Surabaya – Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) terus memperkuat langkah menuju pendidikan tinggi yang berdaya saing global. Salah satunya melalui Strategic Meeting bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) pada Senin, 24 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk memperluas jejaring akademik, membuka peluang kolaborasi internasional, serta mendukung pengalaman pembelajaran lintas negara bagi mahasiswa.
Kedatangan delegasi dari Malaysia disambut oleh jajaran pimpinan dan sivitas akademika FPK UNAIR. Wakil Dekan II FPK UNAIR, Kustiawan Tri Pursetyo, S.Pi., M.Vet., Ph.D., bersama Faculty Ambassador dan para ketua departemen turut hadir dalam agenda tersebut. Pertemuan berlangsung di lingkungan FPK UNAIR dengan suasana hangat dan dialogis sebagai langkah awal untuk saling mengenal potensi institusi masing-masing.
Kustiawan menyampaikan bahwa pertemuan tiga perguruan tinggi tersebut memiliki arti penting dalam membangun hubungan akademik yang lebih luas.
“Pertemuan ini menjadi kesempatan yang baik untuk saling mengenal sekaligus membuka peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.
Melalui Strategic Meeting ini, ketiga institusi membahas potensi kolaborasi di bidang pendidikan, pengembangan kompetensi mahasiswa, pertukaran pengalaman akademik, hingga penguatan jejaring internasional dalam bidang perikanan dan kelautan.
Memperkenalkan Potensi Akademik FPK UNAIR
Agenda dilanjutkan dengan pengenalan profil FPK UNAIR oleh Dwi Yuli Pujiastuti, S.Pi., M.Si., M.Sc., selaku Faculty Ambassador. Dalam pemaparannya, Dwi memperkenalkan perkembangan FPK UNAIR sebagai salah satu fakultas yang berfokus pada pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang perikanan serta kelautan.
Selain memperkenalkan fakultas secara umum, Abdul Manan, S.Pi., M.Si., Ph.D., selaku Koordinator Program Studi Akuakultur, turut memaparkan profil Program Studi Akuakultur kepada perwakilan UKM dan UiTM. Pemaparan tersebut mencakup bidang keilmuan, kompetensi tenaga pengajar, serta potensi pengembangan kerja sama akademik dan penelitian di bidang akuakultur.
Pertukaran informasi tersebut menjadi bagian penting dalam Strategic Meeting karena membuka kesempatan bagi masing-masing institusi untuk mengidentifikasi bidang keunggulan yang dapat dikolaborasikan. Kolaborasi lintas negara dinilai mampu memperluas akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan pengalaman praktis yang relevan dengan perkembangan sektor perikanan dan kelautan.
Kerja sama semacam ini juga berpotensi mendukung pencapaian berbagai agenda pembangunan berkelanjutan. Penguatan pendidikan dan kompetensi sumber daya manusia dapat berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kapasitas dan peluang kerja di sektor perikanan. Di sisi lain, pengembangan akuakultur berkelanjutan memiliki relevansi dengan ketahanan pangan, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pemanfaatan sumber daya perairan secara bertanggung jawab.
Mahasiswa UiTM Jalani Internship di Indonesia
Salah satu bentuk nyata dari kolaborasi tersebut adalah program internship bagi tiga mahasiswa UiTM. Ketiga mahasiswa tersebut akan menjalani kegiatan magang selama lima bulan di Instalasi Budidaya Air Payau (IBAP) Probolinggo dan IBAP Raci.
Program internship ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam praktik budidaya perikanan di Indonesia. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai pengelolaan sistem budidaya, penerapan teknologi, serta berbagai praktik yang berkembang di sektor akuakultur.
Dr. Sharifah Raina binti Manaf selaku dosen penanggung jawab mahasiswa UiTM menyampaikan harapannya terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Kami berharap pengalaman praktik di Indonesia dapat memperluas wawasan mahasiswa dan memperkuat pemahaman mereka tentang budidaya perikanan,” tuturnya.
Kegiatan internship ini menjadi contoh implementasi kerja sama internasional yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran institusi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa. Interaksi akademik dan praktik lapangan diharapkan mampu membentuk lulusan yang memiliki perspektif global serta memahami tantangan dan peluang sektor perikanan di berbagai negara.
Penguatan kemitraan antara FPK UNAIR, UKM, dan UiTM sejalan dengan semangat SDGs 17: Partnerships for the Goals melalui pembangunan kerja sama lintas institusi dan negara. Selain itu, pengembangan kapasitas di bidang akuakultur juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 1: No Poverty dan SDGs 2: Zero Hunger melalui penguatan potensi sektor perikanan sebagai sumber ekonomi dan pangan. Lebih lanjut, pengembangan praktik budidaya yang adaptif dan berkelanjutan dapat mendukung SDGs 13: Climate Action, sementara pengelolaan sumber daya perairan secara bertanggung jawab turut berkontribusi terhadap SDGs 14: Life Below Water. Dengan demikian, kolaborasi internasional tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga membuka ruang untuk bersama-sama menjawab tantangan pembangunan sektor perikanan dan kelautan di masa depan.
Ke depan, FPK UNAIR berharap komunikasi dan kemitraan dengan UKM serta UiTM dapat terus berkembang melalui berbagai program bersama, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian kolaboratif, hingga pengembangan inovasi di bidang perikanan dan kelautan.
Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting : TPA







