PAKAN ALAMI UNTUK KEBUTUHAN LARVA
Ahli biologi ikan mengkategorikan larva terdiri dari dua jenis yaitu precocial dan altricial. Larva precocial adalah larva yang ketika kantung kuning telur habis, muncul sebagai larva-dewasa, sirip sempurna dan sistem pencernaan yang berfungsi dengan baik secara fungsional. Larva seperti itu bisa menelan dan mencerna makanan yang diformulasikan sebagai makanan pertama. Larva altricial adalah larva yang ketika kantung kuning telur habis, tetap dalam keadaan yang relatif belum berkembang. Itu sistem pencernaan masih belum sempurna dan sebagian besar pencernaan untuk jenis protein terjadi di sel epitel hindgut. Sistem pencernaan seperti itu tidak mampu memproses pakan yang diformulasikan (pelet) untuk hidup maupun untuk pertumbuhan larva dibandingkan dengan larva yang diberi pakan alami. Oleh karena itu, larva altricial membutuhkan pakan hidup, tetapi ada alasan lain selain mengenai kecernaan larva.
Pakan hidup dapat berenang di kolom air sehingga selalu tersedia untuk larva. Makanan yang diformulasikan cenderung terakumulasi di permukaan air atau cepat tenggelam ke dasar kolam, sehingga kurang tersedia untuk larva dibandingkan pakan alami. Selain itu, pergerakan pakan hidup di dalam air memungkinkan akan merangsang respons makan larva, karena sejarah evolusi yaitu larva beradaptasi untuk menyerang mangsa yang bergerak. di alam. Pakan alami memiliki exoskeleton yang tipis dan kadar air yang tinggi, sehingga memiliki rasa yang lebih enak bagi larva, dibandingkan dengan pakan formulasi pelet yang keras dan kering.
Secara fisiologi pencernaan dan nutrisi krustasea larva yaitu larva udang dan larva Macrobrachium dapat menggunakan pakan buatan (pelet). Larva krustasea seperti udang secara kualitatif berbeda dari larva ikan. Larva krustasea tidak hanya memiliki pelengkap alat makan (kaki jalan) yang dapat digunakan untuk memanipulasi organisme mangsa yang ditangkap (dicepit), tetapi juga morfologi dan fisiologi usus untuk dicerna memudahkan pakan formula (pelet) lebih efektif untuk dicerna.
Zona hidup larva udang memiliki pergerakan air yang lebih besar daripada zona hidup larva ikan, sehingga pakan yang diformulasikan (pelet) mampu tinggal di kolom air dan udang dapat menangkap makanan dengan kaki jalan daripada harus menelan mereka dalam satu tegukan seperti ikan larva lakukan. Sebagai hasilnya, larva udang telah terbukti dapat bertahan dan tumbuh dengan baik pada pakan yang diformulasikan (pelet), sedangkan larva ikan tidak.
Penulis:
Luthfiana Aprilianita Sari
(Departemen MKI-BP)
Email: luthfianaas@fpk.unair.ac.id



