Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

PENGMAS FPK: KENALKAN KONSEP ZERO WASTE DAN PENGUATAN KEAMANAN PANGAN PADA PELAKU UMKM KOTA GORONTALO

Bagikan

Berita FPK – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengmas) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) yang diketuai oleh Prof. Dr. Sri Subekti, DEA. drh. dan beranggotakan Dwi Yuli Pujiastuti, S.Pi., M.P. dan Putri Desi Wulansari, S.Pi., M.Si melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Kelurahan Libuo, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo (29-31 Agustus 2019). Kegiatan tersebut menggandeng UMKM Akbar Pisces Cafugo sebagai mitra yang akan diberikan penyuluhan terkait diversifikasi produk perikanan dan sanitasi hygiene. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 25 orang yang terdiri dari para pelaku UMKM dan perwakilan penyuluh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Gorontalo.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini merupakan tahun ke 3 dilakukan di Gorontalo. Pada kesempatan kali ini, Tim Pengmas melakukan penyuluhan terkait diversifikasi olahan ikan sebagai aplikasi program pengenalan Zero Waste kepada masyarakat serta pemahaman akan sanitasi dan higiene sebagai bentuk penguatan keamanan pangan pada produk perikanan. Kegiatan dibuka oleh sambutan dari Bapak Irfan selaku pengelola UMKM Akbar Picses Cafugu dilanjutkan oleh sambutan Prof. Dr. Sri Subekti selaku Ketua Kegiatan Pengmas. Dalam kata sambutannya, pak Irfan berterima kasih atas kedatangan tim dari FPK UNAIR yang membagikan ilmunya tentang pengolahan ikan dan pentingnya penerapan sanitasi dan higiene. Bak dayung bersambut, Prof Sri Subekti juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UMKM Akbar Pisces Cafugo yang berkenan menerima baik kedatangan Tim Pengmas serta mempersiapkan kegiatan tersebut mulai dari komunikasi, koordinasi, dan pelaksanaannya.

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WITA dengan pemaparan materi sanitasi dan higiene oleh Prof. Sri Subekti. Dalam pemaparannya, Beliau mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan praktik sanitasi dan higiene dalam proses produksi mulai dari mencuci tangan yang benar, menggunakan masker dan sarung tangan serta mencuci alat-alat produksi sebelum dan setelah proses produksi. Hal ini menjadi penting karena dengan menjaga kebersihan maka yang terlindungi bukan hanya konsumen yang akan memakan produk kita tetapi juga memberikan keselamatan bagi para pekerja ketika memproduksi olahan perikanan sehingga harapannya dapat keamanan pangan produk perikanan. Pemaparan berikutnya dari Dwi Yuli Pujiastuti, S.Pi., M.P yang menjelaskan diversifikasi olahan produk perikanan yng notabennya semua bagian ikan dapat dimanfaatkan mulai dari daging, kepala, tulang, sisik, kulit sampai ke isi perutnya sehingga produk perikanan dikenal sebagai zero waste.

Pengasapan dan Fermentasi merupakan bagian dari pengolahan produk perikanan secara tradisional. Masyarakat kota Gorontalo mengenal produk ikan asap sebagai cafugu dimana mereka biasa menggunakan ikan cakalang sebagai bahan bakunya. Masalah yang sering terjadi adalah masa simpan yang singkat pada produk ikan asap yakni 2-3 hari saja. Oleh karena itu, dalam kegiatan pengmas ini, tim dari FPK mengenalkan tentang karagenan yaitu produk hasil ekstraksi rumput laut merah yang dapat dijadikan bahan pelapis (coating) yang melindung produk ikan asap dan dapat menambah masa simpannya. Selain itu pengenalan jenis fermentasi dilakukan untuk memperkaya olahan produk masyarakat di Kecamatan Dungingi. Sebagian besar isi perut dari cakalang dilakukan proses fermentasi dan dikenal dengan sebutan bakasang. Tim pengmas FPK mencoba mengenalkan salah satu bentuk produk olahan fermentasi yaitu Bekasam. Bekasam merupakan produk fermentasi ikan dimana ikan ditaburi garam dan ditambahkan sumber karbohidrat sebagai penyedia karbon untuk nutrisi selama proses fermentasi berlangsung, yakni menggunakan nasi dan disimpan dalam keadaan anaerob selama 7 hari.

Setelah praktik pelapisan karagenan dan pembuatan bekasam, dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam sesi tersebut, masyarakat antusias dan berharap tahun depan dapat dilakukan kunjungan kembali ke kota mereka. Selain itu, mereka juga mengutarakan bahwa Gorontalo memiliki tiga ikan endemik yaitu Nike, Nila dan Tuna dimana harapannya tahun depan dapat membuat produk olahan dari ketiga ikan yang berpotensi di Kota Gorontalo tersebut.

Penulis

Dwi Yuli Pujiastuti, S.Pi., M.P

Departemen Kelautan

Email: dwiyp@fpk.unair.ac.id

Rated 5 out of 5