Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Revitalisasi Kolam FPK UNAIR Dukung Praktik Budidaya Mahasiswa

Bagikan

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) terus memperkuat pembelajaran berbasis praktik melalui kegiatan revitalisasi kolam di halaman depan fakultas pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembenahan fasilitas budidaya sekaligus sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Program Studi Akuakultur. Revitalisasi dipandu oleh alumni Akuakultur angkatan 2021, Muhammad Syarif Satriyo Samudra, S.Pi.,, bersama dosen Departemen Akuakultur Daruti Dinda Nindarwi, S.Pi., M.P. Sebanyak 30 mahasiswa dari angkatan 2023, 2024, dan 2025 terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Turut hadir pula Dekan FPK UNAIR Prof. Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., M.P. serta Wakil Dekan II Kustiawan Tri Pursetyo, S.Pi., M.Vet., Ph.D. yang ikut meninjau dan terjun langsung ke lapangan.

Kegiatan revitalisasi kolam ini dilaksanakan sebagai upaya menyiapkan kembali fasilitas budidaya agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran mahasiswa. Kolam di lingkungan fakultas tidak hanya difungsikan sebagai sarana praktik, tetapi juga menjadi ruang belajar aplikatif yang mempertemukan teori perkuliahan dengan pengalaman lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami secara langsung tahapan teknis pengelolaan tambak, mulai dari persiapan kolam budidaya sebelum benih masuk. 

Belajar Budidaya Langsung dari Lapangan

Daruti Dinda Nindarwi menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja melibatkan mahasiswa dari berbagai angkatan agar mereka dapat merasakan pengalaman kerja lapangan sekaligus memperkuat proses regenerasi di lingkungan akademik. Menurutnya, pembelajaran di bidang akuakultur tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga perlu didukung dengan pengalaman langsung di lapangan agar mahasiswa memahami kondisi riil yang akan dihadapi dalam dunia budidaya.

“Mahasiswa yang ikut dalam kegiatan ini berasal dari angkatan 2023, 2024, dan 2025. Tujuannya supaya semua mahasiswa dari berbagai angkatan bisa merasakan langsung bagaimana bekerja di lapangan, sekaligus mendukung regenerasi. Selain itu, kami juga ingin mereka memahami bahwa belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga dengan melihat dan mengenal langsung berbagai kasus yang ada di lapangan,” ujarnya.

Bagi mahasiswa Akuakultur, keterlibatan dalam revitalisasi kolam menjadi pengalaman penting karena mereka dapat melihat secara nyata bagaimana fasilitas budidaya dipersiapkan sebelum digunakan. Kegiatan semacam ini memberi pemahaman mengenai kondisi dasar tambak, pengelolaan saluran air, serta langkah-langkah teknis yang harus diperhatikan agar budidaya dapat berjalan dengan baik.

Revitalisasi Kolam Dimulai dari Pembenahan Dasar Tambak

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memulai agenda dengan melakukan pengangkatan tanah atau lumpur dari area tambak. Proses ini dilakukan pada beberapa titik yang mengalami penumpukan sehingga berpotensi mengganggu kondisi dasar tambak. Muhammad Syarif Satriyo Samudra menuturkan bahwa pengangkatan lumpur menjadi tahap awal yang penting dalam revitalisasi karena berkaitan langsung dengan kesiapan lahan untuk budidaya berikutnya.

“Agenda kegiatan pertama adalah mengambil tanah dari tambak karena ada beberapa bagian yang mengalami penumpukan. Target kami kurang lebih sekitar 300 sak,” ujarnya.

Setelah pengangkatan lumpur, kegiatan dilanjutkan dengan pembenahan jalur pembuangan air tambak untuk memastikan sirkulasi air dapat berjalan dengan baik. Tahap ini penting dalam mendukung pengelolaan kualitas air selama proses budidaya. Selain memperbaiki alur pembuangan, tanah berlebih di bagian tengah tambak juga diangkat agar kondisi dasar kolam menjadi lebih rata dan siap digunakan kembali. Tahapan revitalisasi berikutnya akan dilanjutkan dengan pengapuran sebagai bagian dari persiapan dasar tambak sebelum air dimasukkan kembali.

Kolaborasi Akademik dan Praktik Industri

Kegiatan ini juga memperlihatkan sinergi antara dunia akademik dan praktik industri. Kehadiran Muhammad Syarif Satriyo Samudra sebagai alumni sekaligus praktisi budidaya memberikan perspektif lapangan kepada mahasiswa mengenai penerapan ilmu akuakultur dalam dunia usaha. Saat ini, Satriyo berkiprah sebagai direktur muda PT Rejeki Bintang Samudra yang bergerak di bidang budidaya Gracilaria verrucosa dan bandeng berbasis ekonomi biru.

Di sisi lain, Daruti Dinda Nindarwi turut menghadirkan perspektif akademik sekaligus pengalaman industri melalui kiprahnya sebagai dosen, peneliti, dan entrepreneur di bidang akuakultur. Kolaborasi antara dosen, alumni, mahasiswa, dan pimpinan fakultas menunjukkan komitmen FPK UNAIR dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan lapangan.

Melalui revitalisasi kolam ini, FPK UNAIR tidak hanya melakukan pembenahan fasilitas budidaya, tetapi juga memperkuat pengalaman belajar mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen fakultas dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education melalui pembelajaran berbasis praktik, serta SDG 17 tentang Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, alumni, dan pimpinan fakultas. Ke depan, revitalisasi kolam diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran akuakultur yang lebih aplikatif, sekaligus menyiapkan mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia perikanan dan budidaya.

Rated 5 out of 5