranggota dari divisi yang berbeda, hingga konflik antar pimpinan yang memiliki tanggung jawab berbeda dalam organisasi. Beragam bentuk konflik tersebut menunjukkan bahwa setiap individu perlu memiliki kemampuan komunikasi dan kerja sama yang baik agar dinamika organisasi tetap berjalan secara produktif.

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian peserta adalah mengenai sumber konflik dalam organisasi. Annur menjelaskan bahwa terdapat empat faktor utama yang dapat memicu munculnya konflik. Faktor pertama adalah komunikasi. Kesalahpahaman, kurangnya informasi, maupun penyampaian pesan yang tidak efektif sering kali menjadi pemicu utama terjadinya perselisihan antaranggota organisasi.

Faktor kedua adalah struktur tugas dan struktur organisasi. Pembagian tugas yang tidak jelas, tumpang tindih kewenangan, maupun kurangnya koordinasi dapat menimbulkan konflik dalam pelaksanaan program kerja. Faktor ketiga adalah faktor personal yang berkaitan dengan karakter, nilai, sikap, dan kepribadian individu. Sementara itu, faktor terakhir adalah faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kondisi dan hubungan kerja dalam organisasi.

Melalui pemahaman terhadap berbagai sumber konflik tersebut, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi potensi permasalahan sejak dini sehingga dapat mengambil langkah pencegahan maupun penyelesaian yang tepat. Kemampuan ini menjadi salah satu keterampilan penting dalam kepemimpinan dan manajemen organisasi.

Bapak Annur Ahadi juga menekankan bahwa konflik merupakan gejala alamiah yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, fokus utama organisasi bukanlah menghilangkan konflik sepenuhnya, melainkan mengelolanya secara konstruktif. Konflik yang ditangani dengan baik dapat menjadi sarana pembelajaran, evaluasi, dan perbaikan yang mendorong organisasi berkembang ke arah yang lebih baik.

“Memanusiawikan konflik akan lebih cerdas ketimbang mengingkari konflik,” ungkapnya saat menjelaskan pentingnya memahami konflik sebagai bagian dari proses interaksi manusia dalam organisasi.

Salah satu peserta LKMM-TD 2026 mengungkapkan bahwa materi tersebut memberikan perspektif baru mengenai cara menyikapi perbedaan pendapat dalam organisasi. Menurutnya, konflik tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperbaiki komunikasi dan meningkatkan kualitas kerja sama tim.

Peserta lainnya juga menilai bahwa materi Pengendalian Konflik sangat relevan dengan kehidupan organisasi mahasiswa yang melibatkan banyak individu dengan karakter dan latar belakang yang beragam. Pemahaman mengenai sumber konflik dan cara mengelolanya dinilai dapat membantu menciptakan lingkungan organisasi yang lebih sehat dan produktif.

Melalui materi Pengendalian Konflik, LKMM-TD 2026 FPK UNAIR tidak hanya membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai dinamika organisasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi kepemimpinan dan keterampilan manajemen mahasiswa. Selain itu, materi ini turut berkontribusi terhadap SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan membekali peserta kemampuan membangun kolaborasi, menyelesaikan perbedaan secara konstruktif, serta memperkuat sinergi dalam organisasi kemahasiswaan.

Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr

Editor: TPA

Rated 5 out of 5