OSTEOCRANIUM IKAN KEURELING (TOR TAMBROIDES) (CYPRINIFORMES: CYPRINIDAE) DI SUNGAI TANGSE, ACEH, INDONESIA

By WAHJU TJAHJANINGSIH On Kamis, Oktober 01 st, 2020 · no Comments · In

OSTEOCRANIUM IKAN KEURELING (TOR TAMBROIDES) (CYPRINIFORMES: CYPRINIDAE) DI SUNGAI TANGSE, ACEH, INDONESIA

Ikan memiliki kerangka yang sangat kompleks. Sistem muskuloskeletal tulang tengkorak ikan teleostean dewasa dilaporkan terdiri dari sekitar 60 tulang yang saling berhubungan. Kajian morfologi kerangka ikan diperlukan untuk memahami hubungan sistematis, taksonomi dan filogenetik antar spesies ikan. Beberapa ahli menyatakan bahwa deskripsi morfologi kerangka, khususnya tulang tengkorak pada ikan, sangat penting untuk mengidentifikasi kelainan pada sistem kerangka. Juga, ontogeni tengkorak dapat memberikan informasi penting mengenai evolusi perkembangan tulang ikan. Kajian morfologi kerangka berbagai famili ikan telah dilaporkan, misalnya pada famili Cyprinidae, Characidae, Nemacheilidae, Cichlidae, dan Alestidae. Meskipun studi morfologi kerangka ikan, khususnya cranium ikan telah dilakukan, namun nomenklatur tulang penyusunnya belum konsisten, sehingga kompilasi data tulang untuk setiap spesies ikan yang berbeda dapat menjadi bias.

Cranium memiliki fungsi utama melindungi otak dan organ sensorik di kepala. Cranium dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu tulang tengkorak (neurocranium) dan tulang wajah. Bentuk tempurung kepala pada tiap spesies dipengaruhi oleh genetik individu dan lingkungan, termasuk kebiasaan makan dan kualitas air. Evolusi pakan ikan, diyakini berhubungan erat dengan keragaman morfologi rahang atas dan premaxilla. Misalnya, mulut pada spesies bentik umumnya ada di ujung dan elastis, rahang tumpul, dan gigi kurang. Struktur rahang ikan predator dari genus Dunkleosteus, misalnya kuat dan tajam, sehingga mampu menggigit dengan kuat selama rahang menutup. Ikan-ikan Oncorhynchus mykiss dan Scleropages jardinii memiliki kemampuan mengangkat rahang bawah karena struktur tulang sternohyoide dan hypohyale. Rahang atas ikan Lepisosteus osseus (Lepisosteidae) meluas menyebabkan rahang menutup dengan cepat dan kuat. Keureling (Tor tambroides) merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki persebaran yang luas di kawasan Asia Tenggara. Meski demikian, populasi keureling saat ini mengalami penurunan yang cukup drastis akibat penangkapan ikan berlebihan, kerusakan hutan, aktivitas antropogenik, fluktuasi debit air sungai, dan konversi lahan. Ikan ini telah terdaftar sebagai biota yang semakin berkurang dan berada dalam daftar merah IUCN. Secara morfologis, keureling memiliki mulut terminal dengan lipatan kulit terjumbai yang dapat terangkat pada bibir, dan terdapat dua pasang tentakel pada rahang atas. Ikan keureling di wilayah aceh banyak dijumpai di sungai Tangse.

Sampai saat ini, studi tentang osteocranium ikan masih jarang dibandingkan dengan studi mamalia dan burung. Mayoritas penelitian keureling masih berkaitan dengan upaya ekologi dan domestikasi. Namun, beberapa penelitian terkait osteologi atau tulang belulang ikan keureling masih terbuka lebar. Penelitian sebelumnya terkait osteologi keureling terbatas pada morfologi umum dan tulang belakang, sedangkan informasi morfologi pada tempurung kepala belum dipublikasikan. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan osteokranium pada ikan keureling (Tor tambroides).

Penulis
Yeni Dhamayanti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di: https://smujo.id/biodiv/article/view/4627

Sumber
http://news.unair.ac.id/2020/09/29/osteocranium-ikan-keureling-tor-tambroides-cypriniformes-cyprinidae-di-sungai-tangse-aceh-indonesia/

 68 total views,  10 views today

Please follow and like us:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Instagram