Peternak di Desa Kalianyar, Bangil, Jawa Timur, telah berhasil menggabungkan budidaya ikan bandeng dan udang vannamei dalam polikultur yang sukses. Dalam Praktek Kerja Lapang mereka, yang berlangsung dari 28 Juli hingga 5 September 2008, mereka menggunakan metode deskriptif untuk mengumpulkan data primer melalui observasi, partisipasi aktif, wawancara, dan studi literatur.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kegiatan polikultur ini mencakup persiapan tambak, manajemen kualitas air yang ketat, pemilihan dan penebaran benih, serta proses pemanenan. Menurut Dr. Ani Susanti, pakar perikanan di lokasi tersebut, “Manajemen kualitas air menjadi kunci utama keberhasilan kami. Kami memantau suhu air antara 26 hingga 30ºC, salinitas antara 22 hingga 25 promil, dan tingkat oksigen terlarut yang berkisar antara 4,0 hingga 5,5 ppm.”
Hasil dari praktek ini menunjukkan bahwa udang vannamei dapat dipanen dalam waktu 3-4 bulan dengan ukuran 80-100 ekor per kilogram, sementara ikan bandeng memerlukan waktu 5-6 bulan dengan berat tubuh mencapai 200-250 gram per ekor. Selama proses pembesaran, tidak ditemukan penyakit yang signifikan, berkat manajemen yang baik dan pakan alami seperti ganggang dan plankton.
Polikultur ini tidak hanya meningkatkan pendapatan peternak lokal tetapi juga menyediakan alternatif yang berkelanjutan dalam industri perikanan. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan industri perikanan Indonesia semakin mampu bersaing di pasar global.











