Red Tide, Unik Namun Berbahaya

By Ayu Lana Nafisyah On Senin, Mei 03 rd, 2021 · no Comments · In

Red tide merupakan kondisi ketika suatu perairan mengalami perubahan warna akibat ledakan fitoplankton secara tiba-tiba (blooming) dari salah satu jenis fitoplankton bersel satu, yang umumnya berasal dari kelompok dinoflagellata (Adnan, 1985). Red tide memperlihatkan perubahan warna air dari biru atau biru-hijau menjadi merah, merah-kecokelatan, hijau kekuningan, bahkan putih (Praseno dan Sugestiningsih, 2000). Warna yang dihasilkan sesuai dengan warna pigmen fitoplankton yang mengalami ledakan populasi tersebut (Mulyani et al., 2012).

Ledakan populasi (blooming) terjadi karena berlimpahnya nutrien dalam air. Secara umum penyebab terjadinya blooming yaitu kombinasi atau gabungan dari perubahan beberapa parameter di suatu badan air (Hadisusanto dan Puguh, 2010). Sedangkan peningkatan fenomena blooming itu sendiri diakibatkan adanya perubahan iklim di perairan, meningkatnya kesuburan perairan akibat aktivitas industri, up-welling, serta perubahan pola penyebaran nutrien di perairan akibat masuknya air dari daratan ke badan perairan dalam jumlah yang cukup besar (Rabalais et al., 2009).

Ledakan populasi dari fitoplankton akan menutupi permukaan perairan sehingga akan menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan di area yang terdampak. Gangguan tersebut seperti deplesi oksigen dan gangguan fungsi mekanik maupun kimiawi pada insang ikan (Mulyani et al., 2012). Hal ini dikarenakan di dalam tubuh dinoflagellata penyebab red tide terdapat klorofil yang menghasilkan senyawa toksik saat proses fotosintesis. Kondisi ini akan berakibat pada kematian ikan secara massal. Tidak hanya itu, toksik yang dihasilkan oleh dinoflagellata juga akan berbahaya apabila termakan oleh manusia lewat kerang-kerangan sehingga menyebabkan terjadinya keracunan (Adnan, 1985). Fenomena ini juga akan berdampak pada ekosistem pesisir, kegiatan perikanan tangkap, industri budidaya, sampai membahayakan kesehatan manusia (Anderson, 2009).

Red tide juga berdampak dari segi ekonomi karena dapat mengakibatkan kematian pada biota perairan seperti ikan sehingga membuat harga biota tersebut menurun bahkan tidak bernilai. Tidak hanya itu, biaya untuk melakukan monitoring terhadap perairan yang terdampak red tide juga akan meningkat. Bahkan aktivitas di sektor pariwisata dapat terganggu karena bahaya dari fenomena ini (Barokah et al., 2016).

Fenomena Red Tide di San Diego, AS (Sumber: caseagrant.ucsd.edu)

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Q. 1985. Red Tide. Oseana, 10(2): 48-55.

Anderson, D. M. 2009. Approaches to Monitoring, Control and Management of Harmful Algal Blooms (HABs). Ocean Coastal Management, 52(7): 342-347.

Hadisusanto, S., dan Puguh, S. 2010. Retaid Perairan Pesisir Barat Tablasupa Kabupaten Jayapura, Papua. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 17(3): 183-190.

Mulyani., Riani, W., Wisnu, W. 2012. Sebaran Spasial Spesies Penyebab Harmful Algal Bloom (HAB) Di Lokasi Budidaya Kerang Hijau (Perna viridis) Kamal Muara, Jakarta Utara, Pada Mulan Mei 2011. Jurnal Akuatika, 3(1): 28-39.

Praseno, D.P., dan Sugestiningsih. 2000. Retaid Di Perairan Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi, Jakarta.

Rabalais, N.N., Turner, E.R., Diaz, R.J., Justic, D. 2009. Global Change and Eutrophication of Coastal Waters. Journal Marine Science, 66(7): 1528-1537.

https://caseagrant.ucsd.edu/extension-outreach/facts-and-resources/red-tides-in-california. Diakses pada 03/05/2021

 

Penulis : Ridwansyah (Akuakultur, 2019)

Editor : Desi Rahmadhani (Akuakultur, 2020)

 26 total views,  2 views today

Please follow and like us:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
YOUTUBE
Instagram