Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

TROFIA 2026 Hari Kedua: FPK UNAIR Hadirkan Kuliah Internasional dan Praktik Kreatif Akuakultur Tropis

Bagikan

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) kembali melanjutkan rangkaian Tropical Fisheries and Aquaculture (TROFIA) 2026 melalui berbagai kegiatan akademik dan praktik interaktif pada hari kedua pelaksanaan program. Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga ini menghadirkan pengalaman pembelajaran lintas disiplin bagi mahasiswa internasional melalui perpaduan kuliah akademik, pengolahan produk perikanan, hingga praktik aquascape berbasis ekosistem perairan.

TROFIA 2026 merupakan program inbound internasional yang dirancang untuk memperkenalkan pengembangan perikanan dan akuakultur tropis berkelanjutan kepada mahasiswa mancanegara. Program ini diikuti oleh peserta dari Malaysia, Thailand, dan Filipina yang berasal dari berbagai perguruan tinggi mitra di Asia Tenggara. Melalui kegiatan akademik dan praktik lapangan, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami potensi sumber daya perairan tropis Indonesia sekaligus memperluas jejaring internasional di bidang perikanan dan kelautan.

Kuliah Internasional Bahas Akuakultur Thailand dan Bioteknologi Perairan

Rangkaian kegiatan hari kedua diawali dengan sesi akademik yang menghadirkan sejumlah akademisi internasional dari Thailand dan Malaysia. Materi pertama disampaikan oleh Dr. Sukkrit Nimitkul dari Kasetsart University melalui kuliah bertajuk “Thailand’s Aquaculture Industry: Current Status and Future Directions”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perkembangan industri akuakultur Thailand, tantangan yang dihadapi sektor budidaya perairan, serta arah pengembangan teknologi dan keberlanjutan industri akuakultur di masa mendatang.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Dr. Sawika Kunlapapuk dari Silpakorn University dengan materi “Endemic Fishes of Suan Phueng, Ratchaburi, Thailand”. Melalui kuliah tersebut, peserta diperkenalkan pada keanekaragaman ikan endemik di wilayah Suan Phueng, Thailand, serta pentingnya konservasi sumber daya perairan lokal sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem akuatik. Dalam sesi ini juga berlangsung diskusi yang menarik ketika para peserta menanyakan mengenai aspek etika dalam memindahkan spesies endemik ke wilayah baru yang dianggap memiliki kondisi lingkungan lebih baik guna mempertahankan populasinya. Menanggapi hal tersebut, Dr. Sawika menegaskan bahwa upaya tersebut harus melalui kajian ekologis yang mendalam dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan, karena introduksi spesies baru berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan setempat apabila tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan, interaksi antarspesies, serta keberadaan biota asli di wilayah tujuan.

Menjelang siang, peserta mengikuti kuliah dari Dr. Nazrin Abd Aziz dari Universiti Teknologi Malaysia bertajuk “Biopharming: Towards Plant-Made Pharmaceutical Protein in Aquatic Plant Species”. Dalam pemaparannya, beliau menitikberatkan pada pengembangan bioteknologi tanaman akuatik sebagai sistem produksi protein rekombinan yang ditujukan untuk mendukung ketahanan dan kesehatan tumbuhan, bukan aplikasi klinis pada manusia. Ia menjelaskan bagaimana pendekatan plant-made pharmaceutical proteins dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan resistensi tanaman terhadap patogen serta mendukung inovasi berbasis sumber daya perairan secara berkelanjutan. 

Melalui rangkaian sesi akademik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan teoritis mengenai perkembangan akuakultur tropis, tetapi juga memahami pentingnya inovasi dan riset internasional dalam mendukung keberlanjutan sektor perikanan global.

Praktik Pembuatan Sirup Mangrove Bersama Fisheries Processing Club

Setelah sesi akademik, peserta mengikuti praktik interaktif pembuatan sirup mangrove yang dipandu langsung oleh mahasiswa Fisheries Processing Club (FPC) FPK UNAIR. FPC merupakan organisasi mahasiswa yang berfokus pada pengolahan hasil perikanan, inovasi produk pangan, serta pengembangan kreativitas berbasis sumber daya perairan. Dalam kegiatan tersebut, anggota FPC memperkenalkan potensi pemanfaatan mangrove sebagai produk olahan bernilai ekonomi. Peserta didampingi mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga tahapan akhir pembuatan sirup mangrove. Selain memperoleh pengalaman praktik secara langsung, peserta juga berkesempatan mencicipi hasil olahan yang telah dibuat bersama. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemanfaatan sumber daya pesisir secara keseluruhan sekaligus memperlihatkan potensi pengembangan produk inovatif berbasis ekosistem mangrove.

Praktik Aquascape Bersama KAKEMA FPK UNAIR

Pada sesi berikutnya, peserta mengikuti praktik aquascape yang dipandu oleh mahasiswa Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) FPK UNAIR. KAKEMA merupakan badan semi otonom di lingkungan FPK UNAIR yang berfokus pada pengembangan akademik, keilmiahan, dan budidaya perairan. Dalam praktik tersebut, peserta diperkenalkan pada proses penyusunan ekosistem mini di dalam akuarium dengan memperhatikan keseimbangan biologis dan estetika lingkungan perairan. Peserta didampingi mulai dari pelapisan rumah bakteri atau pupuk dasar, penataan substrat, penanaman tanaman aquascape, pengisian air secara bertahap, hingga proses memasukkan ikan ke dalam akuarium.Melalui praktik aquascape, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem akuatik dan pengelolaan lingkungan perairan secara berkelanjutan.

Implementasi SDGs dalam TROFIA 2026 

Pelaksanaan TROFIA 2026 turut mencerminkan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 14 (Life Below Water) melalui berbagai kegiatan yang menekankan pentingnya konservasi sumber daya perairan, keberlanjutan ekosistem akuatik, serta pengelolaan lingkungan pesisir dan budidaya secara bertanggung jawab. Materi mengenai ikan endemik Thailand, praktik aquascape, hingga pengenalan produk berbasis mangrove menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Selain itu, TROFIA 2026 juga merefleksikan implementasi SDGs 17 (Partnerships for The Goals) melalui kolaborasi antara FPK UNAIR dengan berbagai perguruan tinggi internasional di kawasan Asia Tenggara. Program ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman akademik, dan budaya yang memperkuat jejaring internasional serta membuka peluang kerja sama berkelanjutan di bidang perikanan dan akuakultur tropis.

Salah satu peserta TROFIA 2026, Muhammad Adam dari Universiti Kebangsaan Malaysia, menyampaikan bahwa kegiatan yang diikuti memberikan pengalaman baru yang tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai budaya dan praktik akuakultur di Indonesia. Menurutnya, sesi praktik seperti pembuatan sirup mangrove dan aquascape menjadi pengalaman menarik karena peserta dapat belajar secara langsung melalui pendekatan interaktif bersama mahasiswa FPK UNAIR. Ia juga menilai bahwa TROFIA menjadi wadah yang baik untuk membangun relasi dan pertukaran pengetahuan antarmahasiswa dari berbagai negara.

 

Rangkaian kegiatan hari kedua kemudian ditutup dengan sesi refleksi sebelum peserta kembali ke hotel untuk melanjutkan agenda pembelajaran pada hari berikutnya.

Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr

Editor : TPA

Rated 5 out of 5