Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Reading the Ocean Without Exploitation: Mahasiswa FPK UNAIR Belajar Sampling eDNA di dalam Kapal Riset

Bagikan

Sembilan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) mengikuti program internasional e-START yang diselenggarakan oleh Hiroshima University International Education Program pada 4–31 Maret 2026. Mengusung tema Sustainable Use of Marine Fishery Resources: Studies through Oceanographic Observation, program ini menghadirkan pengalaman belajar lintas negara yang dikemas secara interaktif.

Mahasiswa yang terlibat berasal dari Program Studi Akuakultur, yakni Farrel Bhanu Mahardhika, Muhammad Rizkia Eirmanto, Vanessa Syalomitha Shareefa, Moch Birr Bik Maylandry, Prasasti Briliandini, Calila Fausta Artimivira S., dan Nandiny Auliya Rahmah. Sementara itu, dua mahasiswa dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, yakni Shakira Desifa Arditya dan Luhur Gadis Fil Fadhlillah, turut berpartisipasi dalam program tersebut.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai sesi perkuliahan internasional. Salah satu sesi dibawakan oleh Dr. Gustavo Sanchez dari Okinawa Institute of Science and Technology dengan topik environmental DNA (eDNA) and its application on cephalopods resource management. Meskipun dilaksanakan secara daring, peserta tetap dapat merasakan atmosfer practical training melalui live demonstration dari kapal riset Toyoshio Maru milik Hiroshima University, Jepang.

Dalam pemaparannya, Dr. Gustavo memperkenalkan environmental DNA (eDNA) sebagai pendekatan molekuler yang memungkinkan peneliti mengenali keberadaan organisme laut hanya dari jejak material genetik di lingkungan. Jejak tersebut dapat berasal dari mucus, skin debris, hingga metabolic waste yang terdispersi di perairan, sehingga identifikasi spesies dapat dilakukan tanpa perlu penangkapan langsung pada organisme target.

Pengalaman belajar ini terasa semakin nyata ketika peserta diajak menyaksikan live demonstration dari Hiroshima Bay. Melalui layar, mahasiswa mengikuti proses sampling air laut menggunakan Niskin Bottle, yang kemudian difiltrasi dengan enclosed membrane system seperti Sterivex filters. Dari tahapan tersebut, peserta dapat melihat bagaimana sampel sederhana berupa air laut dapat diubah menjadi data ilmiah yang merepresentasikan kehidupan di dalamnya.

Lebih jauh, Dr. Gustavo menjelaskan bahwa analisis eDNA melibatkan proses filtrasi, isolasi DNA, hingga amplifikasi menggunakan specific primers. Metode ini tidak hanya mampu mendeteksi spesies dalam jumlah sangat kecil, tetapi juga membuka peluang untuk mengungkap cryptic diversity, keanekaragaman yang tidak terlihat secara morfologi. Dengan kata lain, satu sampel air dapat “menceritakan” banyak hal tentang biodiversitas suatu ekosistem.

Topik ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan kondisi cephalopods seperti squid dan octopus yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi. Di tengah tekanan overfishing dan climate change, metode seperti eDNA menawarkan cara pemantauan yang lebih efisien, non-destructive, dan berbasis data ilmiah untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Melalui pengalaman ini penulis yang juga peserta menyadari bahwa laut tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya yang dieksploitasi, tetapi juga sebagai sistem yang menyimpan informasi ilmiah yang kompleks. Pendekatan eDNA memungkinkan pemantauan ekosistem laut secara efisien dan bersifat non-destructive.

Program ini mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari lima negara yaitu Malaysia, Indonesia, Peru, Taiwan, dan Jepang dalam satu ruang belajar lintas budaya. Kehadiran Universiti Putra Malaysia, Universitas Airlangga, National University of San Marcos, National Taiwan Ocean University, Shizuoka University dan Hiroshima University memperkaya perspektif peserta sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam menjawab tantangan global di bidang kelautan.

Keikutsertaan mahasiswa FPK UNAIR dalam program ini mencerminkan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui akses pendidikan internasional, SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan kapasitas dalam pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, SDG 13 (Climate Action) melalui pemahaman dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi global antar institusi pendidikan.

Penulis: Shakira Desifa Arditya

Editor: ALN, FBM, dan TPA

Rated 5 out of 5