Surabaya – Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menyambut mahasiswa baru Program Magister dalam kegiatan Pembekalan dan Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan akademik, tetapi juga mempertemukan sivitas akademika dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan mancanegara yang akan menempuh pendidikan pascasarjana di FPK UNAIR.
Salah satu mahasiswa internasional yang bergabung tahun ini adalah Rabia Yaseen, mahasiswa baru Program Magister Bioteknolig perikanan (S2 BPK) asal Pakistan yang berhasil meraih Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Beasiswa tersebut mengantarkannya untuk melanjutkan studi pascasarjana di Indonesia sekaligus memperluas wawasan riset di bidang perikanan dan kelautan.
Sebelum melanjutkan pendidikan di UNAIR, Rabia menyelesaikan pendidikan sarjana pada program Bachelor of Fisheries and Aquaculture di University of Veterinary and Animal Sciences (UVAS), Lahore, Pakistan. Latar belakang akademik tersebut menjadi fondasi yang mendorongnya untuk terus mengembangkan keilmuan, khususnya di bidang genetika akuakultur.
Memilih UNAIR karena Reputasi Global
Di tengah banyaknya pilihan perguruan tinggi, Rabia menjatuhkan pilihannya kepada Universitas Airlangga. Menurutnya, reputasi sebuah universitas menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas pendidikan dan peluang kolaborasi di tingkat internasional.
“Saya memilih Universitas Airlangga karena memiliki peringkat yang sangat baik. Bagi saya, peringkat universitas berbicara banyak dalam lingkup global dan menunjukkan kualitas pendidikan serta pengakuan internasional yang dimiliki institusi tersebut,” ungkap Rabia.
Baginya, belajar di universitas dengan reputasi internasional tidak hanya memberikan pengalaman akademik yang lebih luas, tetapi juga membuka kesempatan membangun jejaring dengan peneliti dan mahasiswa dari berbagai negara.
Membawa Ilmu untuk Memberikan Dampak
Selama menempuh studi di UNAIR, Rabia memiliki beberapa target yang ingin dicapai. Selain menyelesaikan pendidikan tepat waktu, ia berharap penelitian yang dilakukan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan di negaranya.
Di sisi lain, Rabia juga ingin memanfaatkan kesempatan selama berada di Indonesia untuk mengenal lebih dekat budaya dan kehidupan masyarakat, khususnya di Jawa Timur.
“Saya berharap bisa lulus tepat waktu, menghasilkan riset yang bermanfaat bagi negara saya, dan menikmati kesempatan untuk mengeksplorasi Jawa Timur selama menempuh studi di sini,” tuturnya.
Kehadiran Rabia Yaseen sebagai penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) mencerminkan semakin kuatnya daya tarik FPK UNAIR di tingkat internasional. Melalui lingkungan akademik yang inklusif dan kolaboratif, FPK UNAIR terus membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk berkembang bersama, menghasilkan riset yang berdampak, serta memperkuat jejaring akademik global.
Kehadiran Rabia Yaseen sebagai penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) menjadi salah satu wujud semakin kuatnya daya tarik FPK UNAIR di mata mahasiswa internasional. Melalui lingkungan akademik yang inklusif, kolaborasi riset yang luas, serta kualitas pendidikan yang diakui secara global, FPK UNAIR terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu perikanan dan kelautan yang mampu menjawab berbagai tantangan dunia. Komitmen tersebut sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengembangan riset untuk mendukung akuakultur berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan dalam menghadapi tantangan sektor perikanan global.
Penulis : Fahmi Bayhaqi
Penyunting : Terry Previo Avianto





