Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga terus membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan dasar yang diperlukan dalam pengelolaan organisasi. Salah satu materi yang diberikan pada hari pertama kegiatan adalah Tolok Ukur Keberhasilan yang disampaikan oleh Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech. Materi ini menekankan pentingnya penyusunan indikator keberhasilan yang jelas dan terukur sebagai dasar evaluasi suatu program kerja.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung C FPK UNAIR tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap program atau kegiatan yang dirancang oleh organisasi harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas sejak tahap perencanaan. Tanpa adanya tolok ukur yang terdefinisi dengan baik, organisasi akan mengalami kesulitan dalam menilai apakah tujuan kegiatan telah tercapai atau belum.
Dr. Rozi menjelaskan bahwa tolok ukur keberhasilan merupakan suatu patokan terukur yang digunakan untuk menilai suatu kegiatan sekaligus menjadi sasaran minimal yang telah ditentukan dalam proses perencanaan. Keberadaan tolok ukur tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga membantu organisasi menentukan arah dan target yang ingin dicapai selama pelaksanaan program. Dengan demikian, setiap kegiatan yang dijalankan memiliki standar pencapaian yang dapat dijadikan acuan bersama.
Dalam pemaparannya, Dr. Rozi mengawali materi dengan menyoroti pentingnya mengenali kondisi diri dan tujuan yang ingin dicapai sebelum menentukan keberhasilan suatu program. Konsep tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan tidak dapat diukur secara subjektif, melainkan harus didasarkan pada parameter yang telah disepakati dan dirumuskan secara sistematis sejak awal kegiatan.
Lebih lanjut, peserta diperkenalkan pada konsep benchmarking atau tolok ukur sebagai proses pembelajaran melalui perbandingan dengan organisasi maupun institusi lain. Pendekatan ini memungkinkan suatu organisasi untuk mengidentifikasi praktik-praktik yang baik, menemukan area yang perlu diperbaiki, serta memperoleh inspirasi dalam mengembangkan program yang lebih efektif. Namun demikian, Dr. Rozi menegaskan bahwa tolok ukur bukanlah solusi langsung terhadap suatu masalah, melainkan alat bantu yang dapat digunakan dalam proses penilaian dan pengambilan keputusan.
Materi ini juga membahas berbagai persyaratan yang perlu diperhatikan dalam menyusun tolok ukur keberhasilan. Salah satunya adalah penggunaan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Selain itu, indikator yang dirumuskan tidak boleh mengandung makna ganda atau bersifat ambigu sehingga dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh setiap anggota organisasi. Kejelasan indikator menjadi faktor penting untuk memastikan proses evaluasi dapat dilakukan secara objektif.
Menurut Dr. Rozi, keberadaan tolok ukur keberhasilan memiliki beberapa fungsi utama dalam pengelolaan organisasi. Pertama, sebagai alat untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu kegiatan. Kedua, membantu menciptakan objektivitas dalam proses evaluasi. Ketiga, menjadi sumber informasi yang dapat digunakan untuk menyempurnakan kegiatan pada periode berikutnya. Oleh karena itu, penyusunan indikator keberhasilan tidak boleh dianggap sebagai formalitas semata, melainkan bagian penting dari keseluruhan siklus manajemen organisasi.
Salah satu pembahasan utama dalam materi ini adalah penerapan prinsip SMART dalam penyusunan tolok ukur keberhasilan. SMART merupakan singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Time-Based. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa tujuan yang baik harus dirumuskan secara spesifik, dapat diukur, memungkinkan untuk dicapai, realistis sesuai kondisi yang ada, serta memiliki batas waktu yang jelas. Prinsip SMART menjadi pedoman yang membantu organisasi menyusun target yang lebih terarah dan mudah dievaluasi.
Selain membahas konsep SMART, peserta juga diperkenalkan pada strategi POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, dan Evaluating) sebagai dasar dalam menjalankan fungsi organisasi. Dalam konteks tersebut, tolok ukur keberhasilan berperan penting terutama pada tahap pengendalian dan evaluasi untuk memastikan setiap program berjalan sesuai rencana dan mencapai hasil yang diharapkan.
Dr. Rozi juga menjelaskan beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan dalam suatu kegiatan, antara lain ketepatan waktu pelaksanaan, efektivitas penggunaan dana, tingkat partisipasi peserta, serta kinerja organisasi atau kepanitiaan. Aspek-aspek tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan masing-masing program sehingga indikator yang digunakan menjadi lebih relevan dan representatif.
Pada sesi berikutnya, peserta mempelajari teknik merumuskan tolok ukur keberhasilan yang baik. Indikator keberhasilan dianjurkan untuk dinyatakan dalam bentuk kuantitatif agar lebih mudah diukur dan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan. Selain itu, indikator juga perlu mencantumkan mutu atau standar minimal yang harus dicapai sehingga keberhasilan program dapat dinilai secara lebih objektif.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai indikator keberhasilan yang efektif. Dr. Rozi menjelaskan bahwa indikator harus selaras dengan tujuan program yang ingin dicapai, fokus pada aspek yang benar-benar diukur, serta mampu menggambarkan tingkat keberhasilan kegiatan secara langsung. Peserta juga diberikan contoh perbedaan antara indikator yang masih terlalu umum dengan indikator yang spesifik dan terukur. Melalui contoh tersebut, mahasiswa dapat memahami pentingnya merumuskan target yang jelas agar hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang akurat.
Sebagai bentuk implementasi materi, peserta mengikuti latihan kelompok dengan mensimulasikan penyelenggaraan kegiatan pendukung perkuliahan seperti pelatihan, workshop, atau kunjungan lapang. Dalam latihan tersebut, setiap kelompok diminta menyusun tolok ukur keberhasilan beserta indikatornya. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari sekaligus melatih kemampuan berpikir analitis dalam merancang program organisasi.
Melalui materi Tolok Ukur Keberhasilan, peserta LKMM-TD 2026 memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan suatu kegiatan tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya program, tetapi juga oleh sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dan diukur secara objektif. Kemampuan menyusun indikator keberhasilan yang tepat diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengelola organisasi secara profesional, efektif, dan berorientasi pada hasil.
Materi ini sejalan dengan komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa dalam perencanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, kemampuan menyusun target dan indikator keberhasilan yang jelas juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengelolaan program kolaboratif yang lebih terukur, akuntabel, dan berkelanjutan.
Penulis: Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor: TPA



