Bangkalan – Praktikum lapang mahasiswa Program Studi Akuakultur peminatan Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga di kawasan wisata Labuhan Mangrove Jung Koneng, Bangkalan, Madura, tidak hanya menjadi ruang pembelajaran akademik mengenai oseanografi dan ekologi laut tropis. Di tengah kegiatan observasi lapangan, mahasiswa dan dosen juga melakukan aksi nyata kepedulian lingkungan melalui kegiatan beach and mangrove clean up.
Kegiatan bersih pantai dan kawasan mangrove tersebut diinisiasi secara spontan setelah mahasiswa menemukan cukup banyak sampah yang terbawa aliran sungai dan menumpuk di area mangrove. Sebagai ekosistem pesisir yang berada di wilayah muara dan perlintasan aliran air dari daratan menuju laut lepas, kawasan mangrove sering kali menjadi titik akhir akumulasi sampah domestik, terutama sampah plastik.
Kondisi tersebut menjadi refleksi langsung bagi mahasiswa mengenai keterkaitan antara aktivitas manusia dengan kesehatan ekosistem laut. Selama proses praktikum, mahasiswa tidak hanya mengukur parameter oseanografi dan kondisi lingkungan, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana pencemaran dapat memengaruhi kualitas habitat pesisir.
Dalam kegiatan clean up tersebut, mahasiswa bersama dosen pendamping secara aktif mengumpulkan sampah yang tersebar di sekitar kawasan pantai dan mangrove. Aksi sederhana tersebut menjadi bentuk implementasi nyata dari nilai kepedulian lingkungan yang selama ini dipelajari dalam perkuliahan.
Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., selaku salah satu dosen pengajar peminatan Ilmu dan Teknologi Kelautan menyampaikan bahwa kesehatan laut tidak hanya ditentukan oleh proses alami, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku manusia dalam menjaga lingkungan. “Kesehatan laut yang kalian ukur itu tidak hanya karena Tuhan. Tapi karena suatu langkah yang biasanya manusia anggap kecil yaitu dengan membuang sampah pada tempatnya. Kita dapat mulai dari hal-hal kecil yaitu dengan kesadaran masing-masing mengurangi penggunaan plastik dan pembuangan sampah pada tempatnya,” ujarnya saat kegiatan beach clean up berlangsung.
Pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa upaya pelestarian lingkungan laut harus dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa diajak memahami bahwa ilmu kelautan tidak hanya berbicara mengenai penelitian dan data ilmiah, tetapi juga mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Kegiatan ini selaras dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water melalui upaya menjaga ekosistem pesisir dari ancaman sampah laut. Selain itu, aksi clean up ini juga mendukung SDG 13: Climate Action karena pengelolaan sampah yang baik menjadi bagian penting dalam pengurangan dampak perubahan iklim dan pencemaran lingkungan. Kegiatan kolaboratif antara mahasiswa dan dosen ini juga mencerminkan implementasi SDG 17: Partnerships for The Goals melalui sinergi akademik dalam menciptakan aksi lingkungan yang berdampak nyata.
Tidak hanya menjadi kegiatan akademik, praktikum lapang ini berhasil membangun kesadaran mahasiswa akan pentingnya menjaga ekosistem sebagai calon akademisi dan praktisi perikanan di masa depan. Pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang lebih peduli terhadap keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut Indonesia.
Melalui pembelajaran yang terintegrasi antara ilmu pengetahuan dan aksi nyata dalam dunia konservasi di lapangan, FPK UNAIR terus mendorong terciptanya generasi muda kelautan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Penulis : Farrel Bhanu Mahardhika
Penyunting : TPA




