Close
Pendaftaran
FPK UNAIR
  • English
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Revolutionizing Shrimp Farming: Probiotics Save the Day for Vaname Shrimp in Indonesia

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Revolutionizing Shrimp Farming: Probiotics Save the Day for Vaname Shrimp in Indonesia

Bagikan

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang laut yang memiliki nilai ekonomis cukup penting di Indonesia selain udang windu (Penaeus monodon), udang putih (Penaeus merguiensis).  Dua jenis udang yang disebut terakhir adalah jenis udang asli Indonesia, sementara udang vaname bukanlah udang asli Indonesia.  Udang ini masuk ke Indonesia ketika budidaya udang windu mengalami penurunan produksi cukup tinggi akibat serangan penyakit “White Spot”.yang disebabkan oleh virus WSSV (White Spot Syndrome Virus), yang hingga hari ini belum ada obatnya. Udang vaname semakin banyak dibudidaya oleh para petambak udang dan menjadi primadona produksi perikanan di Indonesia.

Tanggulrejo adalah salah satu daerah di Kabupaten Gresik, tepatnya di Kecamatan Manyar yang sebagian penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani tambak ikan dan udang, Tambak di desa Tanggul Rejo terdiri tambak air tawar dan payau.  Dari luasan tambak yang ada di desa Tanggul Rejo digunakan sebagian besar untuk budidaya ikan nila, bandeng dan udang. Teknologi yang diterapkan oleh petani tambak dalam memelihara udang adalah teknologi tradisional dan tradisional plus (Satyantini dkk, 2018).

Akhir-akhir ini petani tambak udang di daerah Desa Tanggulrejo banyak mengeluh karena kegagalan produksi udang.  Hal ini dikarenakan keterbatasan sumebr air dan penurunan kualitas air yang akhirnya memunculkan serangan penyakit pada udang vaname yang mereka budidayakan. Air yang digunakan untuk budidaya udang vaname berasal dari sungai yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan yang banyak menerima limbah dari kegiatan di wilayah Kabupaten Lamongan maupun industry yang ada di sekitarnya. Keterbatasan air ini mengakibatkan petani tambak tidak dapat melakukan proses ganti air pada saat tambak udang membutuhkan ganti air, sehingga menimbulkan permasalahan penurunan kualitas air pemeliharaan udang vaname.

Melihat permasalahan tersebut saya dan tim melakukan kegiatan pengenalan dan aplikasi penggunaan probiotik pada budidaya udang vaname di daerah tersebut.  Pada kegiatan ini petani tambak dikenalkan memelihara udang vaname pada bak terpal plastik yang bisa diterapkan di halaman depan atau belakang rumah penduduk dengan pemberian probiotik.  Selain itu juga diajarkan bagaimana menyiapkan probiotik yang akan digunakan.

Gambar 1. Kolam terpal pemeliharaan udang vaname (A), kualitas air selama pemeliharaan(B)

Pemeliharaan dilakukan selama dua bulan tanpa proses ganti air, mengingat keterbatasan air yang ada di daerah tersebut.  Selama pemneliharaan hanya melakukan penambahan air akibat proses penguapan sinar matahari. Pemeliharaan udang vaname dilakukan selama satu setengah bulan dan memberikan tingkat kelangsungan hidup di atas 80%.

Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa pemeliharaan udang dengan menggunakan terpal plastik dengan pemberian probiotik dapat menjawab masalah keterbatasan air yang menjadi permasalahan dalam budidaya udang selama ini.  Dengan demikina usaha budidaya dengan menggunakan lahan sempit dan air terbatas dapat menjadi alternatif keberlanjutan budidaya udang vaname.

Gambar 2. Ukuran udang vaname saat panen

Referensi

Satyantini W.H., G. Mahadsri., A.T. Mukti dan M. Browijoyo.  2018.  PKM Kemandirian Pembudidaya Tambak Dalam Penyediaan Probiotik Dalam Mendukung Produksi Udang Di Desa Tanggulrejo Kecamatan Manyar Gresik. Laporan Akhir.

Penulis:

Dr. Woro Hastuti Satyantini
(Departemen Manajemen Kesehatan Ikan dan Budidaya Perairan)
Email: woro_hs@fpk.unair.ac.id

5/5