Setelah pembukaan kegiatan oleh Wakil Dekan III FPK UNAIR, rangkaian Pelatihan Penulisan Berita dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Khefti Al Mawalia, S.I.Kom., M.Ed.Kom. dari selaku editor dari Pusat Humas dan Media Publik (PHMP) Universitas Airlangga. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pembekalan mengenai dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, hingga strategi publikasi yang efektif untuk mendukung penyebarluasan informasi institusi.
Materi yang disampaikan dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai proses produksi berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai publikasi yang tinggi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FPK UNAIR dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa sebagai kontributor media fakultas sekaligus agen diseminasi informasi di lingkungan akademik.
Khefti menjelaskan bahwa publikasi institusi memerlukan pendekatan yang berbeda dengan praktik jurnalistik pada media massa. Dalam konteks perguruan tinggi, publikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai media untuk membangun reputasi, memperluas jangkauan informasi, serta memperkenalkan berbagai capaian akademik kepada masyarakat.
Memahami Public Relations Journalism
Pada awal pemaparannya, Khefti memperkenalkan konsep Public Relations Journalism yang menjadi salah satu fondasi dalam publikasi institusi pendidikan. Ia menjelaskan bahwa praktik penulisan berita di lingkungan kampus harus mampu mengkombinasikan prinsip-prinsip jurnalistik dengan tujuan komunikasi kelembagaan.
Menurutnya, seorang penulis berita kampus tidak hanya bertugas melaporkan sebuah peristiwa, tetapi juga perlu memahami pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik. Oleh karena itu, setiap berita harus memiliki sudut pandang yang jelas, relevan, dan memberikan manfaat bagi pembaca.
Khefti juga menjelaskan perbedaan mendasar antara profesi jurnalis dan praktisi hubungan masyarakat (public relations). Jurnalis berfokus pada penyajian informasi secara independen untuk kepentingan publik, sedangkan praktisi public relations bertugas mengelola komunikasi organisasi serta membangun hubungan yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan. Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, keduanya tetap mengedepankan prinsip akurasi, kredibilitas, dan kejelasan informasi.
Pentingnya News Value dalam Sebuah Berita
Salah satu materi utama yang dibahas adalah mengenai news value atau nilai berita. Khefti menekankan bahwa tidak semua kegiatan secara otomatis layak diberitakan. Sebuah informasi perlu memiliki unsur tertentu agar menarik perhatian publik dan layak dipublikasikan.
Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan sebuah berita, antara lain dampak (impact), kedekatan (proximity), ketokohan (prominence), human interest, serta nilai informatif. Semakin besar pengaruh suatu peristiwa terhadap masyarakat atau kelompok tertentu, maka semakin tinggi pula nilai beritanya.
Dalam konteks publikasi kampus, mahasiswa didorong untuk lebih menonjolkan dampak kegiatan, inovasi, hasil penelitian, maupun kontribusi yang diberikan kepada masyarakat dibandingkan hanya berfokus pada dokumentasi acara. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan berita yang lebih kuat dan memiliki daya tarik yang lebih tinggi bagi pembaca.
Selain itu, peserta juga diajak memahami bagaimana menentukan sudut pandang berita yang tepat agar informasi yang disampaikan memiliki fokus yang jelas. Pemilihan angle pemberitaan menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi cara pembaca memahami suatu peristiwa.
Teknik Menulis Berita yang Efektif
Dalam sesi berikutnya, Khefti membahas berbagai teknik dasar penulisan berita yang perlu dikuasai oleh mahasiswa. Ia menekankan bahwa setiap berita harus memenuhi unsur 5W+1H, yaitu what, who, when, where, why, dan how. Keenam unsur tersebut menjadi pondasi utama dalam menyusun informasi secara lengkap dan mudah dipahami.
Peserta juga diperkenalkan dengan struktur piramida terbalik yang umum digunakan dalam dunia jurnalistik. Melalui struktur ini, informasi yang paling penting ditempatkan pada bagian awal tulisan, kemudian diikuti informasi pendukung pada paragraf-paragraf berikutnya. Metode tersebut memudahkan pembaca memperoleh inti informasi sejak awal membaca berita.
Selain itu, Khefti menjelaskan pentingnya penggunaan judul yang singkat, aktif, dan langsung menggambarkan isi berita. Menurutnya, judul merupakan elemen pertama yang menentukan ketertarikan pembaca untuk melanjutkan membaca sebuah artikel.
Pembahasan lain yang tidak kalah penting adalah penggunaan kutipan narasumber. Khefti menjelaskan bahwa kutipan berfungsi untuk memperkuat fakta, memberikan perspektif tambahan, sekaligus meningkatkan kredibilitas sebuah berita. Oleh karena itu, penulis perlu memastikan bahwa kutipan yang digunakan relevan dengan konteks pemberitaan dan mampu mendukung pesan utama yang ingin disampaikan.
“Berita yang baik bukan hanya menceritakan apa yang terjadi, tetapi juga menjelaskan mengapa informasi tersebut penting untuk diketahui publik,” jelas Khefti Al Mawalia, S.I.Kom., M.Ed.Kom. saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan.
Melalui berbagai materi yang diberikan, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses penulisan berita yang profesional dan sesuai dengan kebutuhan publikasi institusi. Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemberitaan yang dihasilkan oleh ORMAWA, BSO, maupun Tim Magang Humas Media Centre FPK UNAIR. Ke depan, peserta diharapkan dapat mengimplementasikan keterampilan yang diperoleh untuk menghasilkan publikasi yang informatif, akurat, dan menarik sehingga berbagai kegiatan serta capaian FPK UNAIR dan dapat tembus ke media regional maupun nasional . Upaya ini sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara organisasi kemahasiswaan dan institusi dalam mendukung diseminasi informasi yang berkualitas.
Penulis : Alejandro Ahmad Zuhayr
Editor : TPA




